Home / Jurnalisme Warga / Menelisik Narasumber Pewaris Kebudayaan

Menelisik Narasumber Pewaris Kebudayaan

Oleh Siska Rahmawati

MABMonline.org, Pontianak–Pagi itu (4/10/12), tepat pukul 10 pagi sampailah Ogy dan rekannya di kantor Dinas Pendidikan, Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kab. Kubu Raya. Kehadiran mereka di sana hanya untuk satu misi mulia. Bukan untuk mengantarkan sebuah proposal kegiatan kampus atau kegiatan-kegiatan lainnya, melainkan mencari seseorang yang tepat untuk diwawancarai mengenai kebudayaan yang kini mulai pudar dimakan zaman.

Sedikit ragu-ragu dan takut mereka perlahan membuka pintu dan masuk  ke dalam kantor yang sebenarnya layak di sebut ruko 2 pintu itu. Setelah saling menatap mengisyaratkan “Kau saja yang bicara dulu!” Akhirnya satu di antara mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka ke kantor tersebut. Awalnya seorang ibu dan bapak yang raut wajahnya masih agak muda memandang mereka sinis dan curiga. Mungkin mereka mengira mereka akan membawa sebuah proposal kegiatan yang akan mengambil uang di dalam kas mereka, mungkin saja. Tapi seketika wajah mereka berubah, senyuman pun merekah setelah pegawai kantor tersebut tahu bahwa maksud kedatangan mereka hanya ingin mencari seorang narasumber yang tepat mengenai kebudayaan yang ada di Kubu Raya.

“Ya, silakan masuk dek. Adek dari mana?” tanya seorang pegawai kepada mereka berdua. “Kami dari FKIP Untan Bu. Ingin mencari tahu tentang kebudayaan-kebudayaan, seni, dan sastra yang ada di Kubu Raya,” ujar Ogy menjawab pertanyaan ibu tersebut. Ogy dan rekannya pun lega, ternyata kedatangan mereka di sambut dengan baik oleh pegawai di kantor dinas itu dan tidak seperti apa yang telah mereka bayangkan sebelumnya.

“Oh, kalau begitu masuk saja kemudian nanti belok kiri. Di sana ada tangga kemudian naik dan cari saja Pak Natsir dan Pak Nyanteng,” ujar pegawai itu. Mereka pun akhirnya bergegas memasuki kantor dinas tersebut, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Dengan langkah perlahan mereka berdua menyisiri anak tangga kantor dinas satu per satu. Mereka masih sedikit berdebat dan saling lempar kata-kata “Kau saja yang bertanya dulu, nanti aku membantu.” Akhirnya satu diantara mereka mengalah rekan Ogy yang memulai dan bertanya pada orang berada di lantai 2 kantor dinas tersebut siapa diantara mereka yang bernama Pak Natsir dan Pak Nyanteng.

Ternyata kedua orang bapak itu ada di hadapan mereka. Seorang bapak-bapak paruh baya mengajak mereka untuk menghampiri meja kerjanya. Bapak tersebut adalah bapak Nasarus Nyanteng yang berdarah Dayak asli. Beliau pun mempersilakan Ogy dan rekannya duduk. Pak Nyanteng pun menyampaikan kegembiraannya. Karena masih ada anak-anak muda yang mencari tahu tentang kebudayaan daerahnya sendiri.

Setelah berbincang-bincang beberapa saat dengan Pak Nyanteng mereka pun mendapatkan beberapa nama seniman dayak yang dapat dijadikan narasumber. Selanjutnya mereka pergi ke arah meja kerja yang berada tidak jauh dari tangga. Meja kerja itu adalah meja kerja Pak Natsir. Mereka pun dipersilakan duduk setelah sebelumnya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan  mereka kembali. Setelah berbincang-bincang Pak Natsir juga memberikan mereka beberapa nama yang dapat mereka jadikan referensi sebagai narasumber. Tidak lupa sebelum mengakhiri perbincangan Pak Natsir memberikan sedikit wejangan pada mereka agar tidak melupakan budaya warisan yang selayaknya kita jaga dan lestarikan.

Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Ogy dan rekannya segera bangkit dari kursi empuk yang Ogy dan rekannya duduki. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pun segera pergi meninggalkan lantai 2 kantor dinas tersebut. Dengan wajah girang dan bahagia mereka menuruni anak tangga dengan semangat. Mereka pun berpamitan dan berterima kasih pada pegawai yang berada di lantai 1 kantor tersebut. Dengan hati bertebaran bunga mereka pun keluar dari kantor dinas. Padahal saat sebelumnya mereka enggan masuk dan takut akan memasuki gedung yang berada di Jl. A. Yani 2 tepat di Samping Jl. Parit Bugis itu.

Setelah berada di depan motor masing-masing mereka berdua berdiskusi sejenak. Siapa yang akan mereka pilih sebagai narasumber? Akhirnya mereka berdua sepakat memilih seseorang yang tinggal di Desa Arang Limbung. Mereka tidak bisa pergi mencari informasi pada hari itu. Karena satu orang dari kelompok mereka tidak ikut bersama mereka hari itu.

Hari Sabtu (6/10/12) mereka pilih sebagai hari yang tepat untuk mendatangi sang narasumber. Sebelumnya Ogy dan Juniar yang sebelumnya tidak dapat ikut ke kantor dinas bersepakat berkumpul di rumah seorang rekan kelompok yang lain. Setelah berdiskusi sejenak, tepat pukul 9 pagi dengan menggunakan 2 motor mereka bergegas menyusuri Desa Arang Limbung yang terletak di Jl. Adi Sucipto. Berbekal alamat yang diberikan oleh Pak Natsir mereka bertiga akhirnya menemukan Gg. Asaka. Setelah mereka memasuki mulut gang mereka berhenti sejenak. Mereka sama-sama tidak tahu di mana rumah yang akan mereka tuju. Mereka memutuskan untuk masuk gang yang bercor beton itu dan melanjutkan perjalanan.

Semakin jauh mereka lalui jalan dalam gang itu tanpa tahu mana rumah yang mereka cari. Akhirnya Juniar menghentikan sepeda motor scoopy merah keluaran terbarunya dan bertanya pada ibu-ibu yang berada di tepi jalan. Setelah bertanya Juniar lekas menghampiri rekan-rekannya. Ternyata rumah yang mereka cari telah terlewati beberapa rumah. Ternyata nomor rumah sang narasumber adalah nomor 1 dan bercat putih. Ogy dan Juniar lekas memutar arah kendaraan mereka.

Setibanya di rumah nomor 1 mereka mengucap salam dan mengetuk pintu. Tidak ada respon dari pemilik rumah, Juniar akhirnya mengitari rumah bercat putih itu. Sampai di pintu belakang Juniar terkejut ada seorang bapak-bapak paruh baya keluar dari pintu. “Waalaikum salam, cari siapa dek?” bapak tersebut menyambut kami. “Apa benar ini rumah bapak Abdul Rahim Said?” Tanya Juniar. “Oh ya benar. Tapi bapak sedang keluar. Sebentar saya cari dulu, adek tunggu saja di teras dulu.” Perintah bapak yang menggunakan celana pendek dan topi putih itu.

Selang beberapa saat kami menunggu dari kejauhan seorang kakek berjalan ke arah kami. “Ade ape ye dek nyarek saye?” Tanya kakek itu. setelah menjelaskan maksud kedatangan mereka, dengan sangat ramah dan hangat kakek itu pun menyambut mereka. Ternyata kakek tersebut adalah orang yang mereka cari. Sang narasumber Abdul Rahim Said pewaris kebudayaan.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *