Home / Ekonomi / Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Oleh Eviana

taman alun kapuasMABMonline.org, Pontianak — Mastiah, nenek paruh baya itu (60) menjalankan rutinitasnya sebagai penjual sate. Nenek itu  berjuang demi menyambung hidupnya. Suami tercinta sudah lima tahun meninggal. Di Taman Alun-alun Kapuas, ia menjemput rezeki. Ia berjualan sate dari sore hari hingga tengah malam.

Sore itu terlihat mendung. Awan hitam menggumpal menutupi langit biru. Saya yang baru saja sampai di Alun-alun, berjalan santai mengelilingi taman yang berada di tepian Sungai Kapuas.  Taman ini terletak di Jalan Rahadi Usman atau di depan kantor Walikota Pontianak. Dulu, Taman Alun-alun Kapuas sering  disebut “Depan Korem”. Tahun 1999 taman tersebut direnovasi hingga sekarang. Pemerintah terus mengadakan pembenahan agar pengunjung merasa nyaman. Taman Alun-alun Kapuas merupakan tempat wisata masyarakat.

Dahulu, ada berita dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa Taman Alun-alun Kapuas itu adalah tempat berkumpulnya para PSK. Berita itu tersebar dan tidak pernah tahu entah dari siapa. Sebagian orang mengganggap Korem itu tempat yang tidak baik. Orang pun tidak begitu ramai yang datang ke taman tersebut. Akan tetapi, setelah direnovasi dan pembenahan oleh pemerintah kota Pontianak, orang tidak lagi memperdulikan berita miring tersebut. Mereka sangat menikmati dan senang berada di taman itu.

Ketika saya berjalan, sesekali tercium aroma sate, jagung bakar, jagung rebus, kacang rebus, dan sosis yang digoreng di sepanjang jalan itu. Suasana begitu ramai, semakin senja, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berpasang-pasangan, dan ada juga yang datang bersama teman-teman mereka.

Angin yang bertiup sepoi-sepoi, terasa dingin menyapa kulit. Menambah sejuknya suasana di taman itu. Ditambah hamparan Sungai Kapuas dengan arus yang tenang memanjakan mata yang memandang. Di taman itu juga terdapat replika Tugu Khatulistiwa yang dikelilingi air mancur. Ia akan terlihat lebih indah ketika dilihat pada malam hari. Hal itulah yang membuat orang senang dan betah duduk dan bersantai di sana.

Taman Alun-alun Kapuas itu semakin bertambah indahnya dengan penataan taman-taman kecil yang dikelilingi tempat duduk. Hal yang tidak kalah penting adalah kebersihan taman itu sendiri. Apalagi tempat tersebut ramai penjual dan pengunjung. Taman tersebut sudah disediakan tempat sampah agar pengunjung dapat membuang sampah pada tempatnya. Sepanjang perjalanan, saya tidak menemukan sampah. Dengan demikian, pengunjung dan penjual sudah memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Tempat yang sangat ramai dikunjungi orang seperti itu tidak akan pernah sepi oleh penjual. Baik penjual makanan, minuman, pakaian, dompet, jam tangan, bahkan VCD. Kesempatan seperti ini tidak akan dilepaskan oleh penjual begitu saja. Hal itulah yang akan mereka manfaatkan untuk berjualan untuk mengais rezeki. Hampir semuanya ada dijual di tempat itu, bahkan tempat membuat tato.

Sambil duduk-duduk di taman yang menghadap ke sungai. Terlihat remaja-remaja yang asyik berfoto-foto. Ada juga keluarga yang sedang bersenda gurau, dan pasangan yang asyik memadu kasih. Ada juga yang menjadikan taman itu sebagai lokasi foto pre-wedding.

Di tengah kepungan aktifitas di Alun Kapuas, aku terpaku kepada sosok seorang ibu tua. Nenek tepatnya. Nenek yang menggunakan baju hijau itu tanpa lelah mengipas sate agar tidak gosong. Nenek penjual sate inilah yang mampu menghentikan langkahku.

Mastiah tinggal di Jalan Pak Kasih bersama anaknya yang bernama Bambang. Bambang sudah mempunyai istri dan tiga orang anak. Mastiah hidup tanpa adanya sosok suami yang selalu menemani. Segala sesuatu ia lakukan sendiri. Melihat keadaan ibu yang seperti itu, Bambang mengajak ibunya untuk tinggal bersama mereka. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Mastiah merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri di rumah. “Die kan udah punye anak tige, besak dah tanggung jawabnye. Saye pon tak enak hati gak mao’ bediam diri di rumah. Daripade tak ade buat di rumah, bagos jual sate di sini. Hitong-hitong bantu anak la, si Bambang tu,” ujar nenek yang menggunakan jilbab biru itu.

Dalam hati saya berkata, nenek ini sudah cukup tua tetapi ia masih saja memikirkan orang lain dan tetap semangat menjalani hidupnya. Saya salut dan merasa sangat kagum dengan sosok nenek yang berada tepat di depan saya. Pembeli semakin ramai yang datang dan memesan beberapa porsi sate. Mastiah dan anaknya terlihat begitu sibuk melayani pembeli yang datang. Mereka tidak hanya menjual sate tetapi ada es teh, es campur, dan es kelapa muda. Pembeli datang dengan serbuan pesanan. Nenek itu terlihat lelah, tetapi itu semua tidak ia hiraukan. Yang ada di pikirannya, bagaimana cara mendapatkan pembeli yang banyak dan dagangannya habis terjual. Sesekali ia duduk sejenak untuk melepas lelahnya setelah itu ia langsung melanjutkan kerjanya.

Banyaknya penghasilan yang mereka dapatkan bervariasi. Jika pada hari-hari biasa, penghasilan yang didapat sekitar Rp.100.000 – Rp.150.000 akan tetapi, jika pada hari libur, penghasilan lebih banyak sekitar Rp.300.000 – Rp.400.000. Hal tersebut dipertegas  oleh Bambang, “kalau hari-hari biase, cume dapat seratos sampai seratos lima puluh. Kalau hari libor, agak banyak siket la, sekitar tige ratos sampai empat ratosan gitu la,” tegasnya.

Batas waktu berjualan mulai pukul 17.00 – 24.00 WIB. “Pukul setengah empat udah mulai ngemas-ngemaskan barang-barang dan tenda, jam lima udah siap semue. Lagi pon, jam segitu, udah ramai dah yang datang,” tutur Mastiah. “Tapi kalau harinye agi tak bagos, misalnye ujan, baleknye agak awal,” tambah Bambang. Sedikit atau banyaknya pembeli bukanlah masalah besar bagi mereka. Banyaknya penjual lainnya tak mengalahkan kerja keras mereka. Mastiah mengatakan meskipun di taman tersebut sangat banyak penjual seperti mereka tetapi ia tetap yakin bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Allah, dan rezeki tidak akan pernah tertukar.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *