Kabar Terkini
Home » Jurnalisme Warga » Kilometer Nol Indonesia: Pulau Weh?

Kilometer Nol Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto

 

(Gambar: www.tongkonanku.com)

(Gambar: www.tongkonanku.com)

MABMonline.org, NAD —Dengan potensi bahari yang menjadi konsumsi wisatawan, Pulau Weh juga menarik karena klaim ‘Kilometer Nol’ Indonesia dimulai di sini. Dan gunung api paling barat di Indonesia memang ada di sini.

Posisi dan Hikayat
Terbang di rute Jakarta-Banda Aceh, kami tahu berada persis di ujung pesisir timur daratan Nangroe Aceh Darussalam, lalu berbelok ke barat ketika daratan …telah menghilang. Itu tandanya pesawat menjelang mendarat di banda Aceh. Pulau Sumatera telah habis hingga ke ujungnya, sehingga pesawat berputar balik. Nah, saat pesawat bermanuver untuk menyesuaikan arah dan ketinggian, kita bisa melihat beberapa pulau yang mengitari ujung utara Aceh seperti Pulau Weh dan Rubiah, Pulau Bunta, Nasi, Teumon, Breueh. Sementara di kejauhan, menyendiri, adalah pulau Rondo.

Pulau Weh, punya posisi penting bukan hanya bagi Aceh, tetapi juga Indonesia. dari sinilah kata ‘Sabang’ muncul. Karena di pulau inilah terletak kota Sabang. Pulau ini menarik bila kita lihat dari udara, karena tampak bergunung-gunung, lalu bisa kita lihat ada sebuah runway airport kecil -kini lebih banyak digunakan untuk kepentingan militer.

Banyak orang menulis letak Sabang sebagai ujung paling barat di Indonesia. tapi pernyataan itu mesti dikoreksi, karena dari ujung kontinen Aceh, letak Sabang sebenarnya lebih ke utara atau barat laut dari tepi daratan Aceh. Sedangkan kalau mengukurnya ke arah barat, maka Pulau Breueh berada lebih di barat ketimbang Pulau Weh. Dari banda Aceh, jarak Sabang sekitar 22,5 km, yang bisa ditempuh selama dua jam jika menggunakan ferry atau 45 menit jika memiliki kapal cepat. Pulau Weh sendiri dimasukkan ke dalam jajaran andalan pariwisata aceh karena potensi wisata baharinya, baik pantai maupun diving spot.

Pada masa lalu, Kota Sabang sekaligus Pulau Weh dikenal sebagai tempat transit bagi jamaah haji yang ingin berangkat ke Mekkah. Itu pula muasalnya Aceh dijuluki ‘Serambi Mekkah’. Konon dahulu pernah ada 44 orang yang siap berangkat ke Tanah Suci menggunakan kapal kayu, kapal tersebut pecah dihantam gelombang, sedang para penumpangnya tercerai berai ke pulau-pulau yang ada di sekitar Pulau Weh. Itulah sebabnya beberapa daerah di sekitar Sabang diberi nama sesuai nama para jamaah haji itu seperti Pulau Rubiah, Pulau Klah dan sebagainya.

Dengan luas 121 km², Pulau Weh sebenarnya tergolong pulau vulkanik. Dahulunya terhubungkan dengan daratan Pulau Sumatera. Namun pada masa Plaistosen gunung apinya meletus yang mengakibatkan terputusnya daratan itu sehingga menjadi pulau tersendiri. Tahun 1982 Pemerintah Indonesia menetapkan wilayah 34 km² di daratan dan 26 km² di perairan Pulau Weh sebagai suaka alam. Di perairan Laut Andaman, di mana terletak Pulau Weh ini terdapat spesies hiu bermulut besar. Selain itu, di Pulau Weh juga terdapat habitat katak yang statusnya terancam yakni Bufo valhalle.

Pulau Weh punya dua kota pelabuhan, yakni Sabang dan Balohan. Karena kealamian pelabuhan dengan air yang dalam serta terlindungi dengan baik, pemerintah Hindia Belanda membuka Sabang sebagai pelabuhan, sejak tahun 1883. Awalnya untuk pangkalan batubara dan angkatan laut kerajaan, tetapi kemudian menjadi pelabuhan untuk kapal dagang. Sekarang, pelabuhan Sabang –yang terletak di utara pulau, sudah dikembangkan menjadi International Freeport. Tapi kalau kita naik kapal cepat dari pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, kita akan merapat di pelabuhan Balohan yang berada di sisi selatan pulau.

Karakter wisata di Pulau Weh sendiri bersandar pada potensi baharinya. Setidaknya ada 26 titik potensial tujuan wisata di sekitar Kota Sabang, namun yang paling popular adalah Pantai Gapang, Pantai Robiah, dan Pantai Iboih dengan keindahan taman lautnya. Pantai-pantai di Pulau Weh kebanyakan berpasir putih. Selain itu, untuk beraktivitas diving, di lokasi-lokasi tersebut tersedia penyewaan alat-alat diving hingga kursusnya. Semua kawasan itu mudah dijangkau dari Kota Sabang, atau bahkan dari pelabuhan Balohan.

Kilometer Nol Indonesia
Dari mana bentang alam Negara Indonesia diukur? Dari Sabang sampai Merauke. Maka di Sabang ada tugu ‘Kilometer Nol’ Indonesia. letaknya di kawasan hutan wisata di Kecamatan Sukakarya. Jalan kesini terbilang menanjak dan berliku, ditengah udara yang menyegarkan. Butuh waktu sekitar satu jam berkendara dari pelabuhan Balohan. Di situ ada prasasti penentu posisi geografis kilometer nol oleh BPPT yang ditandatangani pada 24 September 1997, Prof. Dr. Ing BJ Habibie. Di situ terpahat posisi geografisnya pada Lintang Utara 05º 54’ 21.42”, lalu Bujur Timur 95º 13’ 00.50”, ditempatkan di ketinggian 43,6 meter dari permukaan laut. Letak tugu ini di ujung barat laut Pulau Weh. Nah, di situ juga ditemukan sebuah prasasti yang memperlihatkan posisi geografis stasiun GPS KM 0 Sabang, yang tercatat pada Lintang Utara 05º 54’ 21.99”, lalu Bujur Timur 95º 12’ 59.02”.

Ada perbedaan jika Anda mengunjungi tugu ini, sebenarnya bisa dibuat sertifikat telah mengunjungi Kilometer Nol Indonesia, untuk itu perlu meminta panduan atau sopir, di mana sertifikatnya bisa diambil keesokan harinya. Namun itu hanya berlaku pada hari kerja. Kondisi tugu sendiri saat ini terbilang kurang terawat di daerah yang sepi itu. Memang ada beberapa pedagang mangkal di situ, juga sebelumnya kita mesti melewati pos penjagaan Paskhas TNI-AU. Pemerintah Aceh sendiri berencana merenovasi tugu ini pada tahun anggaran 2013.

Tapi ada yang mengganggu saya. Ketika berdiri di tepian ujung barat laut Pulau Weh, saya berfoto dengan latar belakang Laut Andaman. Namun, di latar belakang saya, arah barat, ada lagi sebuah pulau. Saya pun mengeceknya pada digital map ponsel android saya. Menurut peta satelit digital yang juga dirilis US Navy itu, pulau yang tampak di belakang saya adalah Pulau Breueh dan Pulau Nasi.
Lho.. berarti Sabang bukan ‘Kilometer Nol Indonesia’?

Secara faktual, di ujung utara dan barat laut NAD terdapat beberapa pulau. Didukung teknologi navigasi yang maju, peta dan fakta menunjukkan bahwa bila mengikuti garis bujur, maka Pulau Breueh berada lebih barat ketimbang Pulau Weh. Ujung barat Pulau Breueh ada pada Bujur Timur 95º 00’ 40.02”, jelas lebih barat dari Pulau Weh. Kalau mengikuti skema garis bujur, maka Pulau Breueh-lah yang mestinya jadi ‘Kilometer Nol’ Indonesia.

Namun kalau mengikuti skema lintang, di arah utara-barat laut pulau Weh masih ada pulau lain, yakni Pulau Rondo. Terjemahan Pulau Rondo adalah ‘Pulau Janda’, karena menyepi sendiri di tepian ujung Indonesia, dikepung Laut Andaman, berbatasan dengan Kepulauan Nikobar milik India. Pulau seluas 0,650 km² ini berada di koordinat 6º 4’ 30” LU, 95º 6’ 45” BT, jelas lebih luar ketimbang Pulau Weh.

Jadi bagaimana denga lagu “Sabang sampai merauke”? Mungkin dulu teknologi navigasi dan akses informasi belum semaju sekarang, sehingga belum jelas benar mana wilayah terluar Indonesia. lagi pula kondisi setingkat kota hanya ada di Sabang. Di Pulau Breueh tidak ada kota. Sedang di Pulau Rondo malah tak ada penghuninya kecuali prajurit TNI-AL yang menjaga tapal batas. Lagu itu mesti dianggap simbol persatuan Indonesia. Hanya, soal ‘Kilometer Nol’ bisa saja menimbulkan polemik.

Jaboi: The Ring Starts Here
Membentang sepanjang 15 km, topografi Pulau Weh berbukit-bukit. Dan uniknya, ada sebuah gunung berapi di sini, yakni gunung berapi fumarolik Jaboih yang tingginya 617 meter. Letusan terakhir gunung ini diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen yang mengakibatkan sebagian dari gunung ini hancur, terisi denga laut dan terbentuklah pulau yang terpisah dari daratan Sumatera. Dengan demikian, inilah gunung api paling barat di Indonesia. Barisan “Cincin Api” Indonesia dari arah barat dimulai di sini.

Jarak tempuh ke Gunung Jaboi dari Sabang hanya sekitar 15 km, letaknya di Kecamatan Sukakarya. Kawasan jungle trekking bagi para pecinta alam ini tergolong kawasan konservasi. Dengan hutan tropis yang masih rapat dan keanekaragaman satwa seperti burung, monyet, ular, babi hutan, reptil, hutan di Jaboi juga tempat untuk pengamatan burung seperti Nicobar Pigeon, Srigunting, Beo dan sebagainya.

Mendaki Gunung Jaboi bisa dibilang santai saja, karena aksesnya mudah, dari tepi jalan kita cukup mendaki berjalan kaki sekitar 20 menit. Sejak awal, bau belerang sudah mewarnai atmosfer. Di beberapa lokasi kita bisa jumpai beberapa spot fumarolik, air belerang mendidih mengeluarkan asap.

Menurut pemandu kami, luas kawasan fumarolik itu bertambah secara bertahap, memakan pepohonan hutan di sekitarnya. Dari bagian atasnya, pemandangan ke laut dan arah Balohan bisa kita lihat.

Comments are closed.