Home / Jurnalisme Warga / Kenangan Menegangkan Antara Batu dan Jogja

Kenangan Menegangkan Antara Batu dan Jogja

Oleh Dwi Setiawan

MABMonline.org, Pontianak– Sore hari pukul lima, cuaca sudah mulai kembali dingin bagi orang yang sudah terbiasa di Pontianak. Saya bersiap-siap dengan barang-barang yang akan dijadikan oleh-oleh nanti ketika tiba di Pontianak. Hari itu tepat tanggal 13 Agustus, beberapa hari sebelum peringatan Kemerdekaan. Kebetulan saat itu merupakan peringatan yang ke-66. Namun di sini, daerah Batu Retno belum tampak ada persiapan-persiapan untuk menyambut hari kemerdekaan dengan pesta rakyat yang biasanya diadakan dari tahun ke tahun. Karena memang saat itu bertepatan dengan bulan puasa.

Persiapan belum selesai dilakukan, masih banyak yang harus dipacking untuk dibawa pulang ke Pontianak. Selama seminggu ini, saya tidur di rumah nenek saya karena sudah lama saya tidak berkunjung ke sana. Setelah seminggu di sana, saya harus pulang kembali ke Pontianak.

Adzan Maghrib pun berkumandang membahana ke pelosok desa, jalan-jalan di sekitar desa pun sepi dari aktifitas masyarakat maupun anak-anak yang bermain. Semua sudah berkumpul dengan keluarga masing-masing untuk bersiap-siap untuk berbuka puasa.  Tidak terkecuali saya yang ikut bersiap-siap berbuka puasa walaupun saya belum selesai untuk packing barang-barang bawaan saya.

Suasana puasa kali ini sedikit berbeda dari puasa di tahun-tahun sebelumnya bagi saya. Ini pengalaman pertama saya menghabiskan waktu berbuka tidak di Pontianak, melainkan bersama Mbah Putri saya yang ada di Batu Retno. Menu berbuka kali ini cukup istimewa, mungkin karena ini hari terakhir saya di sana. Es cincau, gorengan-gorengan, dan makanan- makanan manis sudah menghiasi meja makan sore itu.

“Sini Le, kita bukaan dulu!” ujar mbah putri saya dengan suara lantang.

“Enggeh Mbah,” begtu jawab saya sekedarnya, karena saya kurang menguasai bahasa Jawa halus yang biasa digunakan di sini.

Setelah saya rasa cukup dengan menu berbuka, saya menunaikan ibadah sholat maghrib dan melanjutkan mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang. Bukanlah hal biasa bagi saya untuk mengemasi barang-barang itu sendirian. Karena pesan dan wanti-wanti tidak berhenti mengalir dari Mbah Putri saya serta keluarga yang lain di malam itu.

Malam sudah semakin larut, semua persiapan sudah selesai. Waktu sudah menunjukkan waktu 10.00 WIB. Paman saya menyuruh saya untuk tidur, mengingat besok saya harus bangun sangat awal untuk berangkat subuh-subuh mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang berangkat pukul 08 berangkat dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Supadio Pontianak.

“Tidur sana, sudah malam. Kan besok harus berangkat subuh-subuh sekali, nanti kita berangkat lima jam,” begitu ucapan pamanku.

Kamis, 14 Agustus pukul 02 pagi, saya bergegas menyelesaikan makan sahur. Mandi pagi saat itu, adalah mandi pagi yang paling terdingin yang pernah saya alami. Mungkin inilah yang orang Eropa atau yang hidup di daerah dingin rasakan jika mereka berenang di danau saat musim salju.

Setelah selesai dengan semua persiapan, pukul 03 pagi atau lebih tepatnya petang karena matahari masih belum sedikitpun tampak di sana. Semua barang-barang yang akan saya bawa sudah dimasukkan ke dalam mobil minibus yang dipinjam paman saya dari tetangga sekitar yang memang juga berprofesi sebagai pengantar penumpang antar kota.

Pukul tiga lewat, setelah berpamitan saya pun berangkat meninggalkan tempat yang seminggu ini saya tempati. Meninggalkan Batu Retno yang dingin kembali ke Pontianak yang sangat Panas. Mesin mobil sudah dihidupkan, roda mobil berputar menggerakkan minibus yang saya tumpangi mengantarkan saya ke Yogyakarta. Menuju Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Jalan-jalan berbatu mulai menggoyang minibus yang kami tumpangi saat melintasi jalan depan rumah, dengan struktur jalan naik turun sepertinya akan dengan mudah di atasi dengan minibus tangguh berpengalaman ini. Tidak seperti jalan-jalan di Pontianak, jalan di sini tergolong halus namun sangat berliku dan naik turun. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui saat  berada di Pontianak.

Sinar terang lampu minibus tersebut membuat terang jalan di depan. Saya sendiri kurang tahu apa nama jalan yang berada di situ, tetapi jalan itu tidak berlubang yang dapat menganggu jalannya perjalanan kami. Paman saya beserta supir di dalam minibus asyik berbicara dengan bahasa Jawa, saya hanya bertindak sebagai pendengar yang baik di saat itu. Mereka membicarakan tentang rute yang jalannya sudah mulai rusak, hingga tempat-tampat yang berbahaya dan rawan kecelakaan.

“Bentar lagi kita lewat jurang, kalau terang tu bisa keliatan. Namun karena masih subuh, jadi nggak keliatan.” Terang pamanku yang sudah hafal jalan-jalan di sana.

Tak lama kemudian, jalan terasa mulai naik turun. Beberapa kali titik jalan terasa mulai terasa goncangannya karena jalannya yang tidak rata. Tubuh kami di dalam mulai bergincang-goncang akibat jalan yang tidak rata dan naik turun tersebut. Saya masih tidak dapat melihat kanan dan kiri jalan karena masih gelap.

“Ini jurang, jalannya turun nanti. Kalau terang tu masih keliatan gelap bawahnya,” ujar supir kepada saya menjelaskan keadaan tersebut. Saya hanya bisa menarik nafas untuk hal itu.

Jalan sudah kembali rata, dan matahari pun sudah mulai sedikit demi sedikit tampak memancarkan cahayanya. Kami berhenti sebentar si sebuah mesjid untuk menunaikan sholat subuh. Sekalian istirahat sebentar untuk menghilangkan penat dan lelah saat jalan yang melewati gunung tersebut.

Selesai sholat subuh, kami melanjutkan perjalanan. Jalan di sini halus sehingga perjalanan dapat dilalui dengan lancar cepat karena memang saat itu masih sepi dan belum banyak warga di sana yang beraktifitas.

Tepat di sebuah daerah persawahan, supir tersebut menunjukkan sesuatu yang sangat indah. “Coba lihat tu, sinar mataharinya sebelah sana. Warnanya biasanya keren,” ujar sang supir.

Dari dalam minibus saya melihat dari kejauhan sinar matahari yang baru terbit. Tidak seperti biasanya yang saya lihat, warnanya seperti warna emas dan sangat berkilau. Ini sungguh sangat luar biasa, seperti dalam film saya tidak dapat mengalihkan pandangan saya dari sinar matahari tersebut untuk beberapa saat.

Sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama, jalan selanjutnya kembali harus mendaki gunung sebelum masuk ke kota Yogyakarta. Jalan di sana halus dan tidak berlubang. Namun kelokan-kelokan yang ada di gunung tersebut terasa cukup untuk menarik lepas jantung saya dari posisinya.

“Di sini tikungannya memang seperti ini, sebelah kamu itu kota Yogyakarta. kita masih harus lewat gunung itu lagi,” jelas sang supir.

Saya hanya berpikir, ternyata penderitaan ini belum berakhir. Guncangan ke kanan dan kiri sepertinya belum akan berakhir dengan cepat. Suasana semakin ekstrim karena supir menggeber minibus dengan kecepatan yang ekstrim pula. Hal itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa dan menegangkan mengingat jurang yang sudah mengintai di sebelah kiri jalan. Sepertinya supir di sini sudah terbiasa dengan hal itu sehingga tidak terlalu khawatir. Namun cukup menegangkan bagi penumpang seperti saya.

Akhirnya kami tiba di Bandara Adisucipto. Suasana lega menaungi perasaan saya. Hingga saya menunggu pesawat, dan kembali pulang menuju Pontianak. Hal-hal menarik telah terjadi pada saya selama perjalanan dari Batu menuju Jogja. Sangat ekstrim dan menegangkan. Memacu adrenalin anak muda seperti saya.

Check Also

Karman: Kita Merasa Sangat Puas dengan Kinerja Dewan Juri

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—Karman, ketua panitia Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX, merasa puas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *