Home / Jurnalisme Warga / Mandi Safar Tradisi Masyarakat Melayu

Mandi Safar Tradisi Masyarakat Melayu

Oleh Marisa

MABMonline.org, Ketapang Safar umumnya disebut oleh suku Melayu dengan sebutan Safaran atau bulan naas yang dilakukan oleh masyarakat dari suku Melayu Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Ketapang. Pada bulan ini mandi safar menjadi suatu kewajiban bagi sebagian orang Melayu di Ketapang. Akan tetapi, bukan bagian dari kewajiban agama Islam. Pada umumnya mandi safar masih diamalkan oleh mereka yang masih tinggal di daerah pedalaman.

Upacara mandi safar yang dilakukan pada bulan Safar, umumnya di muara sungai maupun di gang-gang yang mempunyai parit–parit kecil dan juga di dalam rumah. Keluarga besar di dalam sebuah perkampungan yang masih mempunyai adat-stiadat yang kuat masih mengamalkannya. Jika tidak dilakukan pada tempat terbuka maka ada juga yang melakukannya di dalam atau pada tempat yang tertutup. Pada umumnya air yang disediakan adalah air khusus yang sudah dibacakan oleh tetua kampung.

“Ritual mandi Safar sebagai maksud untuk menolak bala bencana yang menimpa dan menjadi sebuah keyakinan masyarakat bahwa akan membawa kesialan bagi anggota badan jika tidak dibersihkan pada bulan tersebut. Akan cepat datangnya bala bencana karena bayaknya dosa-dosa yang ada di dalam tubuh manusia. Bala bencana berupa siksaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Keyakinan mandi-mandi tersebut bahwa hal ini akan terhindar jika dengan sungguh-sungguh memohon ampun dengan wujud mandi disungai yang dinyakini seperti dosa yang gugur mengikuti aliran air yang mengalir,” tutur Ferdi pengamal mandi safar di Ketapang.

Hari Rabu terakhir pada bulan Safar menjadi hari yang penting bagi suku Melayu, sampai kini belum ada yang bisa menjabarkan secara mendetil, mengapa harus harinya menjadi hari Rabu. Padahal, semua hari merupakan hari terbaik yang dijadikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk segala makhluk di atas muka bumi ini. Pagi hari sampai sorenya hari Rabu menjadi hari yang sangat bermakna pantangan dan larangan dengan hal-hal kehidupan menjadi sebuah kepercayaan masyarakat pendukungnya. Umumnya setelah salat Subuh mereka sudah mempersiapkan diri dengan tidak bekerja seperti biasa, hanya menunggu waktu tersebut sambil mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa pada upacara mandi Safar tersebut.

Menjelang seminggu sebelum hari Rabu terakhir bulan Safar, beberapa kaum kerabat sudah mempersiapkan di rumah masing-masing, para orang tua dan ibu-ibu berkumpul mengadakan kesepakatan tentang makanan yang akan dipersiapkan pada hari Rabu. Perlengkapan makanan yang akan dibawa ke tempat upacara. Makanan yang akan dibawa terutama ketupat lemak, nasi lengkap dengan lauk pauknya, juga sambal ikan teri yang menjadi menu utama dari makanan tersebut. Kue-kue tradisional, seperti apam, lepat lau, makanan ringan, dan buah-buahan sebagai perlengkapan makanan.

Check Also

Melestarikan Syair dan Pantun Meski Usia Tak Lagi Muda

Oleh Taazmiyah Pontianak–Sekitar pukul 8 pagi saya dan teman saya, Lia, Titin, dan Mar membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *