Home / Jurnalisme Warga / Nasionalisme di Ujung Batas

Nasionalisme di Ujung Batas


Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Pontianak Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia dan Brunei Darusallam. Di provinsi dengan terluas ke empat di Indonesia setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, juga dijuluki provinsi “Seribu Sungai”. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan. Selain hal tersebut, di Provinsi Kalimantan Barat terdapat beberapa daerah yang bersinggungan langsung dengan negara tetangga Malaysia, diantaranya Kecamatan Entikong Kab. Sanggau, Sambas Kab. Sambas dan Lubuk Hantu Kab. Kapuas Hulu. Ketiga daerah tersebut merupakan salah satu jalur lintas batas yang digunakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) baik secara legal mau[un illegal menuju negara Malaysia dan Brunei Darusallam.

Dengan menumpang mobil seorang sahabat, saya menyempatkan diri berkunjung ke daerah perbatasan Entikong yang berjarak 310 Km dari Pontianak dan secara kebetulan sahabat saya berkantor di daerah perbatasan tersebut. Waktu tempuh yang biasanya 7 jam berubah menjadi 10 jam karena ada tragedy truk terbalik ditengah jalan sehingga tak ada mobil yang dapat melintas kecuali kendaraan roda dua. Terbalik entah karena muatan yang over capacity atau jalan yang kurang bersahabat akibat banyaknya lobang layaknya kubangan kerbau yang diselingi gundukan bebatuan yang seolah mengisyaratkan sebentar lagi jalan itu akan diperbaiki. Tapi entah kapan karena semua mahfum bahwa kata “sebentar” untuk negeri ini tidak serta merta menunjuk pada waktu yang pasti dan terukur. Kata “sebentar” selalu saja disertai dengan argumentasi panjang yang terus memanjang sehingga sebentar menjadi tak pendek dan tak terukur lagi?

Sepanjang jalan dia berkeluh kesah karena mobilnya yang belum berusia lama namun karena seringnya melewati jalan ini, membuat tampilan mobilnya nampak jauh lebih tua dari pada usianya. Jangankan konstruk body sang mobil yang acapkali terkena batu jalan yang tak bersahabat, mesinpun seolah merasa letih lebih awal dari yang semestinya. Keluar masuk bengkel karena seringnya mesin mobilnya berhadapan dengan tumpukan bebatuan yang tak kenal kompromi, menggesek tanpa ampun karena tak semua lekukan jalan memberi space untuk berkelit dari tumpukan bebatuan.

Sepanjang jalan yang berjam – jam juga di isi dengan mengobral obrolan santai dengan supir agar tak terserang kantuk, karena letih yang bisa menyebabkan lalai mengendalikan kemudi, maklum perjalanan panjang dengan medan yang amat sangat berat melebihi lelah dan kesalnya menghadapi macet Jakarta yang berjam – jam. Bus – Bus panjang berseliweran yang juga melalui jalan yang sama, memacu kecepatan tinggi berburu waktu tanpa peduli pada jalan yang tak bersahabat, mungkin saja karena dorongan profit oriented. Seolah berprinsip selagi bisa jalan pantang untuk menghindar. Bunyi bebatuan bergesekan dengan body Bus memecah kesunyian terutama dijalan – jalan sepi hutan belantara. Di belakang kaca mobil mereka tertulis Rute Pontianak – Serawak – Kuching Malaysia – Brunei Darusallam.

Dengan dialek melayu kental sang supir, bertanya kepada saya.

“Dapatkah kau membedakan mana Bus dari Indonesia dan Bus dari Malaysia atau Brunei Darusallam”

Spontan saya menjawab iya Bus dari Indonesia iya DAMRI..!!

Karena perusahaan angkutan Plat Merah ini, juga ikut melayani Rute Pontianak – Serawak – Kuching Malaysia – Brunei Darusallam.

Pak Sopir berkata jika itu ada tulisan DAMRI, lalu jika bus yaNg gak ada tulisan tersebut gimana membedakannya…??

Aku menyahut iya PLAT mobilnya.

Sopir itu berkata “iya bisa juga tapi itu terlalu sulit karena ukurannya kecil letaknya kadang tak menentu tetapi ada cara sederhana membedakannya bahkan dari jauh sekalipun”

Dengan penasaran aku bertanya apa itu gerangan…??

Sambil tertawa dia mengatakan BUNYINYA dan Bentuk BODINYA,…!!!

Kemudian dia memberikan penjelasan panjang dan lebar untuk mendukung jawabannya tersebut sambil sesekali tertawa, yang bila disimpulkan secara garis besar, kurang lebih penjelasan jawabannya bahwa Pertama, biasanya kalau mobil dari Indonesia bunyinya acak – acakan, tak karuan bahkan seringkali antara bunyi mesin dan bunyi Bodi mobil sulit untuk dibedakan sehingga dari jauh dengan hanya sekedar mendengar bunyinya sudah bisa tertebak dengan pasti, kedua Body Bus dari Indonesia umumnya belepotan bahkan catnya tak dapat menjelaskan warna yang sebenarnya, banyak retakan dan nampak karatan. Mungkin bagi sang sopir ini adalah candaan baginya sekedar melepas penat dan mengusir kantuk yang acapkali mnghinggapi tetapi bagi saya mendengar jawaban itu, ada perasaan terperangah.

Untuk membuktikan pernyataan sang supir di perhentian warung Kopi sambil menikmati kopi hangat merek negara tetangga saya mecoba mengamati dan mendengarkan dengan cermat setiap bus yang lewat di depan kami. Setengah jam berlalu saya menyadari bahwa apa yang dikatakan sang supir bukanlah isapan jempol belaka tetapi kebenaran yang nyata bahkan termasuk DAMRI sekalipun yang nota bene adalah perusahaan angkutan plat merah milik negeri ini. Bagi saya Bus DAMRI selain angkutan, tatkala melewati lintas batas negeri ini maka ia sekaligus merepresentasikan identitas bangsa ini sehingga sudah seharusnya dia terlihat lebih anggun dan tak membiarkan dirinya sepertinya rongsokan dan bahan ejekan.

Adalah hal sepele mungkin bagi sebagian banyak orang tetapi bagi saya, tidak kah ini juga menunjukan ada sesuatu yang salah dinegeri ini tentang karakteristik, identitas dan nilai yang kita anut. Tentang perhatian, tetang perawatan tentang kasih sayang tentang keuletan dan tentang – tentang lain lainnya.

Pada pagi harinya sampailah di Kecamatan entikong dan singgah sejenak dikantor teman saya untuk melepas lelah, yang berjarak + 500 m dari pintu lintas batas wilayah perbatasan. Setelah itu, saya diajak menuju entry masuk perbatasan sembari mencari sarapan pagi yang kebetulan sejak pukul 04.00 pagi nampaknya para penjajak sarapan ini telah beraktifitas karena jam 05.00 pagi kumpulan pelintas batas telah ramai dan loket pelayanan imigrasi ke dua Negara telah dibuka.

Rasa terperangah saya sepanjang jalan itu sepertinya belum cukup dan terselesaikan tatkala kami sampai di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia yang terletak di Kecamatan Entikong Kab. Sanggau tersebut. Di saat sarapan pagi disebuah warung makan nampak di sebelah warung makan tempat saya sarapan pagi terdapat sebuah warung makan yang sederhana dengan menu yang tak beragam dibanding yang lainnya. Terpampang sebuah tulisan merah berlatar putih “ I Love Indonesia” tepat di bawah tulisan tersebut ada tulisan Kantin Zaky / Iwas.

Terdengar desas desus bahwa tidak semua kantin di wilayah perbatasan Indonesia ini milik orang Indonesia namun sebagian besar adalah milik saudagar negeri sebelah. Mereka membeli dari pihak atau oknum – oknum yang memiliki kewenangan di negeri ini yang lebih tergoda dengan uang ketimbang nasionalisme. Kemudian para saudagar ini mempekerjakan orang – orang berkewarganegaraan Indonesia yang berdomisili di batas negeri ini sebagai pelayan.

Maka saya mulai menalar boleh jadi tulisan “ I Love Indonesia” tidak hanya sekedar di tulis tetapi dia atau mereka hendak menawarkan sepenggal nasionalisme, mempertahankan identitas bangsa ini dari dominasi latent dan masif identitas jamak negeri serumpun. Boleh jadi mereka ingin menyampaikan banyak hal namun tak sangguh terucapkan dengan lantang terbungkam oleh jarak.

Dengan nalarku yang tanggung saya mencoba menerka – nerka barangkali hal Pertama, dia ingin mengatakan bahwa hanya ini “lho” milik Indonesia yang masih merepsentasikan ke Indonesiaan ini, hal kedua, saya masih mencintai Indonesia ditengah banyak orang – orang yang makin tak sudi dan enggan dimiliki negeri ini, maka ini saya tunjukan, hal ketiga, karena kami masih Indonesia maka sudihlah kiranya kalian para pemimpin negeri ini memperhatikan kami. Atau hal ke empat boleh jadi dengan kondisi warung makan yang nampak sederhana tak berkelas ini, dia ingin mengatakan inilah potret negeri ini sungguh tak memiliki apa – apa tatkala disandingkan dengan yang lainnya. Ada perasaan perih tetapi juga bangga bahwa masih ada mereka yang sudi dimiliki negeri ini ditengah potret pengurus negeri yang seringkali mempertontonkan sikap abai, lalai, mementingkan diri sendiri dan acapkali tak tahu malu.

Perasaan terperangah ini makin menohok tatkala sahabat saya ini mengajak untuk melintas batas ke negeri sebelah tanpa paspor, sempat terpikir mungkin karena kita serumpun sehingga adakah sikap bijaksana diantara kita. Rupa – rupanya pikiran itu tidaklah benar adanya karena ternyata Imigresen TEBEDU Sarawak Malaysia maupun polis di raja Malaysia yang bertugas di perbatasan memperbolehkan warga Indonesia melintas batas tanpa paspor tetapi dengan alasan berbelanja di satu – satunya Supermarket yang serba ada tak jauh dari perbatasan dan tak ada di wilayah perbatasan Indonesia ini. Maka kami pun dengan alasan yang sama di ijinkan untuk melintas batas tanpa paspor, sebatas supermarket yang hanya berjarak + 1 km dari pintu masuk perbatasan dan tampak sepi penghuni di kiri kanannya itu.

Dengan jalan – jalan mulus nan rapi nampak kokoh yang tentu sangat beda jauh dengan yang dimiliki negeri ini, tak butuh waktu lama untuk sampai di Supermarket yang bernama lengkap “SIN GUAN TAI CO SUPERMARKET” tersebut. Walaupun di kiri kanannya tampak sepi penghuni bahkan tak ada bangunan serupa lainnya, Supermarket ini menjual hamper seluruh kebutuhan masyarakat, mulai dari makanan dan minuman dengan segala jenis, perabot rumah tangga dari yang kecil sampai besar, bahan bangunan, pakaian dan berbagai macam lainnya, seolah ingin menjawab segala kebutuhan masyarakat. Adakah, supermarket ini mengharap pembeli dari negeri kita?

1362453162519920783Kemudahan lintas batas dengan syarat tersebut nampaknya tidak bisa hanya dilihat sebagai kemurahan hati semata dari Negara yang katanya serumpun namun seringkali menyakiti ini. Tetapi sesungguhnya, dapat diduga ada tendesi yang bernilai ekonomi dibalik semua itu karena dapat dipastikan setiap warga Negara kita yang menikmati lintasan pendek ke Supermarket tersebut akan membeli berbagai produk negeri tetangga ini. Terutama sebagai ole – ole karena ini menyangkut nilai kebanggaan dapat mebawa buah tangan dari negeri luar. Semua tahu bahwa rakyat negeri ini seringkali lebih bangga dengan identitas orang lain dari pada identitas negeri sendiri namun sesuatu yang bisa dikatakan penyakit ini bukan karena semata – semata kesalahan rakyat negeri ini tetapi harus diakui ada kesalahan para pengurus negeri ini, sebab mereka gagal menciptakan kebanggan atas identitas sendiri sebagaimana negeri serumpun itu.

Nasionalisme rakyat perbatasan, seolah berada di ujung batas. Batas kesabaran, batas kecintaan dan batas negeri ini. Oleh karena itu, negeri ini tak boleh mengabaikan mereka hingga sampai pada batas – batas itu. Adalah kewajiban bagi negeri ini untuk membuat mereka menjadi bangga dan tak malu mengakui diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia karena mereka adalah halaman terdepan dari wajah bangsa ini, buruk rupa mereka adalah buruk rupa negeri ini.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *