Home / Opini / Ketika Produk Anyaman Tradisional Diganti Produk Plastik

Ketika Produk Anyaman Tradisional Diganti Produk Plastik

Oleh Adrianus Andika R.

Anyaman yang dibuat suku Dayak menunjukkan tingginya selera seni dalam darah mereka.

MABMonline.org, Pontianak-Masyarakat Kalimantan Barat dikenal sebagai pulau multi kultur. Banyak etnis mendiami pulau ini dengan segala ciri khas seni budayanya. salah satunya adalah seni menganyam Suku Dayak. Suku Dayak terkenal dengan kebudayaan seni anyamannya.

Tantata anyaman adalah pengetahuan Suku Dayak dalam hal anyam-menganyam. Bahan-bahan anyaman umumnya berasal dari beberapa jenis rotan, buluh, batukng (jenis jenis bambu), bomatn, daun kelapa dan berbagai jenis kajakng (pandan).

Seni Menganyam Suku Dayak sudah tidak dapat diragukan lagi, bahkan alas tidur atau tikar yang mereka pakai sehari-hari adalah hasil anyaman mereka sendiri. Bido (bahasa Dayak bakatik) adalah sebutan dari tikar anyam  yang berfungsi sebagi alas tidur mereka. Bahan dasar anyamannya adalah daun pandan hutan yang telah dijemur dahulu. Selain dibuat tikar mereka juga membuat topi khas yang biasa dipakai para laki-laki. Untuk bahan bakunya, para laki-laki yang bertugas mencari di dalam hutan, sedangkan para perempuan  bertugas mengayamnya di rumah.

Dalam kegiatan anyam-menganyam ini keahlian dan kepandaian tidak terbatas pada kaum wanita saja, kaum priapun memiliki keahliannya sendiri. Kepandaian mereka (para orang tua) diwariskan juga kepada anak-anaknya sehingga kita boleh menyaksikan betapa banyak para remaja yang mahir melakukan pekerjaan tradisi ini. Soal hasil tak perlu diragukan, kualitasnya bernilai seni yang sangat tinggi.

Seiring perkembangan jaman, anyaman tidak hanya tikar dan topi saja tetapi bahkan lebih dari itu. Anyaman ini kini telah banyak bentuknya, misalnya tas, dompet, tempat pensil bahkan hiasan dinding. tentu saja telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan pewarnaan yang membuat produk ini semakin menarik.

Selain untuk keperluan sendiri, mereka juga menjual hasil anyaman sebagai tambahan pencaharian. Dalam hal jual-menjual ini, mereka masih sangat awam artinya soal pemasaran terhadap hasil kerajinan berupa anyaman tersebut belum menjadi prioritas.

Tetapi kini sungguh disayangkan kebudayaan warisan nenek moyang yang telah beratus-ratus tahun keberadaanya sudah tergerus jaman. Sudah tidak banyak suku dayak yang masih menggeluti kesenian ini. Tingkat kerumitan dalam pembuatan serta kesulitan memperoleh bahan mentahnya menjadi pendukung kepunahan seni anyaman.

Hambatan lainya adalah segi kepraktisan. Mereka lebih memilih produk plastik yang ringkas tinggal membeli tanpa membuat. Produk praktis yang menjamur di pasaran lebih mudah diperoleh dan tingkat harganya lebih murah.

Namun demikian, anyaman yang dibuat Suku Dayak dengan tingkat kerumitan yang tinggi menunjukkan tingginnya juga  selera seni dalam darah mereka.

Anyaman yang merupakan tradisi Suku Dayak sejak jaman dahulu memiliki nilai tinggi, sehingga sudah sepatutnya dilestarikan.

Seni yang memiliki nilai tinggi ini perlu diperkenalkan kepada generasi muda, supaya tetap terlestarikan. Diajarkan kepada generasi muda bagaimana cara menganyam dengan teknik-teknik tertentu.

Tetapi tidak hanya melestarikan seni anyamannya, yang tidak kalah pentingnya juga adalah bagaimana menyediakan bahan baku anyaman tersebut. Agar mudah diperoleh bahan baku anyamanya, maka hal yang paling tepat dilakukan adalah menanam bahan bakunya.

 

Check Also

21 Peserta Ikuti Festival Tangkai Lagu Melayu

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—21 peserta Putra dan Putri perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *