Home / Beranda / Menelusuri Tapak Sejarah Kampung Saigon

Menelusuri Tapak Sejarah Kampung Saigon

Gambar: Foto Muhammad Yusuf  Saigon dan Istrinya.
Gambar: Foto Muhammad Yusuf Saigon dan Istrinya.

Oleh Mellisa Jupitsari

MABMonline.org, Pontianak— Kamis, (22/5) hari tampak mendung sore itu. Langit yang awalnya biru dan matahari yang tadinya merah merekah dan mengeluarkan hawa panas kini berubah menjadi semburat abu-abu. Rintik langit yang ingin turun membasahi bumi pun tak dapat dielakkan lagi. Langit pun menangis sore itu. Tangisan yang meronta-ronta itu cukup menyamarkan suara azan magrib yang menderu-deru disetiap penjuru. Tepat pukul 18.40 tangisan itu mereda. Baru saja reda, Tanjung Raya 2 tetap dibumbui aktivitas dimalam itu. Kendaraan hilir mudik tiada henti menghiasi warna-warni jalan yang dulunya hutan karet ini. Memasuki gang kecil tepat di sebelah MTS Al Irsyad, di ujung gang itu terlihat 1 anak kecil yang berada di depan teras rumah bersama kakak perempuannya. 2 motor dan 1 mobil berjejer di depan rumah itu. Ibu-ibu setengah baya keluar dari rumah itu bersama anak laki-lakinya. Jilbab orange ibu empat anak itu senada dengan baju putih orange yang digunakan anak sulungnya itu. Mereka keluar bersamaan. Ibu itu terus saja berjalan tanpa mau diboncengi anak laki-lakinya itu. Ibunya belok ke kiri dan anaknya tetap lurus ke depan dan memasuki jalan di sebelah gang rumahnya. Ya, anak laki-laki itu memasuki jalan Yusuf Karim yang di depannya dipenuhi warna-warni cafe yang baru saja diresmikan beberapa bulan lalu. Ternyata ibunya melewati jalan pintas dan berhenti di sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar, banyak beberapa tanaman yang menghiasi rumah itu. Memasuki rumah itu, terlihat perempuan yang sudah cukup tua sedang terbaring di atas kasur. Ibu dan anak laki-lakinya itu akhirnya sampai mengantarkanku pada cucu dari Muhammad Yusuf Saigon bin Muhammad Thasin Al-Banjari. Perempuan tua itu bernama Hazami. Ia berumur 84 tahun. Guratan-guratan senja benar tergambar diwajah perempuan itu. Ketika ditanya mengenai Saigon, “nenek tidak tahu, nenek sudah lupa dengan yang atas-atas tanya saja dia,” ujarnya sambil menunjuk ke arah anak lelakinya yang sedang berbicara dengan laki-laki berkumis berbaju kaos kuning muda. Suaranya yang parau dan khas kontras terdengar seperti lumrahnya orang-orang seusianya.

Sembari mengambil buku yang berukuran legal yang dulu pernah ditulis oleh kakek buyutnya terdahulu, Muhammad Taha pun mulai bercerita sembari meraba-raba tulisan arab gundul yang pernah ditulis oleh Muhammad Yusuf Saigon bin Muhammad Thasin Al-Banjari. Yusuf Saigon adalah anak laki-laki dari Muhammad Thasin Al-banjari. Tahun 1282 H ia dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Fatimah di Pontianak, tepatnya di Kampung Banjar Baru Pontianak daerah tepi Sungai Kapuas yang kita kenal dengan Banjar Serasan. 2 tahun setelah itu ibunya meninggal. Dia diasuh oleh pamannya yang bernama H. Jamalludin.

“Saat berumur 7 tahun, ia belajar agama di Banjarmasin,” kenang Taha. Ia juga merantau kebeberapa tempat dipenjuru negeri. Dia merantau sambil berniaga baik itu intan maupun berlian. Memang tak jelas tapak tilas kemana saja dia merantau. Namun di negara seperti  Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura cukup mengenal keberadaannya. Perjalanan demi perjalanan itu akhirnya mengantarkannya ke negeri Kamboja dan Vietnam Selatan. Awalnya dia mencari bibit karet di Saigon, Vietnam Selatan. Perjalanan pencarian bibit karet itu malah mempertemukannya dengan seorang putri dari satu di antara keturunan raja-raja dari Vietnam Selatan. Bukan bibit karet yang tumbuh, tapi melainkan bibit-bibit cinta yang bersemi kala itu. Namanya  Putri Sarijah binti Muhammah Sholeh yang lahir pada tahun 1289 H. Umurnya tak jauh beda dengan Muhammad Yusuf. Ia hanya berjarak 7 tahun dari Muhammad Yusuf. Jarak usia yang terbilang wajar untuk seorang perempuan memilih pendamping hidup. Meskipun terkadang jarak usia tidaklah selalu menjadi tolok ukur untuk memilih jodoh, karena pada sejatinya bagian tulang rusuk itu akan kembali pada ‘pemilik’ yang telah dicatatkan oleh Sang Maha pemberi Kasih. Mereka pun akhirnya dipertemukan dalam pernikahan. Ikatan suci itu benar-benar telah mengikat dua sejoli itu.

“Putri Sarijah sering disebut-sebut istri yang ke-40 dari semua istrinya, namun hanya Sarijah yang mau diajak mengikutinya melakukan perantauan,” ujar lelaki berkumis yang pada saat itu membantu menceritakan Yusuf Saigon. Ya, hanya Putri Sarijahlah yang mau setia mengikuti suaminya itu. Pernikahan itu membuahkan beberapa anak. Mereka sebenarnya dikarunia banyak anak. Namun nasib berkata lain, beberapa anaknya harus meninggal dan hanya tersisa yakni Zubaidah, Rafeah, Abdullah, Abdurrazak, dan Abu Hanifah. “Abdullah sebenarnya memiliki saudara kembar yang bernama Abu lahab namun ia hanya berumur 5 hari,” ujar Muhammad Taha, laki-laki yang lahir 37 tahun silam. Ibunya sendiri, Hazami (84) merupakan anak dari garis keturunan Abdurrazak itu.

Pada tahun 1308 H, Yusuf Saigon kembali ke tanah kelahirannya bersama istrinya Putri Sarijah dan anak-anaknya dengan membawa bibit-bibit karet. Pada waktu itu daerah sekitaran Tanjung Raya 2 masih hutan belantara. Sampailah ia di Banjar Baru. Waktu itu tampuk Kerajaan Qadriah sudah memasuki keturunan Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie. “Dia cukup kenal baik dengan Sultan Hamid Al-Qadrie,” ujar Najib (70) satu di antara cicit Yusuf Saigon. Sebelum membuka perkebunan karet ia sempat bermusyawarah dengan kerajaan dan akhirnya mendapat izin dari kerajaan untuk membuka perkebunan karet di situ. Pada saat pembukaan tempat ini, dia memberikan nama kampung ini dengan Kampung Saigon. Nama itu memang sengaja diberikan untuk mengenang istrinya yang berasal dari Saigon, Vietnam Selatan. Dia yang awalnya bernama Muhammad Yusuf Al-Banjari pun mengganti namanya menjadi Muhammad Yusuf Saigon. Perkebunan karetnya maju pesat, belum lagi usahanya berniaga yang menghantarkan dia menjadi saudagar kaya pada saat itu. “Dia memang terkenal orang yang kaya dan dermawan,” lanjut Najib. Hal senada juga diungkap sebelumnya oleh Muhammad Taha anak dari Hazami yang merupakan keturunan dari Abdurrazak. Yusuf Saigon sempat membangun Pondok Pesantren Saigoniyah, memiliki koperasi, bahkan beberapa tanah-tanahnya di wakafkan untuk keperluan umatnya. “Dia memang tidak mengajar tetap di Pondok Pesantren itu, namun ia mendatangkan guru-gurunya dari Banjarmasin untuk mengajar di Pondok itu, dan dia ingin memfokuskan diri untuk berniaga agar dapat membiaya keperluan pondok itu,” lanjut Muhammad Taha lagi. Sayangnya, Pondok Pesantren Saigoniyah itu sudah tidak ada lagi, sekarang sudah berubah menjadi SD Negeri 3 yang terletak di belakang kantor lurah Saigon.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Begitulah pula halnya Yusuf Saigon. Namanya kini telah di kenal menembus batas dan  mengudara dipelosok negeri. Kearifan dan kedermawanannya benar-benar meninggalkan bekas dihati orang-orang di kampung Saigon. Nama dan kesohorannya akan tetap dikenang melalui ‘Kelurahan Saigon’ sepanjang orang mengabadikan nama daerah yang sekarang dipenuhi aktivitas yang padat merayap itu.

Check Also

Jepin Tali Bintang Pontianak Juara Tangkai Jepin

mabmonline.org , Sekadau – Jepin Tali Bintang yang dibawakan oleh grup jepin dari MABM Pontianak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *