Home / Beranda / Meriam Karbit, Pesona Tepian Kapuas

Meriam Karbit, Pesona Tepian Kapuas

meriam karbit, tradisi ramadhan pontianak
Meriam Karbit, Tradisi Ramadhan di Kota Khatulistiwa (foto: Dedi Ari Asfar)

oleh: Dina

MABMonline.org, Pontianak–Jika Papua mempunyai gunung dengan puncak tertinggi di Indonesia, Kalimantan memiliki Sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Sungai Kapuas memiliki panjang 1143 kilometer dan membentang sejauh 600 meter. Bagi sebagian orang, Sungai kapuas dapat dijadikan sebagai alternatif sarana transportasi air, karena sungai ini dapat dilayari dari Kabupaten Kapuas Hulu hingga ke Pontianak. Tidak hanya sebagai sungai terpanjang, Sungai Kapuas juga memiliki keanekaragam fauna air tawar paling tinggi di Indonesia. Keanekaragaman tersebut diperkirakan mencapai 300-500 spesies ikan air tawar.

Siang itu cuaca cukup cerah. Kumpulan awan yang beberapa minggu terakhir ini bergelayut manja di langit Borneo terbang entah ke mana. Akibatnya, udara terasa sangat panas, menusuk kulit. Perih. Perjalanan menuju Sungai Kapuas yang berada di Pontianak Timur membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit dari rumahku yang berada di Pontianak Tenggara. Sepintas kulihat pemandangan Sungai Kapuas dari atas jembatan yang sedang kulalui. Dari atas, air sungai terlihat seperti lautan kristal tanpa batas akibat guyuran sinar matahari. Jika berjalan di jalur sebelah kanan dari arah Veteran kita dapat melihat jejeran meriam karbit yang berhadapan di sayap kiri dan kanan sungai, menarik dengan warna beragam, dipisahkan sejauh 600 meter oleh aliran Sungai Kapuas yang tenang. Aku dan seorang temanku, Nani, menyeberangi jalan menuju Tanjung Raya II, menyusuri bahu jalan yang dipadati berbagai aktivitas sehari-hari warga. Banyak orang berdagang di sana, tak lelah mengejar rezeki di bawah teriknya matahari. Tak hanya para pemilik ruko yang berharap para pembeli ramai membeli barang dagangannya, para pedagang kaki lima pun berharap demikian. Dagangan yang dipajang di pinggir jalan tersebut beraneka ragam, buah-buahan, gorengan, kue-kue tradisional dan masih banyak penganan lainnya.

Aku menuju sebuah rumah yang teduh karena di halamannya ditumbuhi dua batang pohon akasia yang sangat besar, menurut perkiraanku pohon itu sudah berumur puluhan tahun. Daunnya yang rindang mampu menghalangi sinar matahari yang terasa membakar kulit. Teduh. Rumah itu terlihat sepi, hanya terlihat  jejeran lauk pauk yang mengusik rasa laparku. Ya, temanku memang membuka usaha rumah makan di rumahnya. Beberapa kali aku makan di sana, nasi gorengnya sangat enak. Hmmmm, aku menelan liur, menahan keinginanku mencicipinya sekali lagi, mengingat tujuan utamaku datang ke sini. Tanpa basa-basi lagi, ketika aku melihat kemunculan temanku, Fikri, di depan pintu aku segera mengajaknya menuju gertak panjang di pinggiran Sungai Kapuas, di sanalah terdapat meriam karbit yang berjejer berkelompok.

Membutuhkan waktu sepuluh sampai limabelas menit dengan berjalan kaki untuk tiba di gertak panjang yang konon dibuat dengan pendanaan Bank Dunia tersebut. Gertak panjang dari kayu belian itu memiliki lebar yang hanya cukup dilalui oleh dua pejalan kaki. Meriam karbit yang sering menyemarakan kota Pontianak tiap hari-hari besar diletakan di panggung-panggung di samping gertak. Menurut penuturan seorang warga yang aku temui, panggung itu sengaja dibuat untuk meletakan meriam karbit dengan tujuan pelaksanaan tradisi tidak mengganggu pengguna gertak lainnya, misalnya pejalan kaki. Panggung tersebut umumnya terbuat dari kayu nibung yang tahan air. Kayu nibung adalah kayu yang memiliki kualitas mirip kayu belian.

Aku semakin penasaran dengan sejarah tradisi meriam karbit di Kalimantan Barat khususnya Pontianak ini, sepertinya Fikri mengerti rasa penasaranku. Dia membawaku ke sebuah rumah yang letaknya jauh menjorok dari gertak yang sekarang kulalui, seperti memasuki sebuah gang kecil. Rumah dengan ukuran yang lumayan besar itu terbuat dari kayu, nampaknya sudah lama. Benar saja, Fikri tahu benar sudah berapa lama rumah itu dibangun, lebih dari seratus tahun. Dulu ia pernah tinggal di rumah itu, sekarang neneknyalah yang menempati rumah tersebut. Jadi, neneknyalah yang akan menjawab rasa penasaranku. Nenek yang umurnya berkisar antara 75-80 tahun, Nek Zaurah. Nek Zaurah adalah penduduk Melayu asli.

“Meriam itu sudah ada sejak zaman Belanda,”  terangnya dengan logat Melayu yang kental. “Dulu meriam tadak kaya’ sekarang, zaman dulu meriam dibuat dari batang pohon kelapa.”

“Meriam yang ada di keraton itu meriam pertama, dulu meriam itu berada di Batu Layang, namanya Keramat Meriam,” jelas Nek Zaurah. “Meriam tersebut konon berpindah sendiri dari tempat asalnya di Batu Layang.”

Tradisi pembunyian meriam karbit saat menjelang Idul Fitri sebenarnya bermula dari kebiasaan pembunyian meriam karbit untuk menandakan waktu berbuka puasa pada zaman Kerajaan Pontianak.

Ceritenye karena dulu belum ada TV dan pengeras suara seperti sekarang pas bulan puase kalo dah masuk waktu buka puase orang di keraton membunyikan meriam sebagai tanda waktu buka puasa. Sekarang meriam tidak dibunyikan sebagai tanda waktu buka puasa, tapi dibunyikan di hari Idul Fitri selama satu minggu, yaitu pada tanggal 1—7 Syawal. Biasanya warga sekitar Pontianak banyak yang datang untuk menyaksikan secara langsung penyalaan meriam bahkan ada yang mencoba sendiri. Ada yang datang lewat sungai, menggunakan sampan, ada juga yang lewat jembatan hingga menyebabkan macet. Bahkan, dulu satu di antara pondok di dekat panggung meriam hampir roboh karena terlalu ramai.”

Beliau menambahkan, pada zaman dahulu ketika meriam berbunyi juga bisa merupakan pertanda ada sesuatu yang akan diinformasikan oleh raja kepada rakyatnya. Jadi, jika terdengar suara meriam orang-orang akan berduyun-duyun menujun alun-alun keraton.

Sedangkan cerita berbau mistis tentang meriam karbit dituturkan oleh Nek Zaurah bahwa meriam adalah senjata Sultan Syarif Abdurrahman untuk melawan kuntilanak saat akan membuka hutan saat tiba di Pontianak. “Dulu waktu Sultan Syarif Abdurrahman datang ke sini, Pontianak masih berupa hutan yang banyak kuntilanaknya, jadi meriam karbit digunakan untuk perang melawan kuntilanak.”

Sebuah sumber menyebutkan, konon Pontianak berasal dari kata kuntilanak yang dalam bahasa Melayu berarti perempuan yang meninggal ketika melahirkan dan rohnya bergentayangan meneror warga sehingga Sultan Syarif Abdurrahman membuat meriam untuk mengusir kuntilanak tersebut agar tidak mengganggu warga. Namun, menerut penuturan Bapak Abdul Haq yang aku temui di tempat berbeda meriam ini digunakan untuk melawan kuntilanak ketika Sultan Syarif Abdurrahman baru akan membangun sebuah desa yang kini diberi nama Kampung Beting.

Dalam perjalanan menuju rumah narasumber lain, Bapak Abdul Haq, yang berada di darat –tidak terlalu dekat sungai (bahasa Melayu)– aku sibuk mengamati meriam yang gagah menantang langit, ukurannya yang terbilang besar dan diletakan dengan kemiringan 45 derajat seolah siap untuk menembak musuh yang datang menyerang. Aku berhenti pada salah satu kelompok meriam yang warnannya sudah tidak terlalu kentara lagi dari jauh, sepertinya sudah lama dibuat. Ada tiga buah meriam karbit dalam deretan itu. Aku membayangkan betapa hebatnya orang yang bisa membuat meriam ini, terlebih zaman dahulu belum ada alat-alat yang bisa digunakan seperti sekarang. Fikri menjelaskan beberapa bagian meriam. Ia menjelaskan bahwa lubang yang terdapat pada bagian bawah meriam berguna untuk membuang air dan sisa-sisa karbit setelah digunakan. Koran berlubang yang tertempel pada bagian mulut meriam berfungsi agar gas hasil reaksi antara karbit dan air tidak bebas keluar sebelum disulut api, berati koran itu tadinya menutup rapat mulut meriam dan berlubang akibat tekanan gas yang menghasilkan api ketika disulut api.

Setelah puas mengamati dan mengagumi meriam secara langsung, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Bapak Abdul Haq untuk mengetahui cara pembuatan dan penggunaan meriam. Pak Abdul adalah mantan ketua pembuat meriam karbit, pertama kali ia menjadi ketua adalah 46 tahun yang lalu, jadi, sejak muda beliau telah melestarikan trdisi unik masyarakat Kalimantan Barat ini, meriam karbit.

Pak Abdul menjelaskan bahwa dulu sempat terjadi pelarangan penyalaan meriam karbit oleh aparat kepolisian dan pemerintah setempat, bahkan jika ada yang melanggar bisa dijebloskan ke penjara, hal ini terjadi pada masa Orde Baru. Namun, pemerintah mengizinkan pembunyian meriam karbit pada satu hari sebelum lebaran dan satu hari sesudahnya, itupun dengan batasan frekuensi yang tentunya tidak dapat membuat suasana lebaran menjadi semarak karena dentuman meriam karbit. Baru beberapa belas tahun ini tradisi meriam karbit dapat dilakukan dengan bebas oleh masyarakat Pontianak.

Menurut pengalamannya, meriam yang dibuat dengan diameter 80 sentimeter dibagian pangkal, 60 sentimeter di bagian ujung, dan panjang empat meter memerlukan waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Lama pembuatan meriam juga tergantung pada jenis kayu yang digunakan karena alat-alat yang digunakan para pembuat meriam tergolong sederhana dan merupakan alat-alat yang digunakan secara manual.

Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan meriam tergolong sederhana, tetapi bahan utama pembuatan meriam sudah sulit ditemukan dan harganya sangat tinggi pada zaman sekarang, yaitu kayu gelondongan dan rotan. Rotan yang digunakan sebanyak 30 kilogram untuk setiap meriam dengan ukuran  empat meter dan diameter 60—80 sentimeter. Jika sulit mencari rotan kita dapat menggunakan kawat sebagai penggantinya. Alat lain yang digunakan yaitu kapak, seng untuk menangkup, dan paku sebanyak tiga kilogram untuk setiap meriam. Untuk menghasilkan suara yang lebih indah dan dentuman yang lebih kuat dapat digunakan lempengan tembaga yang diletakan di antara tangkupan hingga membentuk seperti lidah, namun karena harga tembaga sangat mahal maka bahan ini jarang digunakan.

Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan meriam adalah membelah kayu menjadi dua bagian, setelah dibelah masing-masing belahan dibuat lengkungan membentuk setengah lingkaran dengan menggunakan kapak sehingga jika belahan kayu tersebut ditangkupkan akan membentuk sebuah kayu bulat dengan rongga di dalamnya. Panangkupan dilakukan dengan seng untuk menutup celah yang ada kemudian seng dipaku, untuk memperkuat tangkupan, kayu tersebut diikat kembali menggunakan rotan yang kira-kira berukuran sebesar kelingking tangan orang dewasa. Alternatif lain dapat menggunakn kawat atau besi, namun tingkat keamanan menggunakan bahan ini sangat rendah karena kawat atau besi tidak memiliki daya elastisitas yang baik. Berbeda dengan rotan yang memiliki daya elastisitas yang tinggi. Daya elastisitas yang tinggi sangat diperlukan karena saat terjadi dentuman  akan menimbulkan tekanan yang menekan dinding-dinding meriam sehingga dibutuhkan pengikat yang elastis untuk menjaga agar meriam tidak hancur saat digunakan dan pengikat yang digunakan dapat menyesuaikan ukuran meriam ketika mengalami dentuman sehinga pengikat tidak putus.

Setelah penangkupan selesai, pada bagian atas meriam diberi lubang yang berfungsi untuk memasukan ramuan karbit dan menyulutnya dengan api. Dibagian bawah meriam pun diberi lubang uintuk memudahkan pembuangan sisa-sisa karbit dan air agar kenyaringan suara bisa dipertahankan, karena sisa-sisa karbit dan air yang terdapat di dalamnya dapat memengaruhi kualitas suara dentuman meriam. Ketika digunakan lubang bagian bawah ini harus ditutup.

Menurut Pak Abdul, kayu yang digunakan dapat berupa kayu belian atau kayu nibung. Kualitas meriam yang menggunakan kayu nibung tidak jauh berbeda dengan meriam yang menggunakan kayu belian. Meriam yang sudah dibuat biasanya disimpan warga dengan cara direndam agar meriam tetap awet. Perendaman dilakukan di sekitar panggung tempat meriam dinyalakan untuk mempermudah pengangkatan ke darat.

Begitulah satu di antara tradisi di Pontianak yang hingga saat ini masih terus dilaksanakan. Tak hanya saat hari raya Idul Fitri, saat peringatan ulang tahun Pontianak pun pemerintah Kota Pontianak sering mengadakan perlombaan pembunyian meriam karbit sebagai upaya pelestarian tradisi Kalimantan Barat, khususnya Pontianak.

Check Also

204 Pengurus MABM Kalbar Dilantik

Sebanyak 204 yang terdiri dari Dewan penasehat, Pemangku Adat dan Dewan Pengurus serta Biro di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *