Home / Jurnalisme Warga / Lempeng Sagu: Kue Tradisional yang Jarang di Pasar

Lempeng Sagu: Kue Tradisional yang Jarang di Pasar

Oleh Jumiatin Asri Rahmadhanti

Sambas — Suatu sore di saat hujan deras saya berbicara dengan Ining. Ining adalah sebutan untuk tante atau bibi dalam bahasa Sambas. Hujan deras sore itu membuat kami lapar.  Ining pun beranjak ke dapur, hendak membuat makanan. Ining mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak. Tadinya saya kira Ining akan membuat pisang goreng atau roti goreng. Ketika saya mendekat ternyata itu bukan tepung terigu yang biasanya untuk membuat pisang goreng atau roti goreng.

“Ning, mau buat kue apa?” tanya saya. “Mau buat lempeng sagu,” ujar Ining. Sudah lama sekali saya tidak memakan lempeng sagu, terakhir kali saya makan lempeng sagu 4 tahun yang lalu. Sebelumnya, saya juga pernah bertanya tentang lempeng sagu kepada Ining karena mendapatkan tugas membuat berita tentang kuliner khas Kalimantan Barat.

Ya, lempeng sagu adalah kue yang terbuat dari sagu. Lempeng sagu ini bukan hanya makanan atau kue khas Papua, Maluku, dan Riau, tetapi lempeng sagu juga kue khas dari Kalimantan Barat.  Kue ini tidak dijual di pasar, kue jajanan pagi atau di toko kue. Jadi, kalau ingin memakan lempeng sagu harus membuatnya sendiri.

Lempeng-saguIning pun langsung mengolah kue Lempeng Sagu. Pertama-tama, Sagu disangrai di atas api kecil, kemudian kacang yang sudah di tumbuk, kelapa, dan garam halus dimasukkan sambil terus dipercikkan air, diaduk hingga rata. Setelah matang, sagu tersebut diangkat dan dipindahkan ke teflon ukuran sedang, lalu diletakkan di atas api kecil lagi, kemudian sagu tersebut ditekan pakai sendok. “Biarkan selama 10 menit, kemudian dibalik dan biarkan lagi selama 10 menit, lalu diangkat,” ujar Ining.

Ining pun membuat sekitar 10 lempeng sagu dan menyajikannya di meja. Ining juga menyiapkan kelapa parut untuk ditaburkan di atas lempeng sagu sesuai dengan selara. Kemudian Ining kembali ke dapur mengambil sebuah mangkuk yang berisi gulai. Lempeng sagu siap disantap dalam keadaan panas. Kami pun menyantap lempeng sagu dengan lahap.

“Lempeng sagu ini tidak ada di jual di toko kue karena rasanya yang tidak terlalu disukai orang dan ketika memakan lempeng sagu enaknya dimakan pada saat keadaan panas,” ujar Ining. “Kalau ada toko yang menjual lempeng sagu, pasti lempeng sagunya dalam keadaan dingin atau ketika di toko lempeng sagu disajikan panas kemudian lempeng sagu tersebut dibungkus dan dibawa pulang ke rumah, lempeng sagu tersebut akan menjadi dingin dan membuat lempeng sagu tidak terlalu enak untuk dimakan,” Ining bercerita panjang lebar.

“Ining rasa beberapa anak muda sekarang tidak tau dengan lempeng sagu, anak muda sekarang hanya tau burger, pizza, dan spageti sedangkan makanan dan kue tradisional mereka tidak mengenal atau gengsi untuk memakannya,” ujar Ining.  Lebih lanjut Ining mengatakan, Lempeng Sagu merupakan makanan yang harus dilestarikan, karena merupakan kue tradisional. Dan juga harus diperkenalkan kepada anak muda dan masyarakat, supaya kue ini tidak punah atau diklaim sebagai kue negara lain.

(foto: MelayuOnline)

Check Also

Antar Ajung, Antara Tradisi dan Wisata

Oleh Nabu Sambas—Terdengar gendang rabana dan ratib. Lantunan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *