Home / Beranda / Kisah “Mak Kasum” dalam Sejarah Bubur Padas

Kisah “Mak Kasum” dalam Sejarah Bubur Padas

daun kesum

oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Sekitar dua bulan yang lalu saya melakukan penelitian di Kabupaten Sambas. Penelitian tersebut terkait pengambilan data untuk kepentingan penyusunan tugas akhir saya di kampus. Bersama seorang teman, Zainudin, saya memulai perjalanan dari Kecamatan Jawai Selatan sampai Sajingan Besar di perbatasan Sambas-Malaysia. Pengambilan data permainan rakyat yang saya lakukan difokuskan pada kandungan kosakata yang ada dalam kebudayaan masyarakat Melayu Sambas.

Setelah melalui kegiatan penelitian berhari-hari, saya akhirnya bertemu dengan seorang informan yang berdomisili di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas. Beliau bernama Muin Ikram. Seorang tokoh Melayu yang juga pengurus MABM Kabupaten Sambas yang aktif di bagian penelitian dan pelestarian kebudayaan. Informan kesepuluh saya ini memberikan banyak informasi terkait data yang saya butuhkan. Proses wawancara yang saya lakukan selama beberapa jam tersebut melebur menjadi sebuah obrolah ringan tentang kebudayaan Melayu dan kuliner khas di Sambas. Maklum kami saling menggunakan bahasa Melayu Sambas saat berbincang.

Ade kisah tentang bubor paddas,” ujar Pak Muin memulai kisah Mak Kasum.

Cerite tentang ape pak?” tanyaku kepada Pak Muin.

Pak Muin kemudian memulai ceritanya dengan bahasa Melayu Sambas yang saya terjemahkan dengan beberapa penyesuaian berikut ini.

Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang sangat kaya memimpin sebuah kerajaan di Sambas. Raja tersebut memiliki banyak pengawal dan pembantu di istana kerajaannya. Suatu hari, raja mengalami suatu kesakitan dan harus terbaring di kamarnya. Nafsu makan sang raja dengan seketika menurun bahkan menghilang. Semua penduduk istana sangat mengkhawatirkan kesehatan raja karena tidak memiliki nafsu makan. Karena peristiwa itu, sang raja memerintahkan seorang pembantu yang bertugas sebagai juru masak kerajaan untuk membuat makanan untuk dirinya. Pembantu tersebut kemudian meracik beras dan sayur-mayur untuk dijadikan makanan dan obat untuk raja. Selesai mengolah semua bahan makanan, pembantu tersebut dengan segera menyerahkan hasil masakannya kepada raja. Tak disangka, raja dengan lahap menyantap racikan makanan dari sang pembantu. Selesai menghabiskan makanan, raja menyuruh pengawalnya untuk memanggil pembatu yang telah berhasil membuatkan makanan yang sangat enak untuk raja. Pembantu tersebut kemudian menghadap raja. “Ada apa gerangan raja memanggil saya?” tanya pembantu tersebut. Raja kemudian menanyakan kepada pembantu tersebut tentang sebuah daun yang dirasakan raja sangat khas dan enak saat menyantap masakannya. “Daun apakah yang kau gunakan dalam masakan itu sehingga masakan tersebut bisa mengembalikan nafsu makanku?” tanya raja. Hamba menemukan tanaman tersebut di pekarangan istana ini, tetapi hamba tidak mengetahui apa nama tanaman tersebut,” jawab pembantu. Kemudian, raja menanyakan nama pembantunya tersebut. “Siapa namamu wahai pembantu?” tanya raja. Nama hamba Kasum, biasa orang-orang memanggil hamba dengan Mak Kasum,” jelas pembantu. Mendengar jawaban tersebut, sang raja kemudian memberi nama daun khas tersebut dengan daun kasum sesuai dengan nama “Mak Kasum”— seorang pembantu raja yang telah menggunakan daun ini sebagai bahan makanan untuknya.”

Saya yang menyimak cerita tersebut serasa mendapatkan pengalaman baru. Cerita tentang asal-usul nama daun kesum ini memang baru kali ini saya dengar. Daun kesum merupakan daun khas yang wajib ada saat membuat bubur pedas—makanan khas Melayu Sambas. Pak Muin Ikram mengaku mendapatkan alur cerita tersebut dari pemikirannya selama menjadi pelaku budaya di Kabupaten Sambas. Versi cerita lain tentang nama daun kesum mungkin berbeda dari cerita yang saya dapatkan saat penelitian di Sambas. Namun, cerita-cerita seperti ini dapat saya bagi kepada pembaca merupakan kepuasan sendiri bagi saya. Bagi kita semua mungkin dapat menceritakan cerita-cerita seperti ini kepada anak cucu kita kelak sehingga mereka dapat menerima informasi yang kaya tentang kebudayaan mereka.

Check Also

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *