Home / Jurnalisme Warga / Kerlip Keriang Bandong di Bulan Ramadhan

Kerlip Keriang Bandong di Bulan Ramadhan

Oleh Lia Nalita

Keriang BandongPontianak — Malam terasa kian syahdu ketika saya mengayunkan langkah kaki menuju beranda rumah. Mata saya langsung tertuju ke deretan cahaya lampu teplok yang dipasang di depan rumah. Hmm…benar saja cahaya itu dapat menambah kenikmatan setelah seharian penuh menahan lapar dan haus. Wajah kampungku pun seketika berubah menjadi aliran cahaya yang indah sekali.

Keriang Bandong atau tanglong ialah tradisi rakyat yang berupa penyalaan sejenis obor dari bambu kecil yang diberi sumbu dan diletakkan di halaman rumah-rumah pada malam hari sepanjang bulan Ramadhan. Memasang keriang bandong atau tanglong sudah menjadi tradisi yang sering dilakukan masyarakat Pontianak pada malam-malam menjelang 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Menurut tetua di Kampung Banjar yang biasa disapa To’ Amed, tradisi keriang bandong atau tanglong ini sudah lama dijalankan dan mengikuti kebiasaan nenek moyang terdahulu. Pada zaman dahulu keriang bandong atau tanglong berfungsi sebagai penerang jalan dan sebagai perayaan suasana Ramadhan, penerangan ini membuat para warga khususnya para anak-anak tidak merasa takut ketika berangkat serta pulang dari menunaikan shalat tarawih.

Memang sangat sulit sebenarnya untuk menelusuri darimana asal tradisi ini, lagi pula tidak ditemukan juga literatur yang mengupas tuntas tentang tradisi ini. Kemudian berbagai penelusuran pun telah dilakukan untuk mendapatkan sejumlah informasi mengenai hal ini. Menurut keyakinan masyarakat melayu Pontianak, keriang bandong atau tanglong ini selain digunakan untuk penerangan juga diyakini sebagai bentuk penyambutan datangnya malaikat yang turun ke bumi untuk memberikan berkah. Agar malaikat mau mendatangi kita maka masyarakat meyakini bahwa kediaman kita haruslah bersih juga terang benderang yang kemudian diwakilkan oleh cahaya tanglong tersebut.

Selain dipasang di halaman rumah, tanglong atau keriang bandong biasanya diarak oleh anak-anak sambil melantunkan nynyian-nyanyian islami sembari membangunkan warga untuk melaksanakan sahur pada subuh hari. Tanglong atau keriang bandong ini memiliki beragam bentuk dari yang berupa obor dari bambu hingga yang paling disenangi anak-anak sekarang berupa aneka bentuk yang terbuat dari kertas minyak. Namun seiring perubahan zaman tradisi menghidupkan cahaya keriang bandong ini sedikit demi sedikit menghilang. Sekarang masyarakat lebih banyak memilih cara yang lebih instan dan lebih mengedepankan kemodernan. Kini yang lebih sering ditemukan hanya rangkaian lampu-lampu kerlap kerlip yang banyak dijual di toko-toko.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *