Kabar Terkini
Home » Pendidikan » Lupa dan Jenuh dalam Belajar

Lupa dan Jenuh dalam Belajar

Oleh Tiyas Erayati

MABMonline.org, Pontianak — Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Belajar merupakan salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Dengan belajar seseorang akan dapat memperoleh ilmu baik di dalam kegiatan formal (seperti sekolah) maupun eksternal (diluar sekolah). Namun ada peristiwa yang sulit untuk dihindari dalam belajar yaitu sering munculnya lupa dan kejenuhan dalam belajar. Peristiwa tersebut terjadi karena beberapa faktor yang mungkin dapat mendorong terjadinya peristiwa tersebut.

Pada artikel ini akan dibahas hal-hal pokok dalam belajar yaitu faktor-faktor yang menyebabkan lupa, kiat mengurangi lupa, dan selain itu gejala negatif yang akan dibahas yaitu kejenuhan dalam belajar.

Peristiwa Lupa dalam Belajar
Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita akan tetapi sulitnya kita dalam mengingat kembali apa yang telah dipelajari dan dialami sebelumnya.
Dapatkah lupa dalam belajar diukur secara langsung?
Witting (1981) menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang  tak mungkin dapat diukur secara langsung.

Faktor-faktor yang penyebab lupa
1.    Lupa dapat terjadi kerena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam konflik ini terbagi dua macam, yaitu Proactive interference dan retroactive interverence (Reber 1988; Best, 1989; Anderson, 1990).
Seseorang akan mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Sedangkan gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah terlebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut.
2.    Lupa dapat terjadi pada seseorang karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja maupun tidak sengaja. Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan, yaitu:
–    Karena item informasi ( berupa pengetahuan, tanggapan, kesan dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan, dan sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadaran.
–    Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan iten informasi yang telah ada, jdi sama dengan fenomena retroaktif.
–    Karena item informasi yang akan direproduksi (diingat kembali) itu tertekan kea lam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
3.    Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan sitiuasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Anderson 1990)
4.    Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu.
5.    Menurut Law of disuse (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa.
6.    Lupa dikarenakan perubahan urat syarat otak. Perubahan urat syatar otak ini biasanya terjadi karena sesorang terserang penyakit seperti keracunan atau kecanduan alkohol dan gegar otak, mereka akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.

Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Sebagai calon guru atau guru professional dapatkah Anda mencegah peristiwa lupa yang sering dialami para siswa itu? Lupa itu manusiawi dan mungkin Anda tak akan mampu mencegahnya secara keseluruhan. Namun, sekedar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa sering dialami para siswa dapat Anda lakukan dengan berbagai kiat.

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut:
1.    Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran  tertentu.
2.    Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktifitas belajar.
3.    Mnemonic devide
Mnemonic devide (muslihat memori) yang sering juga hanya disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. Muslihat mnemonic ini banyak ragamnya, tetapi yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai dibawah ini.
•    Rima (Rhyme), yakni sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat siswa. Rima sangat cocok apabila diterapkan pada anak TK, penyampaian materi pelajaran dengan diiringi nyanyian atau not-not akan menjadi lebih asyik dan mudah diterima oleh peserta didik.
•    Singkatan, yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Contohnya, jika seorang siswa hendak menghafal nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, dapat menyingkatnya dengan ANIM.
•    Sistem kata pasak (peg word system), yakni sejenis teknik mnemonic yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru. Sebagai contonya yaitu kata yang memiliki watak hampir sama seperti merah-saga, panas-api, pasangan kata langit dan bumi dan lain-lain.
•    Metode losai (Method of Loci), yaitu ikat mnemonic yang menggunakan tempat-tempat khusus yang terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Contohnya nama ibu kota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden pertama negara itu (George Washington) dan lain-lain.
•    Sistem kata kunci (key word system). Kiat mnenomik yang satu ini tergolong baru dibandingkan dengan kiat-kiat mnenomik lainnya. Kiat yang satu ini sangat cocok dalam menghafal kata dan istilah asing. Sistem ini berbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: 1) kata asing; 2) kata-kata kunci; dan 3) arti-arti kata asing tersebut.
4.    Pengelompokan
Maksud pengelompokan (clustering)  ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikan dan lafal yang sama atau sangat mirip.

Peristiwa Jenuh dalam Belajar
Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidah mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh dapat berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, di samping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negative lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut Learning plateau. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut telah memubazirkan usahanya.

Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperolehnya dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentang waktu tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu.

Jadi, lupa dan kejenuhan dalam belajar memang tidak dapat di hindari karena kedua peristiwa tersebut pasti akan terjadi, tapi untuk mencegahnya Anda dapat menggunakan kiat-kiat yang dapat membantu Anda dalam menghindari peristiwa tersebut seperti yang sudah tertera di atas.

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes