Home / Jurnalisme Warga / Membangun Asa, Mencapai Kebahagian Atas Kerja Keras

Membangun Asa, Mencapai Kebahagian Atas Kerja Keras

Oleh Siti Munawwarah

Pontianak — Menghirup udara kabin pesawat, saat itu sekitar pukul 09.30 pagi wib. Serombongan mahasiswa dari Universitas Tanjungpura mendapat undangan istimewa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Duduk di atas ketinggian ratusan kaki membuat adrenalin naik turun mengikuti arah gravitasi pesawat terbang yang mereka naiki. Perjalanan kali ini dilalui untuk menghadiri forum pertama mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Acara yang disebut forbiminas (forum bidikmisi nasional) ini dihadiri oleh 470 mahasiswa dari seluruh Universitas dan Politeknik yang ada di Indonesia.

Menginjak tanah Jakarta, waktu itu pukul 10.30 wib. Kami mulai menuruni badan pesawat berjalan menuju bandara Soekarno-Hatta. Ditemani ransel di punggung dengan semangat dan senang hati kami masuki gedung utama Soetta itu. Beberapa menit menunggu, seorang pria dengan kepala sedikit botak dan seorang lagi laki-laki berperawakan mahasiswa khas Jakarta  datang menghampiri kami.

Di tangannya tergenggam kain rentang bertuliskan “selamat datang mahasiswa peserta forbiminas”, dengan senyum yang ramah mereka menuntun kami ke arah parkir bandara.

Di sana sudah ada beberapa mahasiswa dari timur Indonesia. Sama seperti kami mereka juga mahasiswa peserta forbiminas yang sedang menunggu jemputan dari panitia. Panas saat itu tak seperti biasanya, di kota metropolitan seperti Jakarta panasnya tak akan sama seperti yang kau temui di kota kecil seperti Pontianak.

Sengat mentari yang menusuk-nusuk kuduk membuat kami agak gerah menunggu di sana. Sebelumnya kami saling berkenalan dengan mahasiswa dari Indonesia Timur itu.

“Sudah waktunya makan siang, ayo makan dulu.” Pria yang tadi membuka mobil dan mengeluarkan box-box makanan. Kami makan siang di parkiran itu, mencari tempat teduh di tengah gersangnya bandara Internasional tersebut.

Perjalanan dilanjutkan, kami digiring ke halte bus bandara. Sambil menyeret koper kami berjalan menyeberangi jalan bandara yang padat itu. Sampainya di halte, dari jauh memang sudah kulihat yang telah duduk duluan di deretan panjang kursi halte itu pastilah rakyat negeri kasuari. Almamaternya warna kuning dan krem, rambutnya kriting serta kulitnya hitam menggelapkan mata. Aku duduk di samping seorang laki-laki dengan kepang kecil dan banyak di kepalanya. Tak saling menyapa, aku tidak tau apakah mereka adalah orang-orang yang ramah. Aku tidak peduli, sampai bus datang dia pun hanya berlalu tanpa kata. Baru kali itu ku temui orang-orang Papua. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan menarik melihat rakyat Indonesia sesungguhnya, satu persatu suku akan ku temui di sini.

Melihat jalanan Jakarta, padat dan panas namun cukup agung untuk ukuran orang kampung seperti saya. Gedung-gedungnya yang megah dan mencakar-cakar buana cukup memikat hati serta jalan betonnya yang mencengkram pertiwi. Aku melewati kawasan Jakarta yang bisa dikatakan elit. Plaza EX, Gelora Bung Karno, Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta beberapa mal besar telah dilewati. Sesampainya di hotel, rombongan Universitas Tanjungpura menginap di hotel Ambara. Setelah melalui proses registrasi dan pembagian kamar. Kami bersiap untuk acara pembukaan.

Pukul 19.00 wib, kami tiba di aula Dikti Kemendikbud. Acara pembukaan sebentar lagi namun sebelum itu seluruh peserta dijamu makan malam terlebih dahulu. Ruang makan tumpah ruah dengan ratusan mahasiswa. 30 menit kemudian kami sudah berada di aula, acara pembukaan kali itu di buka oleh mahasiswa Universitas Indonesia sekaligus  duta kewirausahaan Indonesia. Setelah serangkaian kata sambutan, tiba saat yang ditunggu.

Bertemu langsung dengan Muhammad Nuh. Sosok pemimpin yang rendah hati dan peduli pendidikan. M.Nuh mengatakan “Belilah masa depan dengan harga sekarang”. Ungkapan yang sedikit menggelitik perasaan untuk termotivasi. Banyak yang disampaikan oleh pak Menteri semuanya bertujuan untuk kesejahteraan peserta didik saat ini demi kehidupan Indonesia yang lebih baik.

Dari sekian ratus sosok manusia di aula tersebut. Ada satu perhatian yang cukup menarik mata batin saya untuk melihat kondisi Indonesia sebenarnya. Empat orang mahasiswa asal Papua dari program afirmasi dari Kemendikbud cukup mencolok dari ratusan mahasiswa yang ada. Ada cerita lucu yang jika dilihat sebenarnya menyedihkan. Saat akan menyanyikan lagu Indonesia Raya mereka tidak hafal. Setidaknya itu yang teman saya ceritakan yang kebetulan saat itu duduk disamping mahasiswa asal Papua tersebut. “Mereka tidak hafal lagu Indonesia Raya,” bisik Ahirul Habib.
Tidak hanya itu, lagu Indonesia Pusaka bahkan sama sekali tidak mereka ketahui. “Lagu apa ini? Ungkapnya dengan logat bahasanya yang kental. Kami hanya tersenyum sambil menuntunnya menyanyikan lagu tersebut.

Acara yang diisi dengan berbagai seminar, pelatihan serta acara jalan-jalan ini sangat berkesan khususnya bagi saya. Banyak yang dapat saya rasakan dan pelajari dari forum ini. Mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang berhamburan di negeri Jawa, Sumatera, dan Sulawesi cukup membuat saya berpikir betapa kecilnya saya di hadapan dunia setidaknya dunia Indonesia.

Dari sekian banyak rangkaian acara, ada satu acara yang dapat dikatakan talkshow dengan seorang CEO GE Indonesia. Seorang pria yang memiliki jiwa sekuat tebing di antara jurang yang menjulang walaupun sebenarnya fisiknya serapuh batu kapur.

Hendry Satriago, pria berkepala botak yang selalu menggunakan kursi roda sejak ia positif mengidap kanker sum-sum tulang ini sungguh memiliki semangat yang jauh sangat kuat dari besi yang menyangga tubuhnya itu. Ia mengajarkan kepada kami artinya hidup, bahwa hidup haruslah terus berjalan dengan inovasi dan kerja keras. Ia belajar bahwa hidup berawal dari mimpi. “Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh tapi mimpi tetap akan hidup,” ungkapnya dengan penuh wibawa.

Satu kutipan yang membuat saya terpecut dan sadar ialah “Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat Anda dengan penuh keyakinan berani memimpin diri sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu Anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan Anda,” papar Santriago.

Satu pesan yang tetap saya ingat dari seorang Hendry Satriago ialah, “Pekerjaan rumah Anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah, tidak berarti tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah Anda untuk berperang.”  Sebuah hal luar biasa bisa menemui laki-laki hebat ini di kota Batavia, di tengah menggeliatnya sekularis di tengah pelajar di negeri metropolitan yang korup.

Satu yang dapat saya simpulkan dari perjalananan ini. Hidup adalah belajar setiap saat, tak peduli kau sedang di bangku atau di tembok kotor yang sedang terlewat. Belajar bukan berarti menghafal rumusan statistik atau menumpuk teori.
Belajar adalah berpikir bagaimana kehidupan dapat berlaku baik kepada alam, kepada sesama, serta mengabdi untuk Tuhan. Dari belajar kita akan menemukan jawaban sesungguhnya dari peliknya ajaran hidup yang selama ini dikotak-kotakkan oleh perbedaan. Dan tujuan akhir dari sebuah kehidupan adalah mencapai kebahagian atas kerja keras.

Check Also

Antar Ajung, Antara Tradisi dan Wisata

Oleh Nabu Sambas—Terdengar gendang rabana dan ratib. Lantunan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *