Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman: Tetap Kokoh Membungkus Usia

oleh Anggi Windi Asih

MABMonline.org, Pontianak — Gerimis tipis mengawali perjalanan kami. Hawa dingin menyerang. Saya, Anita, Adi Supriadi, serta Al-Amin menunggangi kuda besi menuju masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini terletak di Jalan Kampung Masjid, Tanjung Raya 1, Pontianak Timur. Untuk sampai ke masjid ini, kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit karena jalanan yang macet akibat gerimis.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak
Sesampainya di masjid, kami disambut lantunan ayat suci oleh peserta MTQ yang tengah mengikuti seleksi tingkat kecamatan. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang dilaksanakan di masjid ini. Peserta yang mengikuti seleksi tetap bersemangat walaupun gerimis dan hawa dingin menyelimuti.

Sepintas lalu masjid ini tampak biasa saja. Tidak ada kemewahan yang menghiasi arsitektur masjid ini. Atap sirap masjid ini tampak menghitam. Dinding serta lantai masjid yang menggunakan papan menambah kesan sederhana pada masjid yang berdiri di tengah pemukiman warga.

Segera saja kami menemui jamaah yang tampak sedang asyik mengobrol. Kami pun mulai memperkenalkan diri. Lalu kami mulai membuka obrolan mengenai sejarah masjid ini. Tak disangka, Bapak Jafar, salah satu jamaah masjid mengetahui sejarah masjid ini. Beliau juga bersedia kami wawancara.

“Masjid ni berdiri pertame kali tanggal 23 Oktober 1771 M, pendiri masjid ni adalah Sultan Syarif Abdurrahman.” Bapak Jafar menjawab pertanyaan kami mengenai awal mula berdirinya bangunan ibadah umat Islam yang diklaim sebagai masjid tertua di Pontianak ini. Ternyata, desain arsitektur masjid ini mampu menyembunyikan usia masjid yang tahun ini genap berusia 242 tahun. (2013, red)

“Tiap kota Pontianak ulang tahun, masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga ulang tahun,” jelas Bapak Jafar kembali dengan senyum yang menyamarkan usianya yang telah memasuki 60 tahun.

“Kami sengaje pertahankan arsitektur asli masjid untuk jage keaslian masjid, kami juga jage corak cat masjid yang terdiri dari warna kuning dan hijau, kan dulu kerajaan, jadi pake warna itu. Ada mimbar juga, mimbar tu asli, umur mimbar tu juga same dengan umur masjid karena sejak awal masjid ini dibangun, mimbar tu juga udah dibuat. Masjid ini kan juga model lantai panggung, untuk menonjolkan corak bangunan Melayu,” Bapak Jafar menjelaskan dengan runtut.

Mengenai dana perawatan masjid yang merupakan saksi bisu sejarah Islam sekaligus peninggalan budaya Melayu di Pontianak ini, Bapak Jafar menjawab “Untuk biaye perawatan masjid, Pemkot ade bantu, biase setahun sekali Pemkot ade kasi kite dane untuk ngerawat masjid. Selain tu, ade dane dari jamaah jugalah yang bantu sokong biaye perawatan masjid.”

Kami melanjutkan wawancara kami dengan santai. Saat ditanya mengenai posisi Bapak Jafar dalam kepengurusan masjid ia menjawab “Saye imam di masjid ini, udah 20 tahun saya jadi imam di sini, untuk ketue pengurus masjid ni masih keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman. Ketue kepengurusan masjid ni dijalankan secare turun temurun.” Ia menambahkan, “Saya senang karena bisa jadi imam, apalagi di masjid yang bersejarah macam masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ni, kita kan makhluk hidup, harus saling berbagi tentang ilmu yang kita punya, supaya hidup ni jadi bermanfaat bagi orang lain kan,” jelas Bapak Jafar sembari tersenyum kembali.

Sembari berbincang, kami berkeliling masjid untuk mengabadikan bagian-bagian masjid ini. Ketika kami berkeliling, kami menghitung ternyata masjid ini memiliki jumlah pintu yang tidak biasa. Terdapat 21 pintu secara keseluruhan dari bangunan masjid ini. Pintu-pintu ini dibagi menjadi 3 pintu besar, serta 18 pintu berukuran normal.

Sile bace ga’: Masjid Mujahidin: Rumah Ibadah atau Studio Foto?

Setelah mengabadikan beberapa bagian masjid, kami pun pamit pada Bapak Jafar. “Main-main jak lagi ke sini kalo ade yang mau ditanya,” pesan Bapak Jafar yang tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid.

Setelah pamit kami kembali menjemput kuda besi kami yang kami kandangkan di istal area parkir masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Perjalanan kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya pribadi. Saya kagum dengan kekokohan masjid ini yang terbungkus kesederhanaan. Kesan mewah ternyata tidak selamanya menggambarkan sejarah suatu bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *