Home / Budaya / Kain Corak Insang Khas Pontianak

Kain Corak Insang Khas Pontianak

Oleh: Endang Sri Rahayu Muji Rejeki

Kain Corak Insang
Kain Corak Insang (Foto: istimewa)


MABMonline.org, Pontianak 
— Sekolah kami akan ikut memeriahkan HUT Kota Pontianak yang ke-242. Untuk itu, seluruh guru dan staf serta siswa-siswi diwajibkan untuk menggunakan pakaian adat Melayu. Saya mengumumkan kepada siswa-siswi tentang pakaian yang harus dikenakan. Bagi laki-laki menggunakan baju Telok Belanga, sedangkan perempuan menggunakan baju Kurung.

“Baju Telok Belanga tu kayak gimane bu?” tanya siswa laki-laki.

“Baju Kurung tu kayak baju muslim ke bu?” tanya siswa perempuan.

Saya kebingungan menjawab pertanyaan siswa-siswi tersebut. Hal ini dikarenakan saya bukan orang asli Pontianak. Saya adalah orang dari Solo, Jawa Tengah yang tinggal di Pontianak. Tetapi karena saya juga diwajibkan menggunakan baju kurung mau tidak mau saya juga harus mencari tahu tentang baju kurung.

“Bu, baju Telok Belanga tu yang kayak gimane?” tanya saya kepada Bu Parmi salah satu guru di sekolah saya.

“Baju kemeja lengan panjang bawahannye juga celane panjang yang warnanye sama terus ditambah pake sarung corak insang,” jawab Bu Parmi.

“Kalo baju kurung tu yang kayak gimane, Bu?” tanya saya lagi.

“Kayak baju muslim be cume ndak bekancing, bawahannya pake kain corak insang,” jawab bu Parmi.

“Kain corak insang tu yang kayak gimane gak bu?” Tambah saya.

“Eh, cari jak di pasar tu banyak be.” Seru Bu Parmi.

Akhirnya saya segera meluncur ke pasar untuk mencari kain corak insang. Ketika melewati PSP saya melihat banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Kalimantan Barat. Saya mengujungi salah satu toko yang ada di sana, yang bernama Toko Batik Ulfa.

“Pak, disini ade jual kain corak insang ke?” tanya saya.

“Oh, ade Bu. Silahkan dilihat-lihat,” jawab Pak Iswansyah penjual di toko tersebut.

Sembari melihat-lihat saya bertanya tentang kain corak insang.

“Pak, kain corak insang ini kain khas Pontianak ke?”

“Iye bu, ini motif Melayu Pontianak,” jawab Pak Iswansyah.

“Kenape dikasi name corak insang, Pak?”

“Sepengetahuan saye Bu, motif kain ini terinspirasi dari insang ikan bu, makenye di kasi name motif corak insang,” jelas Pak Iswansyah.

“Motif Melayu Pontianak cume corak insang ini ke Pak?” tambah saya.

“Iye cume ini lah Bu, kalo tenun Sambas banyak motifnya. Ade motif mawar, melati, perang menang, mawar teputus, tabor awan, ular sawak, pucuk rebung, motif bintang pun ade gak. Kalo Ibu ingin tahu banyak tentang kain corak insang ibu bisa menghubungi Pak Nas rumahnya di Jl. Apel Gg. Mempelam,” jawab Pak Iswansyah.

“Oh, iye ke Pak. Makasih ye Pak, saya akan cobe datang kesana.”

Karena saya penasaran dengan sejarah kain corak insang, maka saya memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Nas. Ternyata tidak sulit mencarinya. Setelah sampai di rumah tersebut, saya melihat ada seorang laki-laki tua yang duduk di teras rumah. Usia laki-laki tersebut sekitar 60 tahunan tetapi masih kelihatan sehat dan segar.

“Assalamualaikum…..”

“Walaikum salam”.

“Maaf Pak, benar ke ini rumahnya Pak Nas?”

“Iye Bu, silahkan masuk. Ada apa ya, Bu?”

“Maksud kedatangan saya kemari, saya ingin bertanya tentang kain khas Pontianak yaitu corak insang.”

“Ape yang ingin Ibu ketahui tentang kain corak insang?”

“Begini Pak, saya ingin mencari informasi tentang sejarah kain corak insang.”

“Menurut sejarah kain corak insang ini awalnya dipakai oleh keluarga Kesultanan Pontianak. Kehidupan mayarakat sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan menjadikan ikan sebagai media ungkapan seni, termasuk di dalamnya dijabarkan dalam kain. Perkembangan selanjutnya tenun corak insang menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Pontianak dan berkembang menjadi berbagai corak insang, seperti: Insang Berantai, Insang Bertangkup, Insang Delima, Insang Awan, Insang Berombak dan Insang Bertapak Besar.”

“Oh, begitu ya Pak. Saya sangat berterima kasih sudah diberikan penjelasan tentang kain corak insang ini, Pak. Walaupun saya bukan orang Melayu tapi, saya juga ingin mengetahui kebudayaan Melayu karena saya tinggal di Pontianak.”

Akhirnya saya bisa merasa puas setelah bertemu dengan Pak Nas. Saya mendapatkan ilmu baru tentang kebudayaan Melayu, khususnya tentang kain corak insang.

(Dokumentasi Workshop Sejarah dan Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat 2013)



Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *