Home / Budaya / Kuda Lumping Di Tanah Perantauan

Kuda Lumping Di Tanah Perantauan

Oleh Fitri Aprilliyah

Pontianak-
-Liuk gemulai gerakan tubuh, diiringi suara rancak gamelan yang mendayu-dayu. Letusan kecil ayunan pecut membuat suasana pertunjukan jaranan atau kuda lumping membuat ratusan pengunjung tak beranjak dari tempatnya.
Adat kesenian tradisional jaranan tersebut digelar masyarakat khususnya suku Jawa dalam acara khitanan di jalan 28 Oktober, Pontianak, Ahad, 5 Mei 2013. Namun sangat disayangkan seiring kemajuan zaman, seni luhur warisan nenek moyang kita itu harus timbul tenggelam ditelan zaman. Masyarakat sekarang banyak yang lebih melirik dan menggandrungi hiburan organ tunggal ketimbang kesenian tradisional jaranan.
“Hanya sedikit warga Jawa yang menjadikan jaranan ini sebagai salah satu acara dalam pernikahan dan acara lainnya. Mereka lebih memilih hiburan yang penuh dengan hiruk pikuk musik dan lagu-lagu. Mungkin  kerena jaranan ini sudah tua sehingga dianggap kuno atau mungkin memang sudah tidak diminati lagi. Padahal, kesenian tradisional ini sangat bagus. Selain melestarikan kesenian tradisional, kesenian ini juga sebagai salah satu pemersatu suku Jawa terutama yang ada di perantauan seperti di Pontianak ini,” ujar pak Tardi, penyelenggara acara Kuda Lumping di sela pertunjukan jaranan tersebut.
Lanjut Pak Tardi, selama ini masyarakat yang memiliki kegiatan lebih memilih meramaikannya dengan menggelar hiburan Organ Tunggal. Namun setelah ia dan beberapa tokoh masyarakat Jawa membuka kesenian jaranan, sebagian besar warga yang ada di wilayahnya mulai menjadikan kesenaian tersebut sebagai sarana untuk meramaikan setiap acara.
Walaupun acara ini berasal dari suku Jawa, namun masyarakat dari suku lain juga terlihat tertarik dan antusias bila acara ini diselenggarakan.  Terbukti dari banyaknya penonton yang melihat kesenian ini. Bukan hanya masyarakat Jawa yang menyukainya, ternyata generasi dari suku lain juga tidak mau ketinggalan bila ada acara kesenian seperti ini, tandasnya.
Kesenian jaranan ini tidak membutuhkan biaya yang mahal, namun bergantung dari orang yang punya hajat. “Jika mereka meminta dua hari pertunjukan digelar maka akan kita lakukan dan lokasi juga dapat menentukan besar kecilnya biaya. Namun, biaya ongkosnya maksimal kita tentukan sekitar 2,5 juta,” ucapnya.

Meski terlihat seperti orang kesurupan, lanjut Pak Tardi. Namun, para penari jaranan tidak ada yang membahayakan penonton bahkan dari jarak dekat sekalipun. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya penjaga para penari yaitu pawang. Karena pawang dapat mengendalikan para penari jika terjadi sesuatu yang dianggap di luar kendali.

Check Also

Karman: Kita Merasa Sangat Puas dengan Kinerja Dewan Juri

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—Karman, ketua panitia Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX, merasa puas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *