Home / Jurnalisme Warga / Membaur dengan Kue Keranjang

Membaur dengan Kue Keranjang

Oleh Erwin

Lelaki itu duduk di ruang tamu dengan ditemani beberapa potongan kue di hadapannya. Satu per satu kue dimakan sambil menikmati secangkir teh hangat. Matseh memotong kue tradisional itu dengan perlahan dan penuh kesabaran. Kue keranjang orang-orang menamakannya. Pisau yang tajam pun tidak sanggup memotong kue ini dengan gampang.

“Memotongnya harus sabar karena kuenya lengket,” ujarnya sambil memotong kue keranjang.

Kue yang didominasi oleh warna kecoklatan membuat lidah tak sanggup menahan untuk mengunyahnya. Kue yang banyak macamnya ini bergantung orang yang mau membuat sesuai dengan cetakan yang digunakan. Kue ini juga membuat orang yang melihatnya merindukan akan rasanya yang lezat karena dijumpai hanya satu tahun sekali, yaitu saat perayaan tahun baru Imlek.

“Kue ini hanya dijumpai saat-saat perayaan tahun baru Imlek,” katanya saat mengunyah kue.

Kue yang sarat dengan filosofi Tionghoa ini dikenal di seluruh pelosok dunia. Maka dari itu, eksistensi kue keranjang masih terasa di hati penikmat kue. Kue keranjang tidak mengenal lidah siapapun, baik itu lidah orang Tionghoa, Melayu, Dayak, dan suku-suku lain yang ada di Sambas, Kalimantan Barat. Kue keranjang juga sudah ada dijual di pasaran menjelang tahun baru Imlek.

“Kue ini tidak memandang siapa yang memakannya baik dia suku apapun. Oleh karena itu, orang-orang dapat membaur dengan kue keranjang,” jelas Matseh.

Pembuatan kue keranjang dan bahannya juga sangat familiar artinya mudah dicari dan tidak susah membuatnya. Matseh menjelaskan pembuatan kue ini tidak sulit cukup dengan gula merah, air, tepung beras, dan santan. Kemudian, tergantung lagi membuatnya sebesar yang kita inginkan.

Check Also

Stain Press Luncurkan “Kalbar Berimajinasi”

Oleh Siti Munawwarah MABMonline.org, Pontianak — Klub menulis Stain mengadakan peluncuran sekaligus bedah buku “Kalbar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *