Home / Jurnalisme Warga / Mengenang Lima Tahun Peristiwa Terbakarnya SMA Negeri 8 Pontianak

Mengenang Lima Tahun Peristiwa Terbakarnya SMA Negeri 8 Pontianak

Sumber : http://www.facebook.com/pages/SMA-Negeri-8-Pontianak
Sumber : http://www.facebook.com/pages/SMA-Negeri-8-Pontianak

Oleh Fraditya Yulia Sari

MABMonline.org, Pontianak-Tak terasa sudah lima tahun berlalu semenjak kejadian yang akan sangat diingat oleh seluruh penghuni sekolah SMA Negeri 8 Pontianak. Kejadian yang sangat menguras perasaan dan semangat dari seluruh siswa dan guru yang bertugas dan menempuh pendidikan pada masa itu.

Masih kental dalam ingatan bagaimana saat itu satu persatu kelas ludes dilalap si jago merah. Tanpa pandangbulu, dia menghanguskan segala barang yang dijumpainya. Itu adalah salah satu saat terburuk dari seluruh pengalaman siswa SMA Negeri 8 Pontianak.

Terurai air mata dari pipi siswa dan siswi SMAN 8 lainnya yang meratapi ruang-ruang kelas mereka yang sudah terbakar. Hal itu masih teringat jelas dalam benak Yayan Setiawan (21), seorang  yang dijuluki kepala sekolah karena memiliki kesamaan nama dengan kepala sekolah saat itu.

Yayan bercerita saat awal kebakaran hingga luluhnya sekolah SMA Negeri 8 Pontianak yang baru saja di tempatinya saat itu. Saat itu Yayan baru beberapa bulan di sekolah tersebut. sehingga masih memiliki kebahagian dan semangat yang tinggi untuk sekolah. Namun dengan sekejap perasaan itu luluh saat sekolahnya berubah menjadi arang dan abu.

Hal itu bermula saat saat jam pelajaran terakhir, dia mendapat firasat saat pintu kelas ssaat itu terbanting-banting keras ke dinding. “Saat pelajaran terakhir, pintu kelas terbanting-banting dengan keras. Seperti menjadi sebuah pertanda bahwa itu adalah hari terakhir kami akan bersekolah di sana.”

“Saat jam 2 siang, pelajaran telah usai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Seluruh siswa kebanyakan sudah pada pulang dan sekolah memang sudah sepi.” Tutur Yayan menceritakan awal kejadian saat api mulai membesar.

Rumah Yayan memang sangat dekat dengan sekolah saat itu, tepat di samping sekolah yang hanya terpisahkan oleh komplek yang saat itu masih dibangun. “Api mulai membesar pukul setengah tiga sore, awalnya sih dari ruang kelas 3, terus merembet sampai ke ruang Tata Usaha yang ada di depan. Hanya lab yang tidak tersentuh api karena bangunan tersebut memang terpisah sehingga selamat dari kobaran api,” terangnya.

Tampak beberapa siswa juga ikut membantu menyelamatkan barang-barang seperti piala, dan arsip-arsip sekolah yang masih sempat untuk diselamatkan dan dipindahkan ke ruang mushola sekolah yang luput dari kobaran si jago merah.

Setelah kejadian itu, seluruh siswa malam harinya berkumpul di sekolah dan menyalakan lilin sebagai tanda rasa kesedihan atas terbakarnya tempat mereka belajar dan menuntut ilmu selama ini. Tempat selama ini mereka berkarya dan menuangkan segala inspirasi mereka kini telah hangus terbakar.

Namun siswa-siswi SMA Negeri 8 Pontianak tidak larut dalam kesedihan, mereka segera bangkit untuk menunjukkan kreatifitas mereka. Setelah libur yang panjang, seluruh kegiatan pembelajaran dipindahkan ke Kompleks Purnama Agung 5 sebagai sekolah sementara. Selama tiga tahun menunggu sekolah dibangun, mereka belajar di sekolah sementara itu yang kini menjadi SMA Negeri 10.

Kini SMA Negeri 8 sudah bangkit seutuhnya, gedung sekolah yang baru sudah selesai dibangun 2 tahun yang lalu. Seluruh siswa-siswi SMA Negeri 8 Pontianak sudah dapat belajar, berkreasi dan berkarya seperti siswa-siswi sekolah lainnya tanpa keterbatasan tempat. Siswa belajar dengan tenang karena sudah memiliki sekolah sendiri. Hasil dari kreatifitas siswa pun sudah dapat diwujudkan dalam sebuah kegiatan lomba Paskibra yang diadakan oleh siswa SMA Negeri 8 Pontianak yang bertempat di GOR Pangsuma.

Begitu cerita Yayan, di Sabtu sore yang sungguh tenang di samping SMA Negeri 8 Pontianak. Seorang alumni yang menjadi saksi langsung atas terbakarnya SMA Negeri 8 Pontianak yang juga menjadi tempatnya bersekolah.

Check Also

Melestarikan Syair dan Pantun Meski Usia Tak Lagi Muda

Oleh Taazmiyah Pontianak–Sekitar pukul 8 pagi saya dan teman saya, Lia, Titin, dan Mar membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *