Home / Jurnalisme Warga / Laskar Ungu Menyisakan Nama

Laskar Ungu Menyisakan Nama

Oleh: Hendra Sanjaya

MABMonline.org, Pontianak

Berdiri untuk diminati tapi tak begitu dikenali
Terombang-ambing oleh jati diri
Kini berjalan dikabut kelabu sunyi
Gajah mati meninggalkan gadingnya
Harimau mati meninggalkan belangnya
Laskar Ungu vakum menyisakan sejarahnya

Laskar Unggu, Ungu Mengudara.
Begitulah jargon yang sering diucapkan sejumlah aktivis seni yang tergabung dalam komunitas Laskar Ungu ketika mengakhiri latihan.
Berkenaan dengan Laskar Ungu, banyak orang yang belum mengetahui Laskar Ungu, termasuk mahasiswa yang ada di kampus FKIP yang tidak mengetahui bahkan anda para pembaca mungkin tidak tahu apa Laskar Ungu itu?
Diungkapkan seorang pria berkulit kuning langsat, berfostur 156 cm, Bahrudin namanya. Sambil diiringi
instrumen musik sendu dan dinginnya hembusan angin malam, dirinya mengatakan bahwa “Laskar Ungu ini dicetus oleh 2 mahasiswa PBSI angkatan 2008 yaitu Edi Sahudi dan Majinur Darlisanto, kecintaan mereka terhadap seni peran menjadikan tercetusnya ide untuk membuat komunitas Laskar Ungu.”

Laskar Ungu merupakan komunitas yang digaungi oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) regular A. Laskar Ungu ini ada karena sebagian mahasiswa Prodi PBSI yang sering mengisi acara dalam agenda-agenda yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Himbasi).

Sebagian mahasiswa PBSI mengenal Laskar Ungu sebagai wadah mahasiswa PBSI untuk mengembang minat dan bakatnya dalam memainkan peran, padahal Laskar Ungu ini adalah sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakatnya seperti teater atau seni peran, tari, musik,
vokal, akustik, dan sebagainya. “Memang, sebagian besar anggota Himbasi bahkan baik di dalam maupun di luar menganggap Laskar Ungu hanyalah teater, sedangkan tari, vokal, musik itu ndak, sebenarnya semua itu juga Laskar Ungu. Hanya  pada saat itu kendalanya adalah tidak adanya pelatih dan yang ada hanya pelatih teater sehingga orang mengenal Laskar Ungu itu komunitas teater atau seni peran.”

Laskar Ungu sendiri sudah sering unjuk kebolehan dalam membintangi beberapa acara yang diselenggarakan oleh Hima-Hima dan UKM yang ada di kampus FKIP atau kegiatan yang ada di luar kampus.
Eksistensi yang tinggi pada saat itu menjadikan komunitas Laskar Ungu sempat memperkenalkan diri pada komunitas-komunitas lain dalam pertemuan komunitas seni dalam acara parade teater yang diselenggarakan di Taman Budaya (TB) Pontianak. Ini membuktikan bahwa komunitas Laskar Ungu
sempat berjaya dimasa terbentuknya.
Sampai saat ini Laskar Ungu hanya terdengar sebuah nama, keberadaannya yang vakum membuat komunitas Laskar Ungu mulai terabaikan. ”Sebenarnya kata terabaikan itu tidak tepat karena Laskar Ungu selalu tampil pada saat acara yang diselenggarakan Himbasi, hanya karena jarak agenda yang terlalu jauh sehingga Laskar Ungu pun jarang tampil dan seolah-olah hilang.” Diungkapnya kembali. Bagaimana tidak dikatakan terabaikan, eksistensi Laskar Ungu yang kini hanya berpatokan pada agenda besar Himbasi turut memprihatinkan, sedangkan jarak agenda besar Himbasi membutuhkan 2-3 bulan ke depan baru diselenggarakan agenda tersebut, itu waktu yang sangat lama untuk Laskar Ungu unjuk kebolehan.

Sebagai komunitas yang berbaur positif sudah sepantasnya untuk dipertahankan, mengingat tidak banyak pemuda yang begitu antusias terhadap seni karena telah dikalahkan oleh era teknologi. Maka besar harapan kami bahwa Komunitas Laskar Ungu yang digaungi oleh para mahasiswa PBSI bisa terus maju dan membuktikan kempuannya dan tidak lagi hanya menyisakan nama.

Check Also

Darah Akhwal vs Keturunan Syarif

Oleh Mellisa Jupitasari MABMonline.org, Pontianak — Jumat, 7 Juni 2013. Deru suara motor dan mobil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *