Home / Beranda / Kapolda Baru, Harapan Lama

Kapolda Baru, Harapan Lama

jazHangat dan bersahabat. Demikian kesan yang terpatri di benak kala melihat sosok pria ini. Wajahnya tak menyiratkan keangkeran. Kesan humanis itu kian terlihat saat ia mengenalkan dirinya. Terselip candaan. Tak luput senyuman.

Arie Sulistyo, pria berbintang satu yang belum genap sebulan memimpin kepolisian Kalbar. Bersama beberapa perwira menginjakkan kakinya ke Rumah Melayu di pertengahan Oktober ini. Kunjungan yang diniatkan sebagai silaturahmi guna menjalin sinergisitas Polri dan Masyarakat.

Arie bukanlah orang baru di Kalimantan Barat. Sebelumnya, ia merupakan Wakapolda kala dipimpin Erwin Tobing. Jejak mereka serupa. Bak telah meminum air Kapuas, keduanya balik kampung. Erwin ‘balik kampung’ dengan mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dari partai berlambang banteng. Arie Sulistyo sebagai Kapolda Kalbar.

Dibuka dengan perkenalan jajaran pengurus MABM oleh Ketua Umum Prof Chairil Effendy. Sesi dialog menjadi agenda berikutnya. Persoalan serius diangkat dengan senda gurau. Arie menuntaskan seluruh pertanyaan yang diajukan pengurus MABM dengan runut. Terkesan normatif memang jawabannya. Tapi ia memang tak hendak berkonfrontasi. Ia memilih mengedepankan dialog—terutama untuk isu yang sensitif bagi Kalbar. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa ia dipilih menjadi pengawal Kalbar di tahun politik mendatang.

Berkali-kali ia tekankan hendaknya pers menjadi penjaga kedamaian, khususnya di Kalimantan Barat. Ia terbangkan contoh itu ke negara Spanyol. Meski kerap terjadi kriminalitas tapi media jarang mempublikasikannya. Karena mereka—masyarakat dan media—sadar, wisata yang menjadi jualannnya butuh suasana yang kondusif. Adakah orang yang mau bertaruh nyawa mengunjungi negeri yang tak aman?

Di ujung pertemuan, tak lupa ia menyampaikan keinginannya untuk bertandang kembali ke MABM. Disertai gurau, Chairil menyilakan seraya bila berkenan berpindah ke sebelah, Restoran Handayani. Gelak tawa perlahan meredup kala Arie pamit hendak menuju mobil jemputannya. Tanpa voorijder. Arie memilih berbaur bersama perwira lainnya menaiki mobil bis Polda Kalbar.

Selamat bertugas Pak Arie. Semoga kunjungan berikutnya bisa kami suguhkan kopi Obor lengkap dengan gulanya, yang tak lagi langka.

(Yaser Ace, penulis ide-pengusaha aksi, tinggal di Pontianak)

Check Also

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *