Kabar Terkini
Home » Jurnalisme Warga » Maut Mengintai di Simpang Tayan (Catatan Perjalanan)

Maut Mengintai di Simpang Tayan (Catatan Perjalanan)

Oleh Hendara Sanjaya 

MABMonline.org, Pontianak—Panas  terik matahari pukul 14.00 WIB tidak menyurutkan keinginan sejumlah mahasiswa yang baru saja selesai ujian untuk pulang kampung. Kerinduan besar kepada orangtua dan keluarga lainnya, serta tugas sastra daerah yang ditugasi oleh Dr. Christanto Syam yang menyuruh para mahasiswa tersebut meneliti sastra di daerah masing-masing mendorong mereka untuk segera sampai di kampung halaman, Sabtu, (17/4).

Aku, Hendra Sanjaya satu di antara mahasiswa tersebut yang punya keinginan kuat untuk balik kampung. Saat itu aku belum pernah balik ke kampung dengan mengendarai motor. Namun, dengan keinginan dan tekad yang kuat, aku memberanikan diri untuk pulang dengan mengendarai motor. Waktu itu aku juga membawa seorang gadis jangkung, berkulit putih, dengan gaya ala-ala korea. Aku membiarkannya duduk di belakangku, namanya Ria Lestari. Dia adalah teman sekelas sekaligus teman satu daerah. Jadi, pada saat itu dia pulang bersamaku. Lagipun rumahnya satu arah dengan tempatku. Oh ya, temanku yang lainya adalah Sugiono, Gracia Ganesha, dan Lidia Wati. Mereka mengendarai motor masing-masing.

Sebenarnya, perjalanan dari Pontianak ke Sekadau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam bagi orang yang sudah terbiasa mengendarai motor. Akan tetapi, tidak untuk kami. Kami menempuh dari kota Pontianak pada pukul 14.00 WIB hingga sampai di tempat tujuanku desa Rawak Hilir pada pukul 21.45 WIB. Bayangkan! Waktu yang begitu lama.

Dalam perjalanan, banyaknya kendaraan beroda empat, seperti truk dan mobil, cukup membuat kami khawatir karena kecepatan rata-rata kendaraan tersebut di atas maksimum. Jalanan yang berbelok-belok juga memperparah kegelisahan kami. Posisi kami yang terselip di antara kendaraan tersebut, semakin menambah rasa gemetar. Terasa gemetar bukan karena teman di belakangku, tetapi bahaya yang siap untuk menyergap kami.

Sesampai di daerah yang kendaraan beroda empatnya kurang banyak itu, aku merasa letih dan mengantuk, sehingga motor yang aku kendarai itu hampir terpeleset. Motorku terlalu ke tepi jalan hingga banyak orang yang mengendarai motor mengingatkan kami. Sontak saat kejadian tersebut terjadi, Ria teman di belakangku menyarankan, “Hen, kalau capek atau ngantuk kita giliran posisi jak, aku yang bawa motor.” Yah, pada saat itu aku memilih untuk masih mengendarai motor, sebenarnya sedikit gengsi karena dibawa sama cewek.

Cahaya Matahari sudah mulai memudar, tetapi perjalanan masih cukup panjang. Badan sudah sangat terasa letih karena itu baru kali pertamanya saya balik menggunakan motor. Walau tidak merasa sesal, terasa sekali penat pada kedua tangan. Di jalanan yang mulai berbelok, menanjak, dan menurun aku mulai merendahkan kecepatan motor, seiring dengan semilir angin sejuk yang menerpa badan. Aku kembali melajukan kecepatan di jalan yang mulai lurus walaupun masih banyak tikungan. Itu kulakukan karena kami terlalu jauh tertinggal dari teman yang lain.

Seratus kilometer per jam kecepatan motor yang ku kendarai membuat kami melaju kencang, tak ada kekhawatiran pada saat di perjalanan yang sudah mulai dekat dengan simpang jalan Tayan. Ada satu hal yang perlu para pembaca ketahui bahwa haruslah berhati-hati meskipun anda sudah pandai mengendarai motor dan jangan mengabaikan rambu lalu lintas karena pada saat anda mengabaikan itu, maut siap menyergapmu tanpa kamu sadari. Seperti kesalahan yang aku lakukan. Kecepatan motor yang terlalu kencang, serta aku yang mengabaikan rambu lalu lintas hampir membuat kami jatuh ke dalam jurang maut. Bagaimana tidak, rambu lalu lintas yang bertuliskan 20 km/jam, aku tempuh dengan 100 km/jam. Aku mencoba untuk memperlambat kendaraan, sedangkan jalan yang kami hadapi tikungannya terlalu membentuk huruf U, dan rem motor yang aku tekan tidak mampu untuk menghentikan kecepatan yang sudah terlanjur kencang. Motor menjadi tidak seimbang, di depan kami ada jurang yang cukup dalam, rasa yang aman tadi mulai berubah mencekam, perasaan menjadi lebur karena tak bisa berpikir jernih, ditambah lagi tiba-tiba 2 truk melintas, meskipun kecepatannya tidak terlalu kencang, tapi membuat jantung berdebar kencang. Untungnya pada saat itu motor yang aku kendarai sudah berhenti, tapi kami berada di tepi jurang dan kami berada di jalur yang salah, mereka yang mengendarai truk tersebut hanya terpana melihat kami, terpana bukan karena kami begitu hebatnya tapi begitu cerobohnya sehingga hampir menceburkan diri ke dalam jurang yang akan membawa kematian.

Kutenangkan perasaan walaupun sedikit terganggu oleh omelan teman jangkungku. Aku melihat di tanah yang kupijak terdapat banyak serpihan kaca akibat kendaraan yang terjatuh. Wajar saja teman jangkungku mengomeliku. Kami hampir saja berakhir di jurang tersebut. Banyaknya serpihan kaca itu sebagai bukti bahwa tikungan itu hampir merenggut jiwa kami.

Kami mulai bertukar posisi. Teman jangkungku itu yang giliran mengendarai motor. Perasaan gengsi ku tinggalkan sebentar karena badanku yang masih gemetar tak lagi bisa mengendarai motor.

Dalam perjalanan aku merasa begitu aman. Teman jangkungku itu mengendarai motor dengan santai. Dia terlihat sangat berhati-hati mengendarai motor. Dia seolah-olah ingin menunjukan cara mengendarai motor dengan baik. Setiba mendekati pemukiman. Dia mengarahkan motor kesamping kanan, sambil melihat ke belakang. Perilakunya itu membutku terheran. Ternyata, ia mengarahkan motor ke suatu warung. Warung tersebut adalah tempat penjualan berbagai produk minuman dan makanan. Kami segera memilih makanan dan minuman. Pikiranku yang begitu kacau sekarang sudah terasa jernih. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan.

Motor masih dikuasai teman jangkungku. Dia membawa motor begitu santai. Terlintas dalam pikiran bodohku. “Begitu lambatnya dia mengendarai motor.” Padahal itu demi keselamatan kami. Tidak terasa, kami sudah berada di jalan Tayan. Teman jangkungku menghentikan motor yang sedang ia kendarai. Aku dan teman jangkungku mulai menghubungi teman yang lain. Ternyata mereka sudah berada di warung makanan. Entah apa nama warung tersebut yang pasti warung tersebut tidak jauh dari persimpangan jalan Tayan. Kami pun mulai melirik ke arah  beberapa warung. Bak pencuri yang sedang mengintai sasaran. Kami pun menemukan sasaran yang diintai. Kami beristirahat di warung tersebut, sambil bercerita tentang kajadian yang hampir merenggut jiwaku dan teman jangkungku itu.

Beberapa saat kami beristirahat. Sugiono teman alimku itu mengajak salat. Harus para pembaca ketahui bahwa di warung tersebut tersedia tempat untuk salat. Jadi, tidak perlu khawatir jika mau salat. Kami pun melaksanakan salat asar berjamaah. Walaupun ruangannya tidak begitu besar, cukuplah untuk 5—7 orang untuk salat. Di ruangan itu juga tersedia mukena, sajadah, peci, dan sarung. Setelah itu kami pun minum dan makan di warung itu.

Kami mulai melanjutkan perjalanan. Kini aku kembali menguasai motor lagi. Teman-temanku pun mulai menasehati. ”Hen, bawak motornya santai jak, kita ndak usah ngebut.” Aku bagaikan mendapat pembelajaran 2 SKS dari dosen. “Iya,” hanya itu jawabanku.

Sudah cukup jauh perjalanan yang kami tempuh. Situasi di jalan yang kami tempuh bertolak belakang dari jalan sebelumnya. Jika jalan dari Pontianak sampai ke jalan simpang Tayan itu mulus, berbelok menanjak, dan menurun, jalan Tayan menuju sosok itu berlubang, berlumpur, dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin untuk orang gemuk ini bisa menjadi satu di antara cara menurunkan berat badan karena Anda harus siap untuk muntah-muntah dan nafsu makan hilang. Bagaimana tidak? Badan anda tergoncang bagaikan minuman Coca cola yang dikocok dan ketika dibuka tutupnya akan mengeluarkan banyak buih-buih. Begitulah rasanya ketika melewati jalan Tayan tersebut.

Kini kami sudah berada di Sosok. Hari sudah memperlihatkan sisi gelapnya. Kumandang azan magrib terdengar saling bersahutan. Kami semua memperlambatkan kendaraan. Sesekali kami melewati lampu yang bersinar di tepian jalan. Semilir angin menambah sejuknya perjalanan.

Aku mulai menambah kecepatan motor. Dari kejauhan terlihat sinar lampu mobil. Pada saat itu kami sudah menuju Sanggau. Kaca helm kubuka ke atas karena warnanya gelap. Sinar terang pada lampu mobil membuat penglihatan silau. Ketika berpapasan dengan mobil itu, aku mengarahkan motor ke tepian jalan. Aku tidak menyangka ternyata jalan yang kami lewati begitu hancur sehingga kami masuk ke dalam lubang dan terlambung ke atas. Kami melepaskan sedikit tawa pada saat kejadian tersebut. Hanya dalam beberapa senggang waktu kami terus mendapatkan rintangan di perjalanan.

Sanggau pun sudah berada di pijakan kami. Saat kami berhenti, aku mencari ponselku. Ternyata ponselku tidak ada. Aku baru menyadari ketika di perjalanan. Kami terpental karena masuk lubang.  Kemungkinan ponselku terjatuh pada saat itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Bagiku ponsel hilang bisa dibeli, tapi jiwa hilang tak kan pernah bisa dibeli.

Pada saat di persimpangan kami mulai berpisah di persimpangan itu. Aku tidak tahu apa nama persimpangan itu. Kedua temanku, Gracia Ganesha dan Lidia Wati harus menentukan jalan mereka. Walau berat untuk berpisah karena tak bersama lagi, tiga hari kemudian kami pasti akan bersama kembali. Aku yakin itu.

Kami pun tinggal bertiga, yaitu aku, teman jangkungku, dan Sugiono. Kami menentukan perjalanan kami menuju Kota Sekadau. Kini teman jangkungku yang mengendarai motor. Ketika kami berada di pertengahan jalan menuju Kota Sekadau, entah tiba-tiba teman jangkungku mulai bersikap aneh. Dia mengatakan, “Kok motornya berjalan sendiri ya? Padahal, aku ndak ada ngegas motor.” Sedangkan yang ku pikir itu hal yang sangat wajar karena kami berada di jalan yang menurun. Aku mulai kasihan dengan teman jangkungku, mungkin dia sudah kecapaian mengendarai motor dan rintangan yang kami lewati—atau mungkin saja dia sudah gila.

Pada saat di Jembatan Semuntai giliran aku yang mengendarai motor karena aku merasa kasihan kepada teman jangkungku itu. Jadi, aku memaksa untuk mengendarai motor.

Tak terasa kami sudah masuk ke Sekadau. Tak berapa lama kami sudah berada di depan rumah temanku si jangkung yang berada di daerah Ensalang. Kami diminta untuk beristirahat sejenak. Temanku pun membuatkanku kopi dan menghidangkan roti. Malam yang dingin menjadi hangat setelah minum kopi itu. Kami pun (aku dan Sugiono) berpamitan kepada temanku itu dan keluarganya. Kini tinggal kami berdua.

Kemudian sampailah kami berada di rumah tercinta. Perjalanan yang begitu mencekam tak kuceritakan pada orangtuaku karena aku anak yang baik. Aku hanya melaporkan bahwa ponselku hilang di perjalanan—dengan harapan akan dibelikan ponsel baru. Oh ya, temanku Sugiono itu menginap di tempatku karena daerahnya masih jauh. Jadi, dia memilih untuk menginap.

Aku sadar bahwa aku anak yang sangat ceroboh. Aku selalu mengabaikan hal kecil yang berujung fatal, dan ketahuilah bahwa seseorang yang terjatuh bukan karena batu yang besar, tetapi karena batu yang kecil. Batu yang besar sudah jelas tampaknya, sedangkan batu kecil yang selalu diabaikan itulah sebab orang terjatuh. Aku termasuk orang yang selalu mengabaikan batu yang kecil tersebut.

Ambil hal yang positif sebagai pembelajaran dan jadikan yang negatif sebagai pengetahuan tapi bukan untuk dicoba. Jangan ikuti yang tidak baik.

Pencarian Artikel:

  • Sejarah desa semuntai

Comments are closed.