Home / Jurnalisme Warga / Kopi dan segudang cita-cita

Kopi dan segudang cita-cita

Oleh  Rizqiyah

MABMonline.org, Pontianak–Pemuda bertubuh ramping itu, berjalan seraya menjajakan minuman. Beragam minuman ia jajakan,  kopi, susu, kopi susu, dan minuman lainya. Sesekali dia duduk, geranjang yang berisi jenis minuman dan dua termos itu ia jinjing kemana-mana dan sesekali ia letakkan dipundaknya, tak jarang penjual minuman malam itu harus duduk untuk istirahat.

Pemuda itu adalah Muhammad Dili, pria asal Madura ini adalah penjual asongan, berbagai jenis minuman ia jajakan bagi pengunjung yang datang, Dili hanyalah salah satu dari para penjual asongan yang ada di Taman Ismail Marzuki.

Dili menghampiri ku, ketika kami asyik ngobrol, seraya menjajakan minumannya.

“Mau minum kopi mas?” Dia menyapa,

”Sini duduk”,  pinta ku.

Kemudian Dili menurunkan geranjang, dan menawarkan minumannya.

“mau minum kapi atau Susu?”,  kamipun memesan kopi susu tiga gelas.

Profesi menjajakan minuman ini, sudah lama ditekuninya, ia datang dari Plangkeren, sebuah desa  yang berada di Kabupaten Sampang. Dia datang ke Jakarta bersama saudarannya.

Taman Ismail Marzuki, atau TIM biasa orang menyebutnya, lokasi yang tak jauh dari Monas itu merupakan tempat ajang para seniman untuk melakukan aktifitasnya. Suasana yang nyaman amat terasa, sinar lampu yang tidak terlalu terang membuat tempat ini selalu menjadi pujaan bagi para penikmat wisata malam di Ibu Kota.

Tempat ini juga di lengkapi dengan ruang pertunjukan yang sangat bagus tepat di belakang panggung  ini, dan masih banyak fasilitas yang dapat di nikmati seperti gedung pertemuan, kampus jurusan seni, dan bahkan buku-buku kalsik dan baru dijual ditempat ini.

Suasana yang ramai membuat tempat ini seolah masih “awal” padahal waktu sudah larut malam, dari kejauhan terdengar suara gitar, biola,terlihat juga orang yang sedang memainkan drama dan beberapa orang asyik berkumpul, entah apa yang mereka bincangkan sehingga sesekali mereka tertawa terbahak – bahak, ada yang bermain gitar sambil bernyanyi, ada yang sedang berpuisi, dan ada juga yang sedang belajar berakting. Pemandangan malam itu sungguh sangat asyik dan saya pun larut dalam aksi – aksi mereka.

Tempat yang panjang dan melingkar, seperti panggung dengan dua tiang  itu, penuh di tempati para pengunjung, di pinggir jalan tepat di muka panggung ini banyak orang yang sedang menjajakan barang dagangannya mulai dari tukang bakso, pangsit, gorengan dan sate. Para pedagang itu sibuk dengan para pembelinya.

Kontras dengan pemandangan di samping “panggung” ini, deretan mobil mewah parkir di halaman kafe, sesekali terdebgar alunan musik “barat” yang tak banyak orang paham dengan arti lagu itu, namun di “panggung”  ini aku dan teman-teman dapat menikmati musik anak jalanan yang sulit untuk dibedakan apakah mereka mahasiswa seni atau hanya pemain musik jalanan yang hidup dari petikan gitar dan gendang galon, tapi inilah ibu kota banyak yang tidak dapat di tebak.

Diantara hiruk pikuk malam itu kecerian saya pun tak dapat terbendungi, dua artis yang saya sering dilihat di TV itu, bereda dalam lingkaran tempat kami duduk, Omesh dan Fangky Papua, dua artis itu turut memeriahkan suasana yang beranjak semangkin malam. Saya hanya bisa menyapa dan bersalaman, sebab ia harus bermain dengan teman – teman mereka.

Dili pun bercerita bahwa di tempat ini banyak orang Madura yang jualan, mereka jualan sate, kopi, mie ayam dan bakso.

Dili pun ikut dalam perbincangan kami, dia bercerita banyak bagaimana ia bisa datang ke ibu kota.

Kadatangan Dili ke ibu kota bukan tanpa alasan, kacong Madura ini punya segudang mimpi, mimpi besar yang membuat ia rela malam dijadikan siang hanya demi mengejar impiannya,

“Aku hanya ingin membiayai adikku yang sekarang masih sekolah di bangku SD, aku memiliki dua adik kelak mereka harus merubah keadaan ekonomi keluarga ku, aku tidak ingin adikku bekerja dan meneruskan usaha yang selama ini akau tekuni, dulu ketika aku masih di bangku SD, ayahku sering memberi ku semangat untuk tetap sekolah agar kelak aku menjadi orang yang sukses namun, nasib berkata lain ayahku terbelit hutang kepada Bos tempat ayah bekerja akhirnya kesulitan ekonomi tak terbendungi dan akupun putus sekolah, tapi aku pasrah dan bersyukur masih bisa berbuat untuk adikku”.

Mendengar cerita Dili, aku teringat akan perjalanan hidup ku sewaktu masih kecil dulu,  nasib memang tidak dapat di tebak, dan aku ingat apa yang sampaikan oleh pujangga dan budayawan Madura D. Zawawi Imron

mun penter bedeh gurunah

mun mojur tadek gurunah

 yang artinya kurang lebih “ kalau pintar ada gurunya, kalau nasib baik tidak ada gurunya”.

“Orang tua mu masih lengkap, dan kenapa kamu datang ke sini?” tanya ku.

“Saya datang ke Jakarta ini hanya untuk mengubah nasib, di Madura aku tinggal bersama kedua orang tua, adik – adikku masih kecil aku empat  bersaudara kakakku yang paling tua hidup dan tinggal bersama suaminya dan ia jarang pulang untuk menjenguk orang tuanya, jadi aku harus membantu ibu dan bapak untuk meringankan beban hidup. Bapak ku berprofesi sebagai nelayan sementara ibuku hanya buruh tani. Hidup dari hasil mencari ikan tidaklah seenak yang kita bayangkan ayah ku harus menantang ombak demi hasil tangkapan yang ia inginkan tak jarang ia  mengalami kecelakaan saat berada di laut lepas perahu bocor, dan kapal terguling karena dihantam ombak”.

“Kamu tamatan apa?”

“SD Mas… selepas SD saya langsung kesini mas, ya… sekedar mencari nafkah karena di Madura, susah nyari duit”,  tambahnya.

“Sudah berapa lama tinggal di Jakarta dan tinggal dimana?” aku kembali bertanya.

“ Kurang lebih dua tahun Mas… tempat kost ku tak jauh dari tempat ini”. Dili sambil menjukkan tanganya kearah belakang TIM.

Suasana semangkin malam, para pedagang kopi dan pedagang lainnya, mulai mengemas barang – barang jualan mereka, dan Muhammad Dili pun sibuk mengemas barang – barangnya, wajahnya tampak lesu.

Dili hanya segelintir orang Madura yang mengadu nasib di Ibu kota, masih banyak orang Madura yang mencari nafkah di Jakarta dan mereka memiliki profesi yang berbeda-beda dari birokrat, politikus, artis, bahkan pedangan asongan.  Madura yang gersang membuat warganya harus mencari penghidupan di luar Madura, dan falsafah Madura mengatakan a benthal ombek, asapok angin berbantal ombak berselimut angin.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *