Home / Beranda / Membaca Sejarah Melayu

Membaca Sejarah Melayu

dedy-MABMoleh: Dedy Ari Asfar

Saya mendapat SMS yang menarik dan menggugah. Gara-gara SMS ini mau tidak mau saya membuka kembali lembar demi lembar buku yang pernah saya baca 7 tahun lalu. Saya yakin sang pengirim SMS sebenarnya juga tahu, hanya ingin memastikan saja dari orang lain. SMS tersebut berbunyi “Dalam Sejarah Melayu, di bukit apa di daerah Palembang dilahirkan calon Raja Melayu, siapa namanya?” Saya tahu di Bukit Si Guntang kisah tentang Raja Melayu ini bermula, tetapi saya lupa siapa namanya. Saya pun mencari buku Sejarah Melayu di rak buku rumah. Judul asal teks ini sebenarnya Sulalatus Salatin yang berarti Silsilah Raja-Raja. Teks ini berkisah tentang sejarah raja-raja di Nusantara. Mungkin ini yang menjadi alasan pengarang mengubah judul teks ini menjadi Sejarah Melayu. Teks Sejarah Melayu ini menurut beberapa ahli ditulis dalam tahun 1612 merupakan satu salinan teks yang kemudian dikarang dalam abad kesembilan belas.

Saya pun sigap membaca cepat teks Sejarah Melayu. Akhirnya, dapatlah dijawab bahwa Raja Melayu yang menjadi Raja di Palembang adalah Nila Utama yang muncul dari Bukit Si Guntang, satu kawasan yang mengalir di bawahnya Sungai Melayu. Nila Utama memiliki dua orang saudara kandung, yaitu Nila Pahlawan (saudara tertua) dan Krisyna Pandita (saudara tengah). Mereka merupakan anak dari Raja Suran dan cucu Raja Iskandar Zul-Karnain. Ketiga bersaudara ini kemudian dibawa oleh Demang Lebar Daun ke Palembang. Berita ketiga saudara kandung ini menyebar ke seluruh negeri di Nusantara. Pada waktu itu, datanglah Patih Suatang, Raja Minangkabau ke Palembang. Ia meminta seorang anak dari tiga bersaudara itu yang akan diangkatnya menjadi Raja di Alam Minangkabau. Demang Lebar Daun pun memberikan Nila Pahlawan kepada Patih Suatang untuk diangkat menjadi raja di Minangkabau dengan gelar Sang Si Perba. Tidak mau ketinggalan, sebuah negeri bernama Tanjung Pura yang telah kehilangan rajanya, diwakili oleh patihnya datang ke Palembang untuk meminta Krisyna Pandita menjadi raja di sana. Tinggallah Nila Utama di Palembang untuk dirajakan dengan gelar Seri Teri Buana. Raja Melayu Palembang ini kemudian berpindah ke Temasek (Singapura). Keturunan keempat Seri Teri Buana ini yang kemudian menjadi Raja di Melaka.

Menarik buat saya adalah kisah saudara tengah Nila Utama yang dirajakan di Tanjung Pura. Pertanyaan saya adalah, apakah Tanjung Pura Kalimantan Barat atau daerah lain? Seandainya ini Tanjung Pura yang ada di Ketapang dapat dikatakan bahwa kerajaan Tanjung Pura sudah sangat tua. Jauh sebelum Krisyna Pandita diangkat menjadi raja, Kerajaan Tanjung Pura sudah berdiri sebagai kerajaan. Dengan berkuasanya Krisyna Pandita di Tanjung Pura semakin membesarkan nama Tanjung Pura karena hubungan darah dan politik dengan kerajaan Melayu di Palembang dan Minangkabau.

Malangnya, tidak banyak cerita tentang Krisyna Pandita dalam teks Sejarah Melayu yang menggambarkan secara utuh Kerajaan Tanjung Pura masa dahulu kala. Akan tetapi, teks Sejarah Melayu mengindikasikan bahwa sang adik bungsu Nila Utama dikukuhkan sebagai Raja Palembang sekitar abad ke-11 atau 12. Hipotesis ini didapat karena pada awal abad ke-11 diperkirakan zaman melemahnya Kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, Raja Chola dari Koromandel pada tahun 1025. Akibatnya, terjadi kevakuman kekuasaan pada masa itu. Dengan demikian, Demang Lebar Daun sebagai penguasa Palembang pun melantik Nila Utama dengan gelar Seri Teri Buana sebagai Raja Baru di bekas kekuasaan Sriwijaya tersebut. Oleh karena itu, boleh diduga Krisyna Pandita sebagai keturunan Raja Iskandar Zul-Karnain juga berkuasa di Tanjung Pura sekitar abad ke-11 atau 12.

Berbicara tentang sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Borneo kita masih belum mendapatkan sumber rujukan terpercaya dan sahih yang bercerita tentang tahun-tahun penting kerajaan kuno di Kalimantan Barat. Ada banyak peristiwa penguasa-penguasa awal kerajaan kuno di Kalbar yang terputus (missing link) dan tak diketahui masa pengiktirafannya. Kasus Tanjung Pura membelajarkan kita bahwa pendiri Tanjung Pura bukan berasal dari Majapahit seperti yang diduga selama ini. Mengapa? Bukankah Kerajaan Majapahit baru muncul pada abad ke-13, yaitu tahun 1293. Kita bisa menduga berdasarkan teks Sejarah Melayu, Tanjung Pura lebih dahulu lahir daripada Majapahit, bukan? Kalau kemudian Tanjung Pura sebagai salah satu provinsi atau kekuasaan Majapahit itu memang tidak diragukan, tetapi bukan berarti keturunan Majapahit yang mendirikan Kerajaan Tanjung Pura? Anggapan saya mungkin salah karena ada sebagian ahli menganggap Sejarah Melayu hanya karya sastra yang direka-reka pengarangnya dan bukan catatan sejarah objektif yang dapat dijadikan dasar? Wallahu a’lam.

Check Also

Pontianak Helat Festival Seni Budaya Melayu

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat menggelar Festival Seni Budaya Melayu VIII di Kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *