Home / Foto / Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimantan Barat

Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimantan Barat

Oleh Hambali

MABMonline.org, Pontianak – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berkerjasama dengan Balai Kajian Sejarah Kalimantan Barat mengadakan workshop. Adapun tema yang diangkat pada workshop ini adalah “Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimatan Barat”. Worksop ini dilaksanakan pada tanggal 15-17 Desember 2013 di hotel Orchardz dengan peserta dari lembaga atau instansi yang berkaitan dengan ranah kebudayaan.

Pembicara memaparkan materi (Foto Hambali)
Pembicara memaparkan materi (Foto Hambali)

Pelaksanaan workshop ini menghadirkan beberapa narasumber yang membahas budaya damai di Kalimantan Barat. Adapun narasumber tersebut yaitu Ito Prajana Nugroho, Donatius, Gusti Suriyansah, Musfeptial, dan A. Halim A.R. Beragam materi yang membahas internalisasi budaya damai di Kalimatan Barat disampaikan narasumber. “Perdamaian sebagai Titik Tengah di Antara Kepentingan Diri dan Keniscayaan Tatanan” merupakan pembahasan yang disampaikan oleh Ito Praja Nugroho. Kemudian Donatiaus menyampaikan tentang “Internalisasi Nilai Budaya Damai dalam Mewujudkan Budaya Damai”. Di samping itu tidak kalah menariknya makalah tentang “Kearifan Masyarakat Setempat dan Lokal” disampaikan oleh Gusti Suryansyah. Pemaparan makalah terakhir diisi oleh bapak A. Rahim R. tentang “Internalisai Nilai Budaya Melalui Ungkapan Tradisional”.

Tarian antar etnis pembuka workhsop
Tarian antar etnis pembuka workhsop (Foto Hambali)

Pembahasan berberapa narasumber bertujuan untuk memaparkan bagaimana internalisai budaya damai di Kalimantan Barat. Menurut Gusti Suryansah, untuk mencapai budaya damai itu hendaklah diawali dengan penanaman nilai budaya yang baik oleh masyarakat sehingga terbentuk karakter yang membawa kedamaian di suatu masyarakat atau bangsa. Hal ini terutama dengan penanaman budya lokal karena budaya lokal ini sangat berpengaruh dalam membentuk karakter masyarakat setempat.

Beberapa narasumber lainnya menyatakan bahwa budaya damai dapat juga dibentuk melalui penerapan ungkapan tradisonal dan budaya bercerita. Hal ini dikarenakan dengan penerapan tersebut menjadi sarana untuk membentuk karakter masyarakat, tidak saja di kalangan orang tua tetapi juga oleh generasi muda. Tidak dapat dipungkiri jika penerapan budaya bercerita misalnya hal ini dapat menyampaikan nilai-nilai yang baik atau mendidik generasi bangsa sejak ia kecil. Namun dirasakan saat ini  mengikisnya budaya tersebut dan generasi sekarang lebih suka terhadap teknologi yang berkembang sekarang. Jadi, tinggal bagaimana mengaplikasikan teknologi tersebut menjadi sumber kemajuan, bukan malah biang kemerosotan budaya dan karakter.

workhsop
Tema workshop “Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimantan Barat (Foto Hambali)

Semoga dengan pelaksanaan workshop ini dapat menjadikan masyarakat Kalimantan Barat, Indonesia sebagai masyarakat majemuk menjadi masyakat terhindar dari keretakan kedamaian. Sehingga sejalan dengan tujuan workshop ini yakni untuk internalisasi budaya damai. Budaya yang menciptakan kerukunan dan ketentraman dalam bermasyarakat, berbangasa dan bernegara.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *