Home / Jurnalisme Warga / Napak Tilas UN SMA Tahun 2010

Napak Tilas UN SMA Tahun 2010

Oleh Dina Apriana

Sumber : 4referensiku.blogspot.com
Sumber : 4referensiku.blogspot.com

MABMonline.org, Pontianak-Nita (nama samaran), gadis berusia 21 tahun itu tampak rapi mengenakan kemeja abu-abu yang senada dengan kerudungnya saat ditemui di kamar kosnya. Sebuah kamar kos yang ia tempati selama tiga tahun terakhir. Ruangan itu tidak terlalu luas. Hanya berukuran 3×4 meter. Terdapat sebuah lemari baju di sebuah sudut. Meja kecil yang penuh dengan barang-barang. Di sana lah  aku dan Nita duduk, di ruangan 3×4 meter yang berlantai keramik berwarna putih. Berbincang menelusuri pelaksanaan UN SMA tiga tahun lalu, tahun 2010.

Ujian Nasional yang setiap tahun dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia membuat hatinya selalu dipenuhi harapan. Pengalaman pahit yang dirasakannya saat UN tiga tahun lalulah yang menyebabkannya. Bukan karena ia tidak lulus. Bukan. Namun, karena kecurangan yang terjadi di depan matanyalah penyebabnya.

“Saya tidak akan pernah lupa hal itu,” ungkapnya. Nampak sebuah perubahan nada pada suaranya. “Di SMA saya dulu memang sudah biasa melakukan persiapan UN dengan mengadakan les tambahan minimal tiga bulan sebelum pelaksanaan UN dan mengadakan zikir bersama,” lanjutnya. Namun, menurutnya terjadi keanehan dua minggu menjelang pelaksanaan. “Kami dikumpulkan dan dilarang berkomentar jika ada wartawan atau siapapun yang bertanya terkait UN yang pada saat itu sedang santer dibicarakan terkait jual-beli soal dan kunci jawaban UN.”

Awalnya Nita tidak terlalu merasa aneh akan hal itu, meski mulai timbul pertanyaan “mengapa memangnya?” Namun, pertanyaan itu terjawab sesaat setelah mereka dibubarkan. “Seorang siswa mengkoordinir pengumpulan uang untuk membeli soal UN yang dibantu oleh pihak sekolah, khususnya kepala sekolah dan beberapa guru,” paparnya.

Ketika ditanya terkait keikutsertaan dirinya dalam kecurangan itu ia menjawab bahwa ia sama sekali tidak ikut serta. Melihat bagaimana rupa soal dan kunci jawaban saja ia tidak pernah. “Saya sama sekali tak pernah terlibat, bahkan tidak juga memintanya dari teman. Hanya saya dan beberapa orang teman yang bisa di hitung jari yang tidak terlibat. Mereka saling menutupi dan melindungi agar kecurangan ini nampak samar.”

“Tidak hanya itu, kami pun diimbau melalui seorang teman untuk membawa handphone saat pelaksanaan ujian. Kabarnya guru akan mengirimkan jawaban. Sesaat sebelum masuk ke ruang ujian mereka juga berkumpul di ujung koridor sekolah untuk berdiskusi, entah apa.”

Meski tak pernah merasa dirugikan atas kecurangan tersebut, Nita mengaku sangat kecewa. Sekolah yang untuk memasukinya penuh dengan perjuangan ternyata memilih jalan pintas saat UN yang meninggalkan kesan buruk baginya. “Awalnya saya bangga memasuki sekolah tersebut, namun akhirnya saya malu, meski mungkin tak ada yang tahu perihal kecurangan itu.”

Ujian Nasional tahun 2010 memang banyak mengundang desas-desus. Hal itu terkait dengan nilai rata-rata UN yang semakin meningkat dan jumlah mata pelajaran yang diujiankan pun semakin banyak. Banyak kalangan yang mulai mempertanyakan mengapa bertahun-tahun menuntut ilmu dipertaruhkan hanya dalam waktu tiga hari. Hal-hal itulah yang menjadi momok yang tidak hanya menakuti siswa melainkan guru dan orang tua siswa. Pada akhirnya ketakutan itu dimanfaatkan oknum tak beratanggungjawab yang tak lain adalah “orang dalam” di dunia pendidikan dan juga para penipu kelas kakap. Beredarlah soal dan kunci jawaban, mulai dari yang asli hingga palsu. Semua yang terlibat dalam ujian pun meliriknya. Tidak peduli berapa harganya. Baik siswa maupun guru. Dengan harapan dapat lulus dan meluluskan.

Menurutnya, meski nilai UN tetap harus diperjuangkan, namun nilai baik dalam UN tidaklah menjamin seseorang dapat memasuki perguruan tinggi favorit apalagi menentukan masa depan. “Untuk saat ini UN hanya sebuah langkah awal untuk menuju tingkat yang lebih tinggi. Percuma saja memiliki nilai baik di ijazah tapi tidak berkemampuan atau bahkan berhenti sekolah setelah UN. Hal itu tidak akan memberikan dampak apapun. Lagi pula untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi pun dilakukan tes kembali.”

Terkait dengan pelaksanaan UN SMA pekan depan (15/4/2013), Nita mendukung langkah pemerintah untuk membuat dua puluh paket soal yang setiap soal dan lembar jawaban memiliki kode tersendiri yang hanya dapat dibaca oleh komputer. “Saya sangat mendukung upaya pemerintah tersebut. Semoga saja upaya itu dapat mengatasi bocornya soal dan kunci jawaban saat pendistribusian dilakukan. Karena lembar soal dan lembar jawaban memiliki kode tersendiri sehingga merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan akan dengan kode-kode itu akan sulit dideteksi jika tak menggunakan komputer.”

Nita berharap UN tahun 2013 ini dapat dilaksanakan dengan sukses dan penuh kejujuran. “Semoga UN tahun 2013 ini sukses dan dilakukan secara sehat, kompetisi yang sehat, tanpa kecurangan. Percaya diri saja, tak perlu memikirkan ketakutan. Ketakutan memang hal yang wajar, namun ketakutan bukan untuk dipikirkan berlebihan, ia harus dilawan. Lakukan saja yang terbaik,” ungkapnya menutup perbincangan kami sore itu. (Da)

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *