Home / Jurnalisme Warga / Kisah Sungai Seberangkai, Dulu dan Sekarang

Kisah Sungai Seberangkai, Dulu dan Sekarang

Oleh M. Na’im / Nur Arifin Na’im

Peta Jalan Panglima Aim (Sumber: Google)
Peta Jalan Panglima Aim
(Sumber: Google)

MABMonline.org, Pontianak — Di saat hujan rintik mengguyur Kota Pontianak, saya memutuskan untuk pergi ke salah satu Kecamatan Pontianak Timur yaitu di daerah Tanjung Raya 1 untuk  mencari informasi tentang asal usul nama gang. Setelah sampai di sana saya mendatangi seorang tetua yang ada di kampung itu, yaitu Bapak Haji Ahmad Nawi. Beliau sering dipanggil dengan sebutan Abah oleh masyarakat di sekitarnya. Ketika saya datang ke rumahnya, beliau tidak ada di rumah dan anak Abah ini mengatakan bahwa Abah sedang berada di masjid yang berdampingan dengan rumahnya tersebut. Saya pun segera  menyusulnya ke masjid. Sesampainya di dalam masjid, Abah ini rupanya sedang tertidur pulas dan saya tak tega untuk membangunkannya. Kebetulan sekali ketika saya datang ke masjid itu waktu sudah mau menjelang Ashar. Kemudian saya berinisiatif untuk berbincang-bincang setelah salat Ashar saja karena waktu saya menunggu Abah untuk berbincang-bincang tidak terlalu lama.  Setelah melaksakanakan salat Ashar saya pun langsung mendatangi Abah dan langsung berbincang-bincang.

Dalam perbincangan itu saya ditemani dengan dua teman saya yaitu Mursidin dan Novi. Saya pun memulai dengan pengenalan terhadap Abah atau Pak Haji Ahmad Nawi. Abah ini lahir tahun 1902. Sampai sekarang sudah berumur 111 tahun. Namun, fisiknya masih terlihat segar. Dulunya Abah ini berasal dari daerah Jawa Timur yang bersukukan Madura. Beliau pernah bertempur melawan penjajahan Belanda di Surabaya sampai akhirnya menuju kemerdekaan Bangsa Indonesia.  Kemudian pada tahun 50-an beliau merantau ke Pontianak tepatnya di desa Seberangkai. Setelah menjelaskan tentang identitasnya Pak Haji Ahmad Nawi mulai becerita mengenai asal usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai.

“Doloknye datanglah urang dari daerah Sanggau, yaitu urang Seberangkai ke kote Pontianak Timur ini. Jadi urang Seberangkai ni membukak paret nah begitu. Waktu itu pade masa Kesultanan Muhammad Wak Neku yang berasal dari kampong dalam. Jadi karene banyak urang Seberangkai datang ke daerah sini dan membukak paret yang seperti sungai besak nye, make dari itu  gang yang menuju ke dese Seberangkai ni digelarkan Gang Seberangkai dan karene yang bukak paret seperti sungai besaknye tu orang Seberangkai make digelarkan Sungai Seberangkai. Dolok di daerah sinik ade Gang Seberangkai 2, lamak-kelamakan gang ini berubah menjadi Gang Pelita, dan berubah agik menjadi Jalan Panglima Aim sampai sekarang namenye. Mungkin name Panglima Aim tu dari pemerintah  yang berikkannye tu. Jadi supaye ade kenangnye tentang orang Seberangkai makenye Gang Seberangkai ini masih ade sampai sekarang. Nah begitulah ceritenye,” cerita Haji Ahmad Nawi.

Saya sangat takjub setelah  mendengar penuturan cerita dari Haji Ahmad Nawi tentang asal-usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai. Dengan kondisi umur yang sebegitu tua nya beliau masih mempunyai daya ingat yang begitu kuat tentang cerita-cerita masa lalu. Sementara teman yang seangkatan dengan dia semuanya sudah berpulang kerahmatullah. Sementara orang yang mengetahui cerita asal usul Gang seberangkai dan Sungai Seberangkai ini sudah semakin sedikit bahkan menurut saya di kampung itu cuma Pak Haji Ahmad Nawi lah satu-satunya orang yang masih mengetahui asal-usul gang tersebut. Karena dari beberapa informan yang saya tanyai bahkan sampai ke RT-nya tak ada yang mengetahui cerita tentang asal-usul gang dan sungai tersebut.

Saya beruntung sekali masih bisa bertemu dengan Haji Ahmad Nawi ini. Karena berkat beliau, kami bisa mengetahui bahwa kampung yang sekarang kami injak ini merupakan kampung yang dulunya dihuni pertama kali oleh orang-orang Seberangkai. Akhirnya saya berhasil menggali sebuah asal-usul suatu gang yang terancam punah, yang tak lagi orang-orang tua  mengetahuinya apalagi generasi muda. Sehingga dari penuturan yang disampaikan beliau itu, saya bisa menambah wawasan untuk bekal membagi pengetahuan saya ke generasi muda selanjutnya.

(Dokumentasi Workshop Sejarah dan Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat 2013)

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *