Home / Beranda / Kalbar Kehilangan Seorang Seniman Besar

Kalbar Kehilangan Seorang Seniman Besar

oleh Nur Iskandar

sataruddin ramli
Kabar duka datang dari bidang seni dan budaya di Kalimantan Barat. Seorang tokoh utama di teater Mendu yang juga Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Barat, “ayahanda” Satarudin Ramli menghembuskan napasnya yang terakhir pada pergantian waktu dini hari, Selasa, 6 Oktober 2015. Usianya 67 tahun dan memang beberapa waktu terakhir ini kesehatannya terganggu sehingga keluar masuk rumah sakit.

Pada saat dihelat Malam Apresiasi Seni dan Sastra di Pusdiklat TOP Indonesia saya mengundang “Pak Sata” panggilan akrabnya di acara kawula muda seni-sastra Kalbar, dan beliau menyambut positif. “Teroskan acaranye anande. Saye ni kebetolan baru’ keluar dari rumah saket dan sekarang haros banyak istirahat,” ungkapnya dengan aksen yang khas. Logat melayunya kental.

“Saket ape Yande?”

“Biaselah saket orang tue,” katanya dengan suara yang normal serta tertata. Tertata maksud saya adalah ciri khas atau kekhasan Pak Sata. Tata bahasa yang sistematis mencerminkan kepribadiannya yang rapih dan necis. Orangnya memang nyeni.

Saya memang tak kenal dekat dengan Pak Sata sedari kecil, namun sedari kecil itulah saya sudah mendengar nama besarnya. Khususnya seni sastra mendu. Mendu itu sejenis teater di atas panggung yang menghibur penonton dan hidup di kampung-kampung melayu, tak terkecuali di Kalbar. Nah, Pak Sata konsisten merawat mendu sehingga kerap muncul di media massa. Sewaktu kecil–sekira tahun 1980-an–ketika saya SD–sudah mendengar namanya dengan mendunya lewat siaran berita RRI. Dan ketika menjadi anggota dewan juri tokoh pendidikan dan kebudayaan di Sekretariat Daerah Cq Biro Sosial dalam lima tahun terakhir ini saya dekat dengannya. Dekat dalam satu tim bersama Dr Aswandi, Dr Rifat, Dr Clarisada, Yakobus Kumis, dan HA Halim Ramli serta Drs H Soedarto.

Saya kebetulan termuda di antara mereka sehingga mobile menggenapi ide-ide para senior tersebut. Terutama menjemput data berupa wawancara dlsb.

Selama lima tahun terakhir yang saya kenal sepanjang berpikir, berbuat dan berkarya bagi bidang pendidikan dan kebudayaan, bahwa Pak Sata konsisten di bidangnya–sampai akhir hayatnya. Yang saya tahu beliau punya proyek pentas mendu yang akan disuguhkan kepada publik di penghujung 2015. Namun begitulah ajal. Ajal tak pandang kapan dan di mana serta kepada siapa. Oleh karena itu dengan meninggalnya beliau saya pikir sedikit banyak proyek pentas mendu ini akan terganggu. Dan semoga ada kader yang meneruskan kepemimpinannya. Amiin.

Pentas mendu Pak Sata saya tonton ketika bersama Timo Duile dan Jonas (dua mahasiswa Jerman) di Rumah Melayu untuk pentas mendu tahun lalu. Di tengah kegiatan pentas itu saya sempat berbincang dengan Pak Sata dengan stelan jas model jaketnya yang berwarna gelap, bertopi dan merokok. Saat itu tampak beliau sangat menikmati kegembiraan bersama penonton, dan tentu juga bersama Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar, Prof Dr H Chairil Effendi. Saya katakan kepada Pak Sata, “Selamat Yande atas sambutan penonton yang luar biase ramainye, mendu hidop subur agik.” Beliau tersenyum. Senyum yang guanteng. Apalagi di masa mudanya so pasti…

Semasa menjadi anggota dewan juri untuk tokoh pendidikan dan kebudayaan Kalbar, saya saksikan Pak Sata sangat aktif. Misalnya dalam rapat dan investigasi. Ia mencurahkan segenap pikirannya secara maksimal. Begitupula saat kami studi banding ke Bandung-Jawa Barat maupun Manado, Sulawesi Utara. Beliau jago meng-compare-pengetahuannya di bidang seni dan budaya sehingga wajar menjadi Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Barat.
Kelemahan yang menjadi hobinya adalah rokok. Rokok ini candu yang membuatnya nyaman berkarya. Namun candu ini pula yang menggerogoti napasnya.

Saya katakan di banyak kesempatan, “Maseh merokok Yande? Berentilah kalok bise. Yande tu asset kesenian dan kebudayaan bagi kamek anak-anak mude.” Beliau hanya senyum sambil menarik candu dari lisongnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Pak Halim Ramli sohib beliau yang saat itu juga ada segera nyeletuk, “Mane bise die nak berenti merokok…” Maka kami semua tertawa…Pak Sata juga tertawa…Dan prihal rokok ini beliau menunjuk Dr Rifat. “Beliau pun perokok berat,” alas lapisnya. “Kalok maot nak datang, baek ngerokok ataupon tadak. Tetap jaklah…” pungkasnya.

Rokok Pak Sata sebenarnya sudah direm dengan lisong atau oncoy. Sehingga sudah ada tapis / penyaring khusus. Namun tetap saja candu itu masih menyerang jantung. Pak Sata rentan kesehatannya.

Namun prihal rokok adalah pilihan. Saya memang pilih tidak merokok. Tapi sebagian orang suka merokok. Tak apalah. Indonesia sudah merdeka sejak 1945 bukan?

Untuk Pak Sata karya-karyanya tetap hidup walaupun beliau telah wafat. Kehidupannya yang tertata, rapi, necis, tetap dalam kenangan tak tergantikan. Begitupula sikap konsisten berkesenian maupun sikap kerja kerasnya. Ini semua contoh teladan yang pantas diikuti dan diamalkan. Dan semoga semua karya-karya beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga hari kiamat nanti. Dus, seiring dengan itu semoga beliau diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menampilkan pentas mendunya (yang tertunda) lagi di surga firdaus. Lalu kita-kita ini juga turut menyaksikannya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Check Also

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *