Kabar Terkini
Home » Budaya » Menelusuri Upacara Adat Nosu Minu Podi

Menelusuri Upacara Adat Nosu Minu Podi

Oleh Nursuki Mustaqim

Tuut….tuuuuuuut….tuuuuuuuuuuut?

Tuuuuuuuut..tuuuuuuuuuuuuut…tuut?

Tuut…tut….tuuuuuut???

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya di angkat juga. “Hallo assalamualaikum,” sapaku. “waalaikumsalam,” sambut bapak. Ada apa Kim? tanyanya. “Begini pak, bisa bapak jelaskan nda mengenai upacara adat nosu minu podi pada masyarakat dayak pompakng,” jawabku. “oh bisa,” jawabnya.

Karena hanya berbincang lewat telfon, aku pun berusaha untuk lebih meningkatkan level menyimakku menjadi siaga 1 serta lebih bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang dijelaskan oleh bapak.

Bapak pun menjelaskan bahwa Upacara Nosu minu podi merupakan adat kepercayaan yang harus dilaksanakan oleh masyarakat Dayak pompakng desa Lintang kapuas kabupaten Sanggau, karena adat ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. “Upacara adat ini yang harus tetap kita jaga keutuhannya, supaya anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit kita dapat meneruskan dan menjaga kelestariannya. Adapun upacara nosu minu podi ini dilaksanakan sekali dalam setahun, setelah warga semuanya selesai panen padi, maka barulah adat ini dilaksanakan,” ungkapnya.

Lalu apa sih tujuan upacara adat nosu minu podi pak? tanyaku.

Dengan suara lantang bapak pun menjelaskan bahwa adat nosu minu podi (memanggil semangat padi), adalah penghormatan kepada roh padi yang telah selesai di panen dan mensyukuri atas hasil ladang kepada akek ponompa (sang pencipta). Selain sebagai rasa syukur, upacara adat ini juga bertujuan untuk mempererat rasa kekeluargaan antar etnis dan mempersatukan masyarakat suku dayak pompakng. Aktivitas upacara adat nosu minu podi dilakukan bagi masyarakat Dayak Pompakng sebagai petanda masyarakat telah memasuki tahun baru padi yang ditandai dengan makan nasi baru dan mensyukuri atas hasil ladang dan pertanian lainnya kepada akek ponompa (sang pencipta). Nosu minu podi juga dilaksanakan sekaligus mohon restu untuk keberhasilan tahun berikutnya. Bagi warga lintang kapuas yang masih patuh terhadap adat istiadat yang berlaku, yang merupakan peninggalan tradisi asli dari nenek moyang dan tidak ada satu orang pun bisa mengubahnya. “Diharapkan kepada seluruh masyarakat Dayak khususnya dayak pompakng dan generasi muda untuk tetap mempertahankan dan meneruskan upacara adat nosu minu podi, agar kebudayaan ini tidak hilang begitu saja oleh pengaruh modernisasi dan masuknya budaya asing,” ungkap bapak.

Sungguh penjelasan yang sangat teramat panjang namun mudah dipahami, kata-kata yang diungkapkan pun jelas dan on the track sehingga sangat mudah diterima olehku. “Wajar sajalah namanya juga guru jadi sudah pasti kata-kata yang diungkapkan bapak tertata rapi dan sangat mudah diterima,” kataku dalam hati.

Wahh? Berarti upacara adat ini harus tetap di jaga ya pak,” lanjutku.

Sekilas, memang upacara Gawae Nosu Minu Podi merupakan aktivitas yang perlu dilestarikan, hal ini sebagai bagian upaya pelestarian kebudayaan agar tidak termakan oleh waktu dan zaman. Namun di sisi lain, kebiasaan minum mabuk yang identik pada setiap Gawae Nosu minu Podi membuat citra upacara ini menjadi kurang baik di mata masyarakat lainnya. Bahkan, tidak sedikit keributan yang terjadi akibat mabuk-mabukan tersebut. Maka, sebaiknya kebiasaan minum mabuk yang identik pada setiap Gawai Nosu minu podi dikurangi sehingga pelaksanaan gawae nosu minu podi, hanya sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada Akek Ponompa (sang pencipta), tidak lebih,” ujarnya.

Setelah pembicaraan singkat tadi, masih terekam di memori otakku yang tak terbatas kapasitasnya ini. Ternyata memang benar yang dikatakan bapak, kegiatan upacara adat Nosu Minu Podi memang selalu identik dengan mabuk-mabukkan, yang melibatkan para generasi muda. Padahal seharusnya generasi muda tersebut harus dapat menjaga nama baik upacara adat bukan mencorengnya dengan kegiatan yang tak sepantasnya dilakukan.

One comment

  1. nursuki mustaqim

    terima kasih (y) :)

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes