Home / Jurnalisme Warga / Kemponan: Sekadar Mitos Ataukah Fakta

Kemponan: Sekadar Mitos Ataukah Fakta

Oleh Siti Rohmawati

MABMonline.org,Pontianak- Hari itu Wiwindasari (22) berpakaian duka. Bajunya hitam.  Wajahnya lesu dan matanya sembab menatap tubuh ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ayahnya terlihat semakin kurus. Hatinya sedih setiap kali harus melihat ayahnya tidak mau makan, sering muntah darah, dan semakin lemah. Sebuah infus terlihat menggantung di lengan ayahnya itu. Semua ini terjadi karena kejadian beberapa waktu yang lalu.

            Waktu itu tahun 2010. Seperti biasa ayahnya pergi ke Kelampai, sebuah perkampungan Dayak. Kampung tersebut terletak beberapa kilometer dari Kendawangan, tempat tinggal mereka. Kampung itu jauh di pedalaman. Jarak tempuh menggunakan jalur darat sekitar satu jam melewati hutan dan jalan yang tidak bisa dikatakan bagus. Beliau harus menginap selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan di kampung tersebut untuk mencari nafkah.

Sebagai tempat tinggal sementara ayahnya menginap di rumah Atis, keponakan ayahnya yang memang tinggal di kampung tersebut. Atis juga bekerja di daerah itu. Oleh karena itu, Atis memilih untuk tinggal dan menjadi bagian penduduk setempat.

Hari itu ayahnya harus bekerja seperti biasa. Akan tetapi, pagi itu beliau main dulu ke rumah tetangga. Kebetulan tetangganya itu memasak labu kuning atau biasa disebut perenggi. Perenggi itu diolah menggunakan santan menjadi sayur gulai perenggi. Ayahnya ditawari makan dengan sayur itu, tetapi ayahnya menolak. Ayahnya beralasan sudah makan  padahal sebenarnya belum.

Hari mulai siang. Ayahnya pun berpamitan pulang karena harus segera pergi bekerja. Ayahnya tetap menolak untuk makan meski ditawari lagi. Celakanya beliau pun lupa untuk njamah makanan tersebut. Njamah adalah tindakan menyentuh dengan ujung jari sebagai bentuk penghormatan untuk si pemberi. Inti dari tindakan seperti itu adalah penolakan dengan cara yang halus. Tanpa melakukan njamah beliau langsung saja pergi.

Ayahnya segera melangkahkan kaki menuju sungai Sengkuang. Di sana beliau bertemu dengan dua teman sekerjanya, satu keponakannya dan satu lagi temannya sekaligus pemilik motor air yang mereka gunakan. Mereka menggunakan motor air itu untuk mengantar bibit sawit ke daerah Sengkuang.

Tiba di sungai beliau segera menaiki motor air itu. Motor air itu bentuknya hampir mirip dengan kapal nelayan. Bagian belakang kapal adalah mesin penggerak motor air, agak ke tengah terdapat sebuah ruangan mirip kamar sebagai tempat istirahat, dan bagian depan berukuran agak luas sebagai tempat bibit-bibit sawit diletakkan.

Hal pertama yang beliau lakukan setelah berada di bagian belakang kapal adalah memeriksa semua peralatan dan mesin di bagian belakang kapal. Setelah dirasa cukup, beliau segera menuju bagian depan kapal untuk menyusun bibit-bibit sawit bersama dua temannya yang lain. Untuk sampai ke bagian depan beliau harus melewati dek ruangan yang ada di tengah.

Beliau naik ke dek kapal. Ketika hendak turun, tiba-tiba tanpa sengaja beliau terpeleset dan jatuh tertelungkup ke bawah. Bagian perut, dada, dan kepalanya menyentuh lantai kapal. Untung saja beliau tidak apa-apa.

Beliau segera bangun. Beliau pun mambantu kedua temannya merapikan bibit sawit. Setelah rapi dan persiapan dirasa sudah cukup, perjalanan dimulai. Ayah Wiwin kembali ke bagian belakang. Beliau bertugas mengoprasikan mesin.

Mesin dihidupkan dan motor air mulai berjalan. Waktu itu hari sudah sangat siang. Panas matahari menyengat. Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berjuang menyusuri sungai Sengkuang dan menantang matahari. Belum sampai di tujuan, mereka dihadang oleh perahu nelayan di tengah perjalanan. Motor air pun mereka hentikan. Tentu saja mereka cukup bingung dihadang seperti itu, terutama Julak (nama panggilan), teman ayah Wiwin, yang sekaligus pemilik motor air. Julak bertanya pada laki-laki yang menghalangi jalan mereka alasan mengapa mereka dihadang seperti itu. Sang laki-laki menjelaskan bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Mereka dituduh sebagai penyebab putusnya jaring ikannya yang dipasang di sungai itu. Laki-laki itu minta ganti rugi atas putusnya jaring ikannya. Karena merasa tidak salah, Julak menolak permintaan laki-laki itu. Akan tetapi, laki-laki itu tetap bersikeras bahwa mereka yang bersalah dan minta ganti rugi. Perdebatan sengit pun terjadi.

Cukup lama perdebatan terus berlanjut. Sang laki-laki terus menuduh mereka yang bersalah. Julak tetap bersikukuh bahwa mereka tidak bersalah. Meskipun motor air mereka adalah motor air terakhir yang melintas di daerah sungai sekitar itu bukan berarti mereka yang menyebabkan putusnya jaring ikan laki-laki tersebut. Karena laki-laki itu merasa tidak akan mendapat ganti rugi, ia pergi meninggalkan ayah Wiwin dan teman-temannya. Sebelum pergi laki-laki itu sempat memberi sebuah ancaman. Ia berkata jangan menyalahkannya jika suatu hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena jaring ikan miliknya itu ‘berisi’. Setelah berkata seperti itu laki-laki itu pun meninggalkan mereka. Perjalanan pun mereka lanjutkan.

Besoknya ayah Wiwin bekerja seperti biasa. Hari-hari beliau selanjutnya juga berjalan seperti biasanya. Akan tetapi, beberapa hari setelah itu beliau terkena demam. Karena tak kunjung sembuh beliau memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Beberapa hari di rumah demam ayah Wiwin tak juga sembuh. Akhirnya keluarganya memanggil dukun yang ada di daerah mereka untuk ‘berobat’. Setelah ‘berobat’ kondisi ayahnya mulai membaik. Akan tetapi, kondisi ayahnya yang membaik ini tak lama. Ayahnya sakit lagi, bahkan lebih parah. Beliau muntah darah. Ketika buang air besar yang keluar pun darah. Tiba-tiba tumbuh juga sebuah benjolan di perut beliau. Akhirnya, beliau pun dibawa ke puskesmas setempat. Setelah selama satu minggu dirawat, kondisi ayahnya tak juga mengalami perkembangan. Dokter di puskesmas itu tidak tahu mengenai penyakit yang diderita ayah Wiwin ini. Hasil rontgen juga tidak banyak membantu. Ayah Wiwin pun dibawa pulang.

Wiwin dan keluarganya sedih dengan keadaan yang menimpa kepala rumah tangga mereka. Atas inisiatif salah seorang anggota keluarga, lagi-lagi mereka kembali mendatangkan dukun untuk mengobati ayah Wiwin. Sang dukun pun memulai pengobatan. Dalam proses pengobatan sang dukun mencucup bagian perut ayah Wiwin. Dari situ keluar dua benda yang tidak wajar, sebuah mata jarring dan peleah pisang kering. Kemudian si dukun bertanya apakah ayah Wiwin melakukan kesalahan di tempat beliau bekerja, apakah itu mencuri atau hal lain. Dengan tubuh yang lemah dan wajah lesu, ayah Wiwin mencoba menggali ingatannya. Beliau mencoba mengingat kembali hal-hal yang ia lakukan beberapa waktu yang telah lalu di kampung temapat beliau bekerja. Dengan sisa tenaganya, mengalirlah cerita dari mulut beliau mengenai semua hal yang berhasil beliau ingat.

Proses pengobatan selesai. Dukun memberitahu bahwa ayah Wiwin menjadi seperti ini karena kemponan. Disamping itu, kala itu ayah Wiwin sedang lemah semangat sihingga mendapat sakit dari jaring ikan yang putus. Kemponan atau kampunan adalah sebutan untuk suatu kejadian buruk yang menimpa seseorang.
Kemponan atau kampunan biasanya terjadi apabila kita menolak pemberian atau penawaran seseorang (biasanya berbentuk makanan atau minuman) tanpa melakukan yang disebut njamah. Kemponan ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia, satu diantaranya adalah masyarakat Kendawangan, tempat Wiwin dan keluarganya tinggal.

Sang dukun menganjurkan untuk memanggil pemilik jaring ikan yang putus itu. Pemilik jaring pun dijemput oleh salah seorang anggota keluarga. Keluarga memberikan sejumlah jaring ikan kepada orang tersebut sebagai bentuk ‘impas’. Akan tetapi, menurut dukun hal itu belum cukup. Harus dipanggil juga dukun yang memantrai jaring ikan yang putus. Saran ini mendapat pertentangan dari sebagian keluarga Wiwin. Menurut keluarga yang menolak, pengobatan sudah cukup sehingga tidak perlu memanggil dukun jaring ikan lagi.

Beberapa waktu setelah itu berlalu. Keadaan ayah Wiwin semakin parah. Beliau dibawa lagi ke Puskesmas Kendawangan. Karena tidak juga mengalami perubahan, akhirnya beliau dirujuk ke rumah sakit kecamatan. Di sebuah ruang rumah sakit ini ayah Wiwin dirawat. Diruang inilah Wiwin harus melihat tubuh lemah ayahnya diinfus.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *