Home / Sastra / Pantun

Pantun

Oleh Tan Erwin

Arang Melayu orang berbudaye
Asik sekali berbalas pantun
Kalau tak mau melupakan budaye
Mari kite lestarikan pantun.

Pantun merupakan salah satu jenis puisi yang tergolong dalam puisi lama. Struktur pantun dari dulu hingga sekarang masih tetap berpola ab-ab dan satu bait terdiri dari empat baris. Struktur lainnya di dalam pantun ialah adanya sampiran dan adanya isi. Sampiran dan isi tersebutlah yang selalu digaungkan oleh orang-orang yang berpantun dengan asiknya.

Keberadaan pantun yang dikatakan sebagai puisi lama kini masih dipelajari di sekolah-sekolah dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Siswa-siswa diajarkan bagaimana membuat pantun dan bagaimana menentukan sampiran dan isi. Jelasnya siswa tentu ada yang paham dan ada yang tidak. Pertanyaannya, apakah kita sebagai masyarakat Melayu masih melestarikan pantun?

Sejarah telah mencatat bahwa pantun pada zaman dahulu ialah sebagai alat komunikasi masyarakat Melayu yang paling populer. Pengguna pantun juga sangat merata di setiap kalangan baik bagi orang tua-muda, lelaki-perempuan, dan kaya-miskin. Masyarakat pengguna pantun melantunkan pantun dengan berbagai maksud, berpantun untuk menasehati, bersenda gurau, bertanya jawab, acara nikahan dan sebagainya. Jelasnya berpantun masyarakat Melayu bergantung komunikasi yang diinginkan. Sudah jelas pantun dapat kita golongkan sebagai salah satu budaya masyarakat Melayu.

Masyarakat Melayu yang berpantun tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mereka harus memikirkan bagaimana menyusun kata-kata untuk membalas pantun dari lawan bicara. Mereka juga memikirkan bagaimana menentukan sampiran dan isi pantun. Di sinilah letak kekuatan masyarakat Melayu dalam berpikir, berpikir bagaimana berkomunikasi tidak salah tanggap oleh lawan bicara. Tentunya saat berbalas pantun terletak kekuatan daya ingat, kekayaan bendahara kosa kata, dan kekuatan berpikir.

Ketika kita lihat sekarang, zaman yang penuh dengan kemudahan, penulis hanya melihat masyarakat Melayu berpantun hanya di saat acara pernikahan, di saat ada perlombaan berbalas pantun. Jika memang benar apa yang penulis lihat berarti eksistensi pantun hampir ditelan zaman. Mungkin tidak ada lagi masyarakat Melayu yang berpantun baik kalangan orang tua-muda, lelaki-perempuan, dan kaya-miskin dengan alasan pantun tidak relevan dengan perkembangan zaman, dengan alasan pantun digunakan orang-orang terdahulu, dan dengan alasan bahasa pantun tidak gaul.

Ketika kita sebagai masyarakat Melayu tidak lagi berkomunikasi dengan berpantun setidaknya kita bisa melestarikan bahasa-bahasa pantun dengan bentuk dokumentasi-dokumentasi, seperti menulis pantun untuk dibukukan. Sehingga kita bisa membuat pantun tetap relevan hingga akhir zaman.

Anak mude dari Melayu
Anak itu sungguh mandiri
Kalau kite mengaku Melayu
Mari kite unjuk jati diri

Check Also

PUISI SATU

Oleh Ahmad Asma 2o 08’ LU – 3o 05’ LS 108o 0’BT – 114o 10’ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *