Home / Jurnalisme Warga / Melestarikan Syair dan Pantun Meski Usia Tak Lagi Muda

Melestarikan Syair dan Pantun Meski Usia Tak Lagi Muda

Oleh Taazmiyah

Pontianak–Sekitar pukul 8 pagi saya dan teman saya, Lia, Titin, dan Mar membuat janji untuk datang menemui seseorang di rumahnya. Lima belas menit menunggu jemputan, rasanya kakiku agak sedikit malas untuk beranjak keluar karena matahari mulai meningkatkan volume panasnya. Rasanya tak hendak pergi karena rasa bosan menyerang. Jarum jam berputar detik demi detik, menit demi menit sampai akhirnya saya terkejut ada suara motor singgah di depan kost. Mar datang. Saya sudah menunggu kurang lebih satu jam. “Maaf kak, aku takut lewat bundaran,” katanya. “Titin dengan Lia sudah berangkat duluan, mereka menunggu di sana,” katanya. Hari ini jalan agak macet, jadi saya mengambil inisiatif menjalankan motor.

Akhirnya kami berdua berangkat karena Lia dan Titin sudah sampai duluan di rumah orang yang akan kami temui. Saya pacu gas motor karena terburu-buru guna memenuhi janji. Kalau tidak tepat waktu bukankah malu membuat orang terlalu lama menunggu. Motor pun melesat menuju jalan Tanjung Pura. Saya  pun berhenti tepat di sebelah penjual bensin, saya keluarkan handpone  dari tas tenteng yang saya bawa, saya perhatikan baik-baik sebuah alamat yang saya tulis di Draft.

Kami pun menelusuri gang itu, saya tak menyangka ada gang sesempit ini dan bahkan rumah-rumah pun berdiri nyaris tidak ada jarak. saya berhenti sebentar untuk menyakinkan bahwa saya tidak salah alamat. Kebetulan sekali seorang perempuan berjalan kearah kami. “Maaf kak, tahu alamat ini dimana?” sambil saya perlihatkan sebuah alamat yang terismpan pada Draf handpone. “Benar kak, kakak belok ke kiri sedikit,” jawabnya. Sambil tersenyum, saya dan Mar menuju arah yang ditunjukkan perempuan tadi. Pantas saja dinamakan gang sempit memang gang itu terlalu sempit untuk dilalui oleh kendaraan bermotor.

Kami berhenti di sebuah rumah, di sana sudah terlihat motor Lia dan Titin. Kelihatan dari luar berukuran kecil namun ketika masuk rumah itu luas. Kami pun dipersilahkan masuk. Saya mengucapkan salam kepada seorang lelaki yang sudah berumur, putih, tinggi besar dengan hidungnya yang mancung. Mata yang sayu mirip orang arab yang duduk di ruang tamu. “Waalaikum salam. Silahkan duduk,” katanya dengan suara  yang lembut penuh kesopanan. melemparkan senyum kepada kami.

Saya  dan Mar memperkenalkan diri dan tidak lupa meminta maaf karena datang terlambat. “ maaf kami datang terlambat” kata Mar. Lelaki yang kami temui ini bernama Syarif Al Kadrie yang biasa dipanggil Abah Meng beliau seorang penyiar radio di salah satu radio di Pontianak yaitu radio Kenari yang ada di Jalan Sulawesi. Tetapi bukan itu tujuan saya dan teman-teman datang menemuinya. Ada hal lain yang menarik dari beliau, di zaman sekarang ini banyak warisan nenek moyang terlupakan oleh para generasi muda dan abah sampai saat ini masih melestarikan syair dan pantun.

Abah Meng adalah seseorang yang pandai bersyair terlebih lagi pantun. Sudah berapa syair dan pantun yang diciptakan oleh tangan dingin abah. “saya sudah lama menggeluti dunia syair dan pantun,” kata abah sambil tersenyum. “setiap ada acara di kesultanan Qadariah, saya yang selalu diberi kepercayaan oleh sultan untuk membacakan syair,” katanya. Tak lama istri abah datang membawakan kami minuman. Dengan ramah istri abah menyapa kami. “silahkan nak diminum tehnya,” kata istri abah. Kami pun membalas dengan senyuman.

Sebelah ruang tamu terdapat sebuah ruangan yang menarik perhatian kami. Di ruangan itu terdapat koleksi-koleksi abah. Abah mempersilahkan kami untuk memasuki ruangan tersebut, di dinding berjejer rapi foto-foto abah dari masih muda sampai sekarang tentunya berfoto dengan orang-orang besar seperti sultan dari Kesultanan Qadariah. Pada zaman sekarang ini masih ada orang yang peduli dan melestarikan hasil warisan budaya seperti abah. Meskipun usianya tidak muda lagi abah memiliki semangat yang tinggi terlebih lagi melestarikan syair dan pantun.

Syair dan pantun memiliki fungsi selain sebagai penghibur masyarakat yang masih menyukai syair dan pantun, syair dan pantun juga berfungsi sebagai nasehat,” kata abah sesekali meneguk air teh yang sudah dingin dan belum disentuh dari tadi. Saya berharap generasi muda mau mempelajari syair dan pantun karena syair dan pantun merupakan warisan dari nenek moyang yang harus di jaga kelestariannya,” katanya dengan penuh harapan.

Abah bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan pribadinya, dikeluarkanlah beberapa buku-buku yang terlihat lembaran-lembarannya kuning menandakan buku itu telah lama disimpan. Ada juga lembaran-lembaran yang belum di jilid. “ini adalah syair-syair dan pantun yang saya buat,” kata abah matanya menatap buku-buku itu, terlihat jelas bahwa abah bangga telah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Abah sudah beberapa kali memenangkan pembacaan syair, karena memang abah sangat jago membacakan syair. “Dulu ketika abah membacakan syair suara abah melengking pada nada tinggi karena abah  masih bisa mengatur pernafasan, namun sekarang abah membacakan syair dan pantun tidak seperti dulu. abah tidak bisa lagi mengatur pernafasan karena sudah tua,” katanya.

Memang usia abah sudah tidak muda lagi namun sewaktu membacakan syair dan pantun suara abah terdengar merdu meskipun ada beberapa kata-kata yang tidak terdengar jelas, logat melayu yang kental pun masih terdengar jelas tanpa ada pengaruh dari bahasa luar mengingat abah juga menguasai bahasa mandarin. Sungguh luar biasa di tengah kota yang besar seperti Pontianak masih tersimpan mutiara seperti abah. Sosoknya yang bersahaja, ramah, membuat abah banyak disayang orang banyak. “Saat ini abah tidak lagi membacakan syair karena faktor usia tetapi ada yang menggantikan abah yaitu anak abah,” katanya.

Anak abah sangat pandai membacakan syair, seperti kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Anak abah membacakan kami syair dan hanya beberapa larik saja. Membaca syair dan pantun itu mudah asalkan ada kemauan,” tandasnya. Kami pun diputarkan sebuah video dimana dalam video tersebut ada pembacaan syair dan pantun. “Pada saat itu adalah acara halal bihalal yang diadakan di gedung wanita Pontianak,” kata abah memberikan penjelasan.

Setiap hari jadi kota Pontianak diadakan lomba baca syair dan pantun, tujuannya agar syair dan pantun tetap terjaga sehingga tidak termakan oleh perkembangan zaman. “Abah lihat sekarang ini jarang sekali anak muda yang mengetahui syair atau pandai membacakan syair,” kata abah sembari tangannya memegang kedua lututnya. “membaca syair tidak sulit asalkan bisa mengatur pernafasan,” imbuhnya. Membaca syair tidak berbeda dengan membaca alqur’an asalkan mengatur pernafasan dan tahu mana yang harus dibaca panjang (berlagu) dan dibaca pendek intinya mengetahui intonasinya karena membaca syair tidak dengar suara dan nada yang datar,” katanya.

Saat ini syair dan pantun masih digunakan pada acara perkawinan masyarakat Melayu. Seperti syair, pantun juga memiliki fungsi, selain untuk menyindir pantun juga berfungsi sebagai nasihat. Ditanya pantun apa saja yang sudah Abah ciptakan, abah menjawab, “pantun-pantun yang abah buat selain pantun jenaka, juga ada pantun nasihat. Pantun-pantun yang abah buat banyak berbentuk lembaran.”

Selesai mengobrol dengan abah kami pun memohon diri untuk pulang. “Abah harap kalian bisa datang kembali kesini untuk belajar syair dan pantun,” katanya. Tatapan mata abah menunjukan betapa besar harapannya kepada para generasi muda untuk terus melestarikan syair dan pantun. Semangat abah perlu ditiru, setiap Rabu pukul 09.00 malam di radio Kenari suara abah bisa didengarkan. “Jangan malu untuk mempelajari syair dan pantun karena syair dan pantun merupakan salah satu kebudayaan Melayu,” pungkasnya.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *