Home / Jurnalisme Warga / Keturunan Raden Ketapang

Keturunan Raden Ketapang

Oleh Putri Kurniasih

MABMonline.org, Ketapang — Senin malam pukul 18.30 saya menelpon seseorang dari ketapang. Untuk menanyakan seperti apa adat “raden” dalam kebudayaan. Sebelum sebulan pernikahan kami melakukan pewangian atau pembasahan tubuh calon pengantin yaitu yang disebut ” betangas “. Dengan menggunakan bahan seperti daun pandan wangi, tepung tawar di panaskan dan di masukkan ke dalam tikar yang terbuat dari pandan berduri ujar, “Raden Hendra Kurniawan”. Dan satu orang calon pengantin masuk ke dalam gulungan tikar itu tersebut selama beberapa menit, sambil diaduk daun pandan wangi dan tepung tawar yang telah di panaskan untuk mewangikan atau membasahkan tubuh sebelum akad nikah dilaksanakan. Dan kedua calon mempelai akan mengenakan pacar kuku yang terbuat dari daun pacar.

Dan setelah hajatan pernikahan di mulai kami selalu melakukan adat yaitu bertimbang dengan timbangan keraton dan memandikan air timbangan setelah akad nikah yang di sebut dengan ngalih turun pengantin ujar, “Raden Hendra Kurniawan”. Air timbangan tersebut dimandikan oleh dua orang perempuan tua, yang berketurunan raden. Dengan menggunakan kaca dan lilin dikelilingkan disekitar tubuh pengantin sebanyak 9 kali ini, adat yang harus kami ikuti setiap pernikahan maupun sunatan sampai anak cucu, antah kami nanti.

Setiap keturunan saya ujar “Raden Hendra Kurniawan” selalu banyak adat keraton yang harus kami ikuti seperti tijak tanah dengan menggunakan penimbangan keraton dan rumah tebu. Setiap acara tersebut di iringi dengan berjanji sepi membaca ayat-ayat alquran adat tersebut harus diikuti setiap keturunan saya. Jika tidak lengkap mengikuti adat tersebut “maka di setiap keturunan saya tidak boleh menginjakkan kaki ke tanah” karena kaki akan gatal-gatal atau di sebut (kekurangan adat istiadat keraton).

Dan setiap bepergian jauh kalau melewati sungai atau lautan kami selalu melaksanakan adat sebelum bepergian yang kami sebut “berbuang”, yaitu bagaimana kami menyampaikan kepada “uyuk” kami yang di sungai maupun di laut dengan menyampaikan perkataan. Uyut anak kami mau menyeberang sungai dan lautan jagakan anak cucu, antah kami sampai kedaratan ujar “Raden Hendra Kurniawan”. Dan setiap berbuang harus dibekali rokok sebatang, daun sirih, kapur sirih, dan telur.

Check Also

Antar Ajung, Antara Tradisi dan Wisata

Oleh Nabu Sambas—Terdengar gendang rabana dan ratib. Lantunan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *