Home / Jurnalisme Warga / Kebuli Sapi Spesial Bu Nur

Kebuli Sapi Spesial Bu Nur

Oleh Hira Wahyuni

MABMonline.org, Sungai Pinyuh Azan subuh telah berkumandang membangunkan tidur lelap Bu Nur dan suaminya yang biasa dikenal dengan sebutan Pak Udin. Pak Udin kemudian bersiap-siap ke masjid menunaikan sholat subuh, demikian juga Bu Nur. Beliau sholat di rumahnya saja. Setelah pulang dari masjid Pak Udin pun menjalankan rutinitasnya yaitu menyusun segala perlengkapan jualan istrinya, mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengangkat meja, kursi, sendok, garpu, piring, mangkuk, sampai mengunting tissue. Hal ini bisa dilakukan oleh karyawannya, tetapi oleh karena telah terbiasa sibuk seperti itu, Pak Udin tak segan melakukannya.

Pukul 06.00 WIB, Bu Nur pun mengendarai motornya untuk berbelanja segala keperluan berjualan hari ini. Bu Nur dan Pak Udin memiliki sebuah warung yang biasa dikenal dengan sebutan “Warung Bubur Bu Nur”. Warung ini terletak di Sungai Pinyuh, sengaja dibangun di depan rumahnya. Di sini terdapat beraneka ragam menu sarapan mulai dari bubur nasi, nasi kuning, lontong sayur, sate ayam dan sapi, bakso, nasi goreng, mie tiaw, juga terdapat sajian khas Timur Tengah yaitu nasi kebuli dengan sensasi rasa yang menggoyang lidah.

Ternyata tidak perlu jauh-jauh kita ke Arab, di sini kita juga bisa merasakan makanan khas Arab itu.   Hari Minggu, Bu Nur dan karyawannya tampak sibuk melayani pelanggan setianya. Memang tidak sesuai dengan nama rumah makannya, karena rumah makan ini awalnya merupakan tempat sarapan favorit dipagi hari bagi warga sekitar Sungai Pinyuh, bahkan luar kawasan Sungai Pinyuh. Warung Bubur Bu Nur ini terletak di Jalan Seliung yang menjadi jalur transportasi antarnegara yaitu Malaysia. Meskipun yang dijual di warung ini adalah jenis-jenis makanan yang merakyat tetapi yang mencicipi bahkan berlanggaanan merupakan kalangan perkantoran dan pejabat tinggi di Kalimantan Barat.

Berawal dari acara selamatan atas lahirnya cucu pertama, Bu Nur menyajikan nasi kebuli untuk para tamunya. Ternyata para tamu merasakan gurihnya nasi kebuli tersebut dan menyarankan agar Bu Nur memasukkan nasi kebuli ke dalam daftar menu jualannya. Bu Nur pun mencobanya dan tak disangka-sangka, ternyata sangat digemari oleh para pelanggan. “padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat nasi kebuli ini sebagai menu jualan saya. Ternyata banyak juga penggemarnya.” Ujarnya sambil tertawa.

Saya pun tak sabar ingin merasakan nikmatnya nasi kebuli ini. Sesampainya di sana saya langsung memesan seporsi Nasi Kebuli Sapi yang menjadi menu spesial di warung itu. Sedangkan teman saya memesan mie tiaw. Sambil menunggu saya memesan es teh dan sebotol air mineral.Selang sepuluh menit akhirnya nasi kebuli dan mie tiaw goreng tersaji di meja. Harum aroma rempah yang menguap dari nasi kebuli menggugah nafsu makan saya. Nasinya disajikan di atas piring ceper berupa nasi kebuli dengan pelengkap potongan daging sapi semur ala Bu Nur dan diletakkan di atas nasi kebuli tersebut. Selain itu ada irisan tomat. Adapula tambahan acar yang terdiri dari irisan nanas dan mentimun, serta sambal yang rasanya manis, pedas dan segar, sehingga mampu mengimbangi rasa gurih nasi kebuli yang terasa agak berat. Sambal tersebut dicampur irisan bawang bombay dan tomat yang dicincang kasar. Bumbu rempah khas masakan Arab seperti jinten, ketumbar, cengkeh, lada, biji pala membuat aroma harum merebak dari nasi kebuli. Satu lagi bumbu yang paling khas yang membuat rasa masakan ini semakin kentara khas dari Arab, yaitu kapulaga. Kapulaga memiliki aroma yang khas dan harum. “masakan arab memang tak pernah ketinggalan kapulaga dan jintan hitamnya” kata Nadira, adik Bu Nur yang ikut berkecimpung dalam usaha kulinernya.

Bu Nur juga tidak keberatan untuk memberitahukan bagaimana cara memasak nasi kebuli ini, “nasi putih ditumis bersama bawang putih, bawang merah, lada hitam, cengkeh, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, pala, dan minyak samin. Kemudian daging sapi dimasak bersama dengan nasi setengah matang hingga benar-benar matang. “Oh ya, nasi kebuli di sini tak pakai minyak samin karena tak semua orang suka minyak jenis ini karena aromanya yang menyengat.”katanya.
Harumnya nasi kebuli benar-benar membuat saya tak sabar untuk menyantapnya. Benar saja, suapan pertama langsung membuat lidah saya tak berhenti bergoyang. Bumbunya sangat terasa namun tidak berlebihan, sangat pas. Selain kapulaga, aroma cengkih, kayu manis, merica dan bawang terasa cukup kuat. Nasinya pulen dan tidak terlampau berminyak.
Yang membuat saya terkesan adalah empuk daging sapinya. Bumbunya benar-benar meresap hingga ke dalam dagingnya. Meskipun nasi kebuli yang biasa dikenal karena daging kambingnya, tetapi kebuli sapi inipun tak kalah nikmatnya dan tak menghapus cita rasa timur tengahnya

Bu Nur mengatakan kepada saya, beliau merintis usaha ini dari nol. Susah payah dan jatuh bangun pun telah dirasakannya. Dalam mengembangkan usahanya, Bu Nur dibantu tiga orang karyawannya. Kurang lebih tiga tahun ia berjualan di lokasi ini.  Saat ini ia sudah mendapatkan pelanggan tetap. Dalam sehari, penjualan nasi kebuli bisa mencapai 30 porsi, menu lainnya yang disajikan juga tak kalah laris manisnya dengan nasi kebuli ini. Satu porsi dijual seharga Rp.15.000,-. “Harge merakyat, tapi tak kalah rasenye dengan makanan konglomerat.” Kata Ayu pelanggan tetap Bu Nur. Begitu nasi kebuli diletakkan di atas meja, kepulan aromanya benar-benar membangkitkan selera. Meski warnanya mirip nasi goreng, tapi begitu masuk ke mulut, rasanya begitu kompleks dan lazis. Bagi yang ingin merasakan lezatnya kebuli sapi spesial langsung datang ke Warung Bubur Bu Nur, di Jl. Seliung Sungai Pinyuh. Dijamin enak!

Check Also

Antusias Perempuan Melayu Mengikuti Ekshibisi Masakan Melayu

mabmonline.org , Sekadau – Ekshibisi masakan melayu diikuti perempuan melayu dari delapan MABM kabupaten di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *