Home / Bahasa / Melestarikan Bahasa Ibu, Memperkaya Bahasa Indonesia

Melestarikan Bahasa Ibu, Memperkaya Bahasa Indonesia

oleh Dedy Ari Asfar

bahasa ibu
Balangnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membuka Seminar dan Lokakarya Kebahasaan Lembaga Adat sempat membuat para peserta kecewa. Kecewa karena menghadirkan satu menteri saja panitia tidak bisa lakukan. Bahkan, ada yang berseloroh Hari Konstitusi di Senayan di hari yang sama dihadiri para menteri dan petinggi MPR dan DPR serta tokoh-tokoh politik. Hari Konstitusi itu penting tetapi bahasa yang sudah lahir sebelum ada konstitusi dan negara ini seperti dipinggirkan karena petinggi setingkat menteri satu pun tidak bisa hadir. “Miris,” ujar sahabat saya A.R Muzammil tenaga pengajar di FKIP, Universitas Tanjungpura. Lebih lanjut dosen yang juga pakar komunikasi ini berujar, “Sedihnya bahasa masih tidak menjadi skala prioritas petinggi di negeri ini. Padahal, yang hadir pun para tokoh adat dan tetua yang punya massa akar rumput.” Peserta lain menimpali “Ini bukan salah panitia tetapi petinggi di eksekutif dan legislatif yang merasa bahasa kurang penting.” Namun, luka peserta ini terobati ketika panitia mengumumkan menjelang sesi akhir seminar hari pertama, “Kita akan ada jamuan makan malam bersama Bapak Menteri Anies Baswedan,” ujar pembawa acara Semiloka Lembaga Adat.

Anies Baswedan malam itu meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti” dalam rangka 70 Tahun Negara Berbahasa Indonesia: Merajut Kebinekaan Bangsa Menuju Bahasa MEA. Literasi sekolah ini bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Kegiatan literasi ini dilakukan 15 menit sebelum pelajaran. Ada 20 sekolah di DKI yang menjadi tempat uji coba pertama gerakan ini dan menerima paket buku cerita anak produk Badan Bahasa.

Selanjutnya, sang menteri pun berpidato di hadapan peserta. Saya seolah-olah tidak berkedip mendengar pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada malam Selasa, 18 Agustus 2015 ini. Pidato yang sangat menggugah jika menginginkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Dengan bahasa sederhana, gaya tutur nan lembut, dan gestur yang penuh semangat Anies Baswedan memberikan fakta-fakta yang pantas untuk direnungkan. Dalam bahasa saya bangsa ini jangan bermimpi untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia jika tidak menyelesaikan masalah yang ada dalam menginternasionalkannya.

Anies Baswedan membuat analogi sederhana dengan fakta sekitar kita. Ia memulai dengan analogi tentang ketidakpatuhan anak bangsa. Kata sang menteri, membuang sampah sembarangan dan tidak teratur di jalan merupakan fakta. Fakta-fakta ini dianggap normatif, biasa-biasa saja. Tidak dianggap sebagai masalah sehingga tidak dicarikan solusi untuk mengatasinya. “Ini cara berpikir yang keliru,” ujar Anies Baswedan.

Bahasa yang bhineka tumbuh di Indonesia adalah fakta. Bahkan, sebuah fakta bahasa Indonesia sudah digunakan 17 tahun sebelum Indonesia menjadi negara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa bersama yang disepakati sebelum adanya negara. Anies Baswedan menggunakan konsep bahasa bersama dengan alasan karena Indonesia itu multilingual. “Saya tidak menggunakan satu bahasa tetapi bahasa bersama karena Indonesia ada lebih dari satu bahasa,” tegas Anies Baswedan. Lebih lanjut sang menteri berkata, “Kita tidak perlu penerjemah ketika kita bermusyawarah antarseluruh etnik di Indonesia karena kita menggunakan bahasa bersama yang telah disepakati.”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini membandingkan negara-negara Uni-Eropa memiliki 20 bahasa resmi sehingga ketika bermusyawarah menggunakan penerjemah karena ego masing-masing kawasan. Mereka tidak sepakat untuk menggunakan bahasa bersama. “Kita lebih dewasa dari bangsa yang tergabung dalam Uni-Eropa,” ujarnya.

Anies Baswedan mengemukakan masalah nyata dalam bahasa Indonesia adalah miskinnya lema yang dimiliki bahasa negara. Ia lalu mengutip lema yang ada di dalam KBBI. Kamus ini telah mengalami perkembangan muatan lema dari 62.000 lema pada edisi pertama (1988) hingga 91.000 lema pada edisi keempat (2008). Ia membandingkan bahasa Inggris yang memiliki satu juta lema dan bertambah per tahun 8.500 lema. “Tidak heran bahasa Inggris ini jadi percakapan antarbangsa,” tegas Anies Baswedan. Selanjutnya, dengan semangat dan senyum yang mengembang Anies Baswedan berkata, “Ini tantangan kita untuk menjadikan bahasa Indonesia lebih kaya. Jangan loyo dengan masalah ini. Mari menjadikan bahasa Indonesia kaya dengan khazanah bahasa daerah yang ada.”

Anies Baswedan mencontohkan di media sosial banyak usulan kata-kata baru oleh anak-anak muda melalui twitter, misal kata “kiwari” berarti ‘modern’ atau ‘kontemporer’. “Kata ini berasal dari penutur bahasa Sunda yang dipakai anak muda di media sosial,” seru Anies. “Menengok ke bahasa kita, bahasa daerah untuk memperkaya bahasa Indonesia,” tegasnya lagi.

Korpus-korpus di media daring harus dipunggut. Jangan sampai antipati terhadap kata-kata daerah dan asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Bukankah di antara unsur pemerkaya bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa daerah dan asing. Badan bahasa harus menjaring dan menyerap kata-kata asing dan daerah itu sesuai dengan pedoman serapan bahasa Indonesia sehingga bisa masuk ke dalam KBBI.

Anies Baswedan mengajak peserta yang hadir harus terbuka dan menyadari bahasa itu ibarat permintaan dan penawaran. Menurut Anies begitu ada penawaran dan permintaan maka tidak ada kata yang salah dan benar tetapi kata yang berterima dan tidak berterima. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa solusi atas miskinnya lema, diantaranya dengan mengandeng anak muda dan melihat bahasa di media sosial. “Dorong anak muda karena anak-anak muda sangat ekspresif dan kreatif,” ujarnya. Lebih lanjut Anies berkata, “Berikan mereka asupan bahasa daerah ketika berbincang di media sosial. Mereka adalah agen utama perkembangan bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa bertumbuh dan berkembang. Pakar bahasa harus berinteraksi lintas ilmu dan umur. Pakar bahasa kemudian harus mencatat dan merawat kosakata baru itu. Jangan sampai jumlah kata tidak tumbuh. Bukan mengisolasi bahasa itu dalam satu ruang yang digunakan hanya oleh 1 juta penutur.”

Dalam bahasa yang sederhana Anies Baswedan berpesan lema yang kaya akan menginternasionalkan bahasa Indonesia. Dengan demikian, daya ungkap dan ekspresi bahasa Indonesia menjadi lebih kaya sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Berkenaan dengan pelestarian bahasa daerah Anies Baswedan mengajak para pendidik harus bisa memanfaatkan dunia pendidikan dalam melestarikan bahasa. Anies Baswedan mengemukakan pendidikan itu ada tiga jalur, yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler. Dalam konteks pendidikan umum di Indonesia jalur nonkurikuler jarang dimanfaatkan, misal menggunakan bahasa daerah dua hari dalam seminggu.

Pidato Anies memang patut untuk direnungkan dan dihayati agar ada aksi nyata seluruh komponen bangsa untuk bergerak memperkaya dan melestarikan bahasa Indonesia. Tidak saja lembaga bahasa di negara ini tetapi juga semua anak bangsa harus merasa memiliki dan menumbuhkan bahasa Indonesia.

Tiba-tiba saya lantas berpikir Badan Bahasa memiliki perwakilan di 30 provinsi. Ini artinya kalau tiap-tiap kantor/balai bahasa di seluruh provinsi bisa menyumbangkan 300 lema per tahun maka akan ada 9.000 kosakata baru bertambah. Hal ini jelas mengindikasikan aksi nyata Badan Bahasa akan mengalahkan perkembangan bahasa Inggris yang bertambah 8500 seperti yang diasumsikan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pidatonya. Mungkin kebijakan ini sudah jalan, tetapi masih kurang mulus pelaksanaannya. Entah apa penyebabnya. Mungkin ada tafsiran yang berbeda dan bingung dari rekan-rekan yang diamanahkan untuk mengeksekusi kebijakan ini di daerah.

Saya lantas berpikir lagi mungkinkah Badan Bahasa kembali membentuk kelompok kerja secara sistematis melalui jaringan internal yang ada. Badan Bahasa memfasilitasi dengan mengundang pakar bahasa serta melatih tim perkamusan di seluruh provinsi untuk mencari dan menyusun lema yang patut masuk ke dalam KBBI. Kalau perlu Badan Bahasa langsung menyusun juknis untuk disebarkan ke kantor/balai bahasa seluruh Indonesia. Juknis ini menjadi pedoman teman-teman di daerah dalam menjaring kosakata baru. Namun, juknis ini pun harus disosialisasikan supaya satu persepsi.

Mungkin sebagai orang dalam saya lancang berkata demikian. Namun, pidato Anies Baswedan sungguh menggugah perasaan. Meminjam bahasa Anies Baswedan saatnya merealisasikan ide dengan aksi. Saya sudah memulai ide Anies dengan aksi membangun gerakan bersama teman-teman, seperti Agus Syahrani dan Yaser Ace melalui gerakan Indonesia Melestarikan Bahasa Ibu. Kami sudah berhasil melatih sukarelawan bahasa dan menyusun beberapa kamus lokal yang ada di Kalimantan Barat serta korpus-korpus berbahasa daerah

Check Also

Tarian Tanda’ Sambas Wajib Dilestarikan Oleh Pemuda

Oleh Asmirizani MABMonline.org, Sambas— Workshop tarian Tanda’ Sambas dilaksanakan di pentas kantor Bupati Sambas pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *