Home / Jurnalisme Warga / Kerupuk Basah Makanan Khas Semitau

Kerupuk Basah Makanan Khas Semitau

Oleh Siti Munawwarah

MABMonline.org, Pontianak — Pada umumnya masyarakat Kalimantan Barat mengenal kerupuk
basah sebagai makanan khas dari kabupaten Kapuas Hulu. Namun, tidak banyak yang tahu
dari mana sebenarnya makanan ini berasal. Kerupuk basah atau yang biasa disebut temet oleh
masyarakat Kapuas Hulu sebenarnya berasal dari daerah Semitau Kabupaten Kapuas Hulu.
Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Syarifah Dalia Assegaf, “Sejarah Kapuas Hulu itu kan
Semitau, kerupuk basah ini makanan orang Arab dulunya dimakan dengan kurma”.

Ibu yang telah empat tahun membuka usaha kerupuk basah di Pontianak ini mengungkapkan bahwa
kerupuk basah berasal dari orang-orang Arab yang hijrah ke daerah Semitau untuk
menyebarkan agama islam. “Dulunya kan di sana itu masih banyak orang menyembah-
menyembah, buang-buang, menganut kepercayaan tertentu semenjak datang Sultan Syarif
Abdurrahman di sana barulah agama Islam masuk”, ungkap wanita berdarah arab ini.

Kerupuk basah merupakan makanan khas dari Semitau yang diolah oleh bangsa Arab
yang hijrah ke sana. “Dulunya ini kerupuk basah dimakan dengan kurma yang dicampur pada
saus kacangnya”, ungkap Syarifah Dalia Assegaf. “Orang Arab kan tidak pandai makan ikan
jadi dibuatlah kerupuk basah ini”, tambahnya lagi. Eksistensi makanan ini sendiri sudah
tidak diragukan lagi. Banyaknya penghargaan yang diberikan semakin membuat prestise
makanan ini semakin tinggi. “Usaha saya ini sudah ada izin Dinas Kesehatan dan banyak
dapat penghargaan, kemarin saja dapat penghargaan dari Presiden waktu pameran di Jakarta
dan dari Dinas Perikanan juga”, jelas Syarifah. Pesanan pun banyak berdatangan dari luar
kota dan provinsi di Indonesia. “Kalau untuk pemesanan itu dari mana-mana wilayah Kapuas
Hulu, di Palembang, Bandung, Jakarta, Malaysia”.

Kerupuk basah ternyata banyak mendatangkan pundi-pundi penghasilan bagi
pengusahanya. Syarifah Dalia sendiri selaku pemilik usaha ini mengungkapkan bahwa
omsetnya per bulan bisa mencapai 10 juta rupiah. “Ya, untuk omset bisa sampai 10 juta sama
modal, jadi kalo bersihnya 7,5 juta”, jelasnya. Makanan khas ini sendiri bisa diolah dengan
berbagai cara misalnya digoreng, direbus, atau disup. Kerupuk basah sendiri lebih enak jika
menggunakan bahan dasar ikan belida. “Bisa diganti dengan ikan lain, tapi hasilnya tidak
seenak dengan ikan belida, pernah saya coba pakai ikan toman dan tenggiri tapi tidak bagus,
hitam dia”, ungkap Syarifah Dalia dengan dialek Kapuas Hulunya yang khas.

Kerupuk basah sekarang makin banyak dipromosikan pemerintah sebagai makanan khas olahan ikan yang inovatif dan bergizi. Terbukti dengan diadakannya pameran-pameran mengenai hasil olahan
ikan. Usaha Ibu Syarifah Dalia ini sendiri pada bulan April ini akan mengikuti pameran yang
diselenggarakan pemerintah di PCC nanti. “Ya, bulan empat ini saya ikut pameran lagi di
PCC sekalian mau cari karyawan”.

Check Also

Titik Nol Kilometer Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto MABMonline.org, NAD —Dengan potensi bahari yang maha indah, Pulau Weh juga menarik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *