Home / Budaya / Adat Tepung Tawar Melayu, dari Kelahiran hingga Pindah Rumah

Adat Tepung Tawar Melayu, dari Kelahiran hingga Pindah Rumah

Oleh Jumiatin Asri Rahmadhanti dan Rifaatul Mahmudah

MABMonline.org, Pontianak–Bagi masyarakat, budaya merupakan kekayaan atau warisan dan bisa menjadi ciri khas dari suatu daerah. Beberapa problematika terkait budaya ialah terkikisnya budaya di masa mendatang dan berdampak bagi anak cucu kita dengan hilangnya aset Indonesia. Seperti yang kita bahas tentang budaya di Kalimantan Barat, begitu banyak suku di Kalimantan Barat seperti Melayu, Dayak, Bugis, dan Tionghoa menjadi begitu beraneka ragam budaya di Kalimantan Barat. Misalnya, pengenalan budaya Melayu: tepung tawar.

Adat tepung tawar masih dilakukan oleh sebagian orang, seperti Iwan dan Hilda. Iwan (34) dan Hilda (25) merupakan sepasang suami istri yang baru pindah rumah. “Dulu kami tinggal sama mertua, sekarang karena sudah membeli perumahan jadi kami akan tinggal di rumah baru,” ujar Iwan. Iwan menambahkan ia akan melaksanakan acara adat tepung tawar pindah rumah.

Pak Teh’, Surip, dan Tahir  orang diminta untuk melaksanakan Tepung Tawar yang biasanya disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan disebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Pak Teh’ adalah keluarga dari Iwan. “Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3, 5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat,” ujar Pak Teh.

Pak Teh’ menjelaskan hal-hal yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan adat tepung tawar.  “Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar, dan beberapa helai daun ribu-ribu. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda. Beras kuning secukupnya. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk” ujar Pak Teh’.

“Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk,” tambah Surip. Setelah perlengkapan lengkap maka acara Tepung Tawar bisa dilaksanakan.

Pada malam Jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu disuguhi jamuan berupa nasi, kue-kue, dan sup. Besok paginya tamu yang hadir tersebut diminta untuk hadir pula sekitar pukul  7.00 pagi. Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang istri di samping suami. Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang dipakai bebas, asal rapi, dan bersih. Kopiah yang dipakai ditanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.

Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang , ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si suami, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si istri.

Setelah memappas maka suami istri tersebut ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga. Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pula memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiap sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ke tempat khusus di belakang rumah.
Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi itu selalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Dalam acara tersebut juga menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, kue yang diberi gula merah, risoles, kue sus, dan minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.

budaya melayu kalbar

Di tempat terpisah, Jumat pagi (3/4) pukul 15.00 Wib sejumlah tamu undangan memenuhi kediaman Bapak Novianto untuk melaksanakan acara Tepung Tawar atas kelahiran anak pertamanya Farel yang beru berumur 40 hari. Acara atau upacara Tepung Tawar ini oleh masyarakat Melayu Sambas dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena telah dikaruniai anak.

Menjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, dan lain-lain. Waktu pelaksanaan Tepung Tawar umumnya pada pagi hari yang bertempat dikediaman orang yang melaksanakan hajatan tersebut.

Berbagai perlengkapan yang disiapkan tuan rumah di antaranya satu buah mangkok putih untuk tempat tepung beras yang telah dihancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang dibacakan air tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala juga digunakan untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari. Kemudian, beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-rbu.

Terakhir disediakan beras kuning secukupnya serta sebuah talam kecil tempat meletakkan mengkuk. Orang yang diminta untuk melaksanakan Tepung Tawar ini disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaannya disebut “Mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua yang ada di kampung atau keluarga tua terdekat.

Menurut Iwan, tradisi tepung tawar ini sudah dilakukan secara turun menurun. Bukan hanya saat pindah rumah tetapi juga saat akan melakukan pernikahan, ibu hamil, lahiran atau khitanan. “Maksud dan fungsi mengadakan acara tepung tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar sang istri, Hilda.

“Selain itu kami melaksanakan tepung tawar ini juga untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang kami, sekaligus melestarikan adat dan tradisi supaya tidak punah dan dapat diturunkan bagi anak cucu kami nantinya,” pungkas Iwan.

Check Also

Tradisi Gawai Dayak di Dusun Ensali

Oleh Ria Lestari MABMonline.org, Pontianak–Pada umumnya setelah berhasil melakukan sesuatu orang-orang akan mengadakan selamatan atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *