Home / Jurnalisme Warga / Kue Serabi; Makanan Tradisional Penopang Hidup Aini

Kue Serabi; Makanan Tradisional Penopang Hidup Aini

Kue-SerabiOleh Rita Indah Sari

Pontianak–Sore itu pukul empat. Dari kejauhan tampak gerobak berwarna putih bergerak di Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak. Didorong oleh Yanto (34), seorang laki-laki bertubuh kurus dengan celana panjang hitam dan baju model polo berwarna abu-abu. Ia melenggang dari arah Barat, kemudian merapatkan gerobak berisi jualan kue serabi di trotoar jalanan. Tak ada rasa canggung di wajahnya.

Dengan cekatan Yanto yang asli kelahiran Sungai Ambawang, Pontianak, mulai menata dagangan yang telah ia persiapkan dari rumah. Tepung Beras, Telur, Santan yang telah jadi adonan, ia tata kembali di sebuah baskom yang cukup besar.  Setelah selesai menata makanan, ia menggelar tikar yang ia letakkan tepat di depan sebuah rumah. Sebatang rokok menemaninya menunggu pelanggan yang datang.

Seorang pelanggan, Rio (22), mengatakan, “Harganya murah, rasanya juga mantep Mbak,” tutur Rio sambil menikmati Serabi buatan Yanto. Menurutnya, dengan harga seribu rupiah per buah, rasa yang ditawarkan tidak kalah dari Serabi yang dijual di toko-toko dengan harga selangit.

Yanto bersama istrinya, Aini, telah berjualan kue tradisional ini selama 10  tahun. Sebelumnya Aini masih bekerja sebagai pembuat kue Serabi untuk toko orang lain di daerah Sui jawi. 2 tahun terakhir, mereka memberanikan diri membuka warung kue tradisional Serabi dengan modal sendiri.

Selama berjualan di banyak tempat, baru di Kom Yos Sudarso inilah ia merasakan serabi buatannya laris diburu pelanggan. Mulai dari karyawan, masyarakat setempat hingga mahasiswa menjadi pelanggan setianya.

Sebelum memilih untuk menjual Serabi, Aini pernah mencoba berjualan bermacam-macam usaha. Sampai pada satu titik, ia memilih untuk menjual serabi sebagai mata pencahariannya. Ia merasa lebih mudah dalam proses pembuatannya dan lebih menguntungkan.

Ibu dari empat orang anak ini, kini mantap menjadikan Serabi sebagai penopang hidup keluarganya.

Pembuatan kue Serabi

Di rumah kontrakan kecilnya di darah Jeruju, ia bersama satu orang pekerja dan terkadang dibantu anaknya mulai mengolah bahan-bahan Serabi pada pukul 07 pagi dan selesai sekitar pukul 12 siang. Bahan-bahan pembuat Serabi sebenarnya sudah mulai dimasak pada hari sebelumnya, hari itu ia tinggal membawa adonan yang telah dibuat di rumahnya itu.

Dengan satu buah kompor di dalam rumah dan dua buah anglo di luar rumah, ia mengolah bahan-bahan menjadi racikan kue serabi yang nikmat. “Saya bisa membuat kue Serabi ya cuma belajar dari orangtua, sambil mencoba-coba sendiri.”

Sekitar pukul 14.00 perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Setelah memasukkan semua barang dagangan ke gerobak. Sang suami, Yanto, membawa ke emperan trotoar di tepi jalan Komyos Sudarso.

Yanto memilih untuk berjualan pada pukul empat sore karena menurutnya pada waktu itulah banyak orang yang ingin memakan kue. Terbukti, belum saja Yanto usai menata tikar sudah datang beberapa pelanggan.

Perjuangan hidup telah menjadikan mereka sosok yang kuat dan tabah menghadapi cobaan. Pak Yanto hanya libur ketika badan terserang penyakit. Hal ini semata-mata karena ia takut para pelanggannya kecewa ketika melihat warungnya tutup.

“Dulu anak-anak ketika masih kecil sering saya bawa berjualan. Saya naikkan ke gerobak ketika berangkat,” ungkap Aini sambil mengeluarkan air mata. “Sebenarnya tidak tega tapi di rumah tidak ada yang menunggui,” lanjut Aini.

Perjuangan untuk bertahan hidup adalah sesuatu yang benar-benar mereka pegang dalam hidupnya. Bagaimana ia harus jujur dalam menjalankan usaha dan bagaimana ia sedapat mungkin membantu orang lain yang sedang mendapat kesusahan.

Berapapun hasil yang ia peroleh, ia tetap mensyukurinya. Karena bekerja adalah bukan semata-mata bagaimana ia dapat menghasilkan uang dari kue serabi buatannya, namun juga bagaimana ia dapat membantu orang lain sedapat ia dapat membantu.

“Saya kadang kasihan, melihat anak-anak yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin mereka tidak punya cukup uang tapi mungkin lapar kepingin makan. Jadi saya enggan menaikan harga. Saya teringat anak saya,” pungkasnya sambil berkali-kali mengusap air mata.

Dalam benaknya, yang terpenting bukan semata-mata dirinya, tetapi adalah anak-anaknya. Bagaimana ia dan keluarga harus dapat tetap bertahan hidup berapapun hasil berjualan yang ia peroleh. Dapat menyekolahkan anak-anak dan berharap anak-anaknya menjadi orang yang berhasil adalah cita-citanya.

Check Also

Apa pun Suku Kita, Kita Harus Bangga

Oleh Rolah Sri Rejeki Situmorang MABMonline.org, Pontianak–Kebudayaan merupakan  suatu hal yang luhur yang patut kita …