Home / Ekonomi / Kompetensi dan Sukses Usaha

Kompetensi dan Sukses Usaha

 Oleh: Ismail Ruslan

      Idealnya setiap aktivitas manusia selalu mengedepankan aspek kompetensi dan profesionalitas baik dalam pendidikan, ekonomi, politik dan lainnya. Dimensi kompetensi menjadi penting karena aktivitas yang didasarkan atas pertimbangan keahlian akan menghasilkan karya produktif. Sebaliknya, aktivitas yang mengabaikan kompetensi dan “mengagungkan” kedekatan, primordialisme, nepotisme tidak akan menghasilkan karya besar, absurd.

Tidak semua orang dewasa ini, mampu mengedepankan aspek kompetensi dan profesionalitas, keduanya memerlukan proses belajar yang panjang, keseriusahan dan kesabaran.

Sebagian orang ingin hasil serba instan dan cepat. Argumentasinya karena kedekatan, hubungan kekeluargaan, primordialisme, kemanusiaan menjadi pilihan.

Dalam dunia modern yang kompetitif, segala aktivitas manusia baik dalam bidang pendidikan, ekonomi dan politik selalu disyaratkan  dan mengedepankan kompetensi dan profesional. Segala aktivitas yang mengabaikan kompetensi dan profesionalitas akan menghasilkan “produk gagal”, mengecewakan, dan kerugian.

Pentingnya Kompetensi

McClelland (1961) menjelaskan bahwa kompetensi merupakan karakteristik personal seseorang yang dapat mempengaruhi kinerja yang lebih baik. Karakteristik ini meliputi bakat talenta alam, mudah dikembangkan, kemampuan aplikasi praktis dari bakat dan pengetahuan (informasi yang dibutuhkan untuk pencapaian tugas).

Misalnya profesi guru, menuntut calon memiliki kemampuan mengajar dan mendidik, serta harus memiliki latar belakang pendidikan guru.

Mengapa? Dunia pendidikan akan kesulitan menghasilkan anak didik cerdas jika gurunya tidak memiliki ilmu untuk mentransfer pengetahuan dan ilmu kepada peserta didik karena tidak kompeten.

Demikian juga dalam dunia usaha. Fakor modal dibutuhkan untuk menopang roda usaha. Namun modal saja belum cukup. Pelaku dituntut memiliki pengetahuan dan keahlian pada bidang yang ditekuni.

Cut Zurnali (2010) menyatakan dua perbedaan arti kompetensi (competency). Pertama, diekspresikan sebagai perilaku-perilaku dimana seorang individu perlu menunjukkannya. Kedua, diekspresikan sebagai standar minimum dari kinerja. Kompetensi didefinisikan sebagai karakteristik dasar yang mampu membimbing efektifitas dan kinerja yang menonjol.

Bagi perusahaan dan dunia pendidikan di negara-negara maju, tenaga pendidik, dan tenaga kerja memiliki standar kompetensi tinggi. Faktor nepotisme, primordialisme dan kedekatan diabaikan.

Berbeda pada masyarakat yang hidup di negara berkembang. Dalam menjalankan aktivitas ekonomi,  pelaku usaha memiliki standar yang berbeda-beda. Misalnya dalam memilih karyawan yang bekerja, ada yang mempertimbangkan kemampuan (kompetensi) secara ketat dan ada juga menggunakan alasan sisi kemanusiaan, kedekatan dan kekerabatan.

Sebagian pelaku usaha memilih karyawan berdasarkan latar belakang pendidikan baik pendidikan umum maupun yang keahlian. Ada juga yang memilih karyawan dengan pertimbangan mampu dan terampil dalam bekerja, dan ahli mengelola keuangan dan lainnya.

Tidak sedikit pelaku usaha tidak mempertimbangkan aspek kompetensi, tetapi lebih pada alasan kedekatan, hubungan keluarga, atau alasan kemanusiaan seperti mempekerjakan karyawan yang berasal  dari kalangan tidak mampu.

Pelaku usaha yang tidak menggunakan standar pendidikan dalam penerimaan karyawan juga mampu survive. Bagi mereka yang masuk kelompok ini menilai bahwa pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dalam bekerja tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal (SLTA atau Perguruan Tinggi), namun juga bisa dilatih.

Di sisi yang lain hadir pula pelaku usaha yang mempekerjakan karyawan dengan berkualitas, memiliki minat untuk bekerja yang tinggi hasilnya pun optimal dan hingga kini mampu bertahan.

Solidaritas dan Kebersamaan

Selain dimensi formal seperti pendidikan, pengalaman dan modal usaha, dimensi lainnya adalah solidaritas dan kebersamaan penting untuk selalu ada dalam mengelola usaha.

Ada pelaku usaha yang mengedepankan aspek keahlian (kompetensi) dalam memilih karyawannya, misalnya pengelola rumah makan dalam memilih koki diutamakan yang berpengalaman dan ahli pada masakan tradisional dan juga masakan modern.

Pada bagian yang lain misalnya untuk urusan pembukuan dan keuangan diutamakan lulusan ekonomi yang berpengalaman.

Tidak cukup sampai disitu, untuk mengasah kemampuan karyawannya, pemilik usaha selalu memotivasi karyawannya dan melatih dengan menu-menu yang baru dengan mendatangkan koki dari rumah makan lain yang ternama.

Tidak semua pemiliki usaha dalam merekrut karyawan mengutamakan aspek kompetensi dengan standar keahlian tertentu, tidak sedikit pengusaha mengutamakan aspek kemanusiaan karena ingin membantu orang yang tidak mampu secara ekonomi dan kekeluargaan.

Tentunya pilihan ini mengandung resiko karena pemilik usaha harus memberikan pengetahuan yang dibutuhkan. Untuk mengatasi minimnya ketidakmampuan tersebut pemilik usaha memiliki kiat untuk meningkatkan kualitas karyawan dengan menyertakan karyawan ikut pelatihan-pelatihan baik yang diselenggarakan oleh pihak swasta maupun oleh Dinas tertentu seperti Pariwisata.

Demikian juga pemilik usaha keramba ikan harus memliki keterampilan dan kemampuannya dalam mengelola bisnis ikan mas dan nila. Pengetahuan pembibitan dan pemeliharaan ikan menjadi penting karena jika  tidak didasari pada pengetahuan yang benar akan memperoleh kegagalan dan kerugian. Tidak sedikit petani keramba yang “gulung tikar” karena memulai usahanya hanya coba-coba tanpa dibekali pengetahuan yang cukup.

Misalnya, untuk membeli bibit ikan saja diperlukan pengetahuan tentang berat ideal ikan produktif, kesehatan ikan atau tidak sakit dan layak jual. Bibit ikan mas dan nila yang bagus dipelihara beratnya minimal 1 ons dengan estimasi masa panennya lebih pendek hanya 2-3 bulan. Jika bibit ikannya terlalu kecil dan masa pemeliharaannya terlalu lama, terancam gagal panen.

Satu hal penting yang perlu dicatat adalah, karyawan yang memiliki kompetensi tidak akan menghasilkan perilaku maksimal yang berorientasi pada pelanggan jika pekerja  tersebut tidak diberikan kebebasan, keleluasaan, dan kemandirian dalam mengendalikan pekerjaannya baik yang mencakup keputusan inti berkenaan dengan pekerjaan, kerangka waktu, maupun isi yang berhubungan dengan substansi keputusan (Cut Zurnali, 2010).

Artinya, setiap aktivitas usaha memerlukan pelaku-pelaku usaha yang berkompeten. Namun aspek kebebasan dan kemandirian dalam berkarya menjadi sisi lain yang perlu diperhatikan, karena turut mempengaruhi kesuksesan usaha tersebut. Wallahu A’lam.

 

Check Also

Pendidikan Daerah Terpencil

Oleh Verawati MABMonline.org, Pontianak — Pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan nasional, sebagaimana tujuan pembangunan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *