Home / Jurnalisme Warga / Para Pengantar Jenazah

Para Pengantar Jenazah

Oleh Siska Rahmawati

MABMonlie.org,Pontianak–Di hari itu speed boat Digjoyo melaju dengan kencang menyusuri panjangnya aliran sungai Kapuas. Speed putih berkapasitas sekitar 20 orang itu hanya diisi 11 orang dan seorang lelaki yang telah terbujur kaku. Memang keberadaan mereka di dalam speed itu hanya untuk seorang yang telah terbujur kaku tak berdaya. Mereka adalah para pengantar jenazah yang akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhir.

Di malam sebelumnya tepat pukul 01.00 dini hari tanggal 2 januari seorang lelaki berusia 45 tahun telah menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU rumah sakit Promedika Pontianak. Setelah mendapatkan perawatan intensif selama 12 jam akhirnya dia Sukanda tidak mempunyai daya lagi membuka mata untuk selama-lamanya. Seketika kesenyapan ruang ICU pecah oleh suara tangisan istri, adik-adik, dan abang sepupu mereka yang berada di sekitar jenazah.

Istrinya Adminah (42 tahun) tidak kuasa membendung luapan kesedihan yang tiba-tiba berubah menjadi duka yang teramat dalam. Ia pun nyaris pingsan mengetahui kondisi suaminya yang telah tiada akibat penyakit yang dideritanya selama hampir setengah tahun ini.

Adik kembarnya Sisu dan Kasmin (31 tahun) hanya mampu mengusap-usap pundak kakak kandungnya yang telah lemah. Meskipun usapan itu tidak mampu mengurangi kedukaan Adminah, akan tetapi sedikit membantu untuk menguatkannya. Ruangan ICU bercat putih itu menjadi saksi bisu lepasnya nyawa seorang yang dicintai mereka.

Abang sepupunya Darman (46 tahun) telah berada di sana 1 jam sebelum Sukanda meninggal. Darman pun segera menghubungi semua sanak saudara untuk mengabarkan bahwa Sukanda telah meninggal dunia dikarenakan penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Selepas menghubungi keluarga Darman segera menghubungi pemilik speed boat Digjoyo untuk mencarter speed. Karena memang kampung halaman kami hanya dapat ditempuh menggunakan jalur air, dan kendaraan yang paling cepat untuk mengantarkan kami hanyalah speed boat.

Pihak suster rumah sakit mempersilakan mereka untuk memberikan salam pelukan terakhir untuk almarhum. Karena selepas itu pakaian jenazah akan dilepaskan dan tubuh yang terbujur kaku itu akan dibersihkan. Mereka pun dipersilakan menunggu di kursi yang berada di luar ruangan ICU sembari jenazah dibersihkan.

Di kursi tunggu Adminah masih tidak kuasa untuk menghentikan tetesan air matanya yang terus mengalir. “Waktu datang ke rumah sakit kemarin dia masih sehat, masih bisa berjalan sendiri memasuki ruang UGD. Ya Allah, kenapa begitu cepat,” ujar Adminah yang masih terus menangis. Di sampingnya, jari-jemari tangan kanan Sisu adik kandungnya masih sibuk mengetik telepon genggam yang berada di tangannya untuk menghubungi anak-anak kakaknya yang berada di kampung. Sementara tangan kirinya mengusap pundak kakaknya Adminah.

Telepon pun tersambung dengan telepon keponakannya yang berada di kampung seberang sana. Setelah memberi kabar bahwa ayahnya telah tiada, sontak suara speaker telepon genggam tersebut seakan pecah oleh teriakan keponakannya yang bernama Devi itu. Terdengar tangisannya yang tidak percaya bahwa ayahnya yang selama ini memanjakannya telah berpulang untuk selama-lamanya.

Sementara di ruang administrasi Kasmin mengurus segala keperluan administrasi selama tiga hari di rawat di rumah sakit. Serta memesan ambulan rumah sakit agar esok hari jenazah dapat diantarkan ke Rasau Jaya.

Di tempat berbeda di depan ruang ICU suster yang telah selesai membersihkan tubuh jenazah segera menghampiri pihak keluarga, dan memberitahukan bahwa jenazah harus segera dipindahkan karena tidak mungkin akan diletakkan di ruang inap lagi. Dikhawatirkan pasien-pasien yang lain akan merasa tidak nyaman. Suster dan pihak rumah sakit juga mengabarkan berita yang tidak nyaman di dengar. Mereka mengatakan bahwa di rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas kamar jenazah, jadi mau tidak mau kalau pihak keluarga menyetujui jenazah akan diletakkan di ruang penyimpanan keperluan rumah sakit.

Seketika tangis Adminah memuncak “Ya Allah, kenapa begini nasib suamiku,” ujar Adminah. Akhirnya setelah melalui pembicaraan cukup lama jenazah di bawa ke lantai 1 dan diletakkan di ruang perlengkapan. Setibanya di ruang perlengkapan ternyata apa yang di bayangkan pihak keluarga tidak seperti sebelumnya. Ruang perlengkapan di rumah sakit itu bersih dan tidak terlalu berdebu. Pihak keluarga menjadi sedikit lebih lega.

Adminah, adik-adik, dan Darman abang sepupunya membentangkan tikar berwarna-warni yang sebelumnya Darman antarkan sebelum jenazah meninggal untuk menjadi tempat istirahat bagi yang menjaga Sukanda. Akan tetapi malahan menjadi tempat istirahat untuk menunggu jenazah suami Adminah tercinta.

Mereka pun melepas lelah sejenak, membujurkan kaki untuk menenangkan diri masing-masing di atas bentangan tikar tersebut. Tidak ada satupun mata yang dapat terlelap, karena masih terngiang-ngiang detik-detik terakhir Sukanda meregang nyawa.

Pukul 03.00 dini hari Darman pamit pulang sebentar untuk mempersiapkan pakaian yang akan Ia bawa ke kampung halaman untuk mengantarkan jenazah Sukanda. Darman menuju tempat parkir dan sesegera mungkin beranjak dari rumah sakit. 20 menit kemudian Darman tiba di rumah, istinya Siti telah menunggu kedatangan kami. Siti seakan tidak percaya Sukanda akan meninggal secepat ini. Darman bergegas memasukkan pakaian seperlunya untuk dibawa ke kampung sambil bercerita apa yang telah Ia alami di rumah sakit. istrinya hanya bisa menyimak dengan baik dan meneteskan air matanya.

Pukul 06.00 Darman, istrinya Siti, dan anak keduanya yang masih berusia 4 tahun bergegas ke rumah sakit setelah sebelumnya menghubungi Pakde Bardi yang memiliki mobil kijang keluaran pertama agar mengantarkan kami ke rumah sakit setelah itu menuju Dermaga Rasau Jaya.

Setibanya mereka di rumah sakit, beberapa sanak famili yang berada di Pontianak telah datang ke rumah sakit, dan sedikit-demi sedikit ruang belakang rumah sakit dipenuhi orang-orang yang ingin menyampaikan belasungkawa.

Pukul 08.30 mobil jenazah akhirnya siap digunakan untuk mengantarkan jenazah Sukanda. Setelah jenazah dimasukkan ke dalam mobil, Kasmin dan Adminah ikut masuk ke dalam mobil jenazah. Sedangkan abang sepupunya Darman duduk di samping supir ambulan. Siti istri Darman, sisu serta keluarga yang akan pulang kampung juga segera masuk ke dalam mobil Pakde Bardi. Mereka pun pergi ke dermaga speed boat Rasau Jaya diiringi oleh sanak famili yang menggunakan sepeda motor.

Ternyata kedatangan mereka di pelabuhan speed telah ditunggu pemilik speed, keponakan Darman bernama Andre dan ayahnya Yanto yang juga akan ikut ke kampung halaman di Kecamatan Seponti Jaya, Kabupaten kayong Utara yang biasa disebut juga dengan Paket 5.

Jenazah langsung diletakkan di tengah-tengan speed, sebelumnya sandaran bangku telah dilipat terlebih dahulu agar lebih mudah meletakkan jenazah. Barang-barang mereka pun dimasukkan terlebih dahulu ke dalam speed. Sembari menunggu barang-barang selesai diangkut, Darman berpamitan kepada istri dan anaknya yang hanya bisa ikut mengantar hingga ke Dermaga Rasau Jaya saja. Dengan meminta doanya mereka pun pergi menuju kampung halaman Desa Seponti Jaya Kabupaten Kayong Utara yang berjarak sekitar 250 km dari Pontianak.

Aku duduk tepat di samping jenazah kaki Sukanda yang merupakan pamanku. Perjalanan begitu mengharukan. Terlebih Adminah yang duduk di bangku paling depan yang juga merupakan bibiku sesekali menangis menghadapi kenyataan pahit yang menimpanya ini. Speed melaju dengan kencang menabrak ombak-ombak kecil yang membuat tubuh kami para penumpang sedikit terhempas di atas tempat duduk. Terlebih saat speed berkecepatan tinggi itu melewati tikungan sungai, seakan-akan kami akan terlempar dan terjatuh ke dalam sungai terpanjang di Indonesia ini.

Tak lama perjalanan, speed kami tiba-tiba berhenti. Ternyata nahkoda speed merasakan ada sesuatu di baling-baling kipas speed yang dikendarainya. Dengan cekatan ia pun melihat keadaan kipas, ternyata terdapat kantong plastik yang tersangkut. Selepas membersihkan kipas perjalanan pun kembali dilanjutkan.

Sempat beberapa kali aku memegang kaki pamanku yang telah dingin terbujur kaku. Sekelebat aku teringat kenangan-kenangan yang pernah terukir saat ruhnya masih ada dalam raganya. Terasa pilu apabila mengingat hal-hal itu. Keindahan-keindahan lukisan tangan Allah yang berada di sepanjang sungai sedikit mampu mengusir duka yang menggelayuti hati ini.

Tidak terasa sudah dua jam setengah kami para pengantar jenazah berada dalam Digjoyo. Perjalanan kami lalui dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Akhirnya kami pun sampai di dermaga Seponti Jaya Paket 5 lebih cepat setengah jam dari biasanya. Dari kejauhan terlihat begitu ramai para tetangga dan keluarga telah menunggu kami terutama jenazah pamanku Sukanda. Seketika tangis bibiku Adminah pecah membahana memecah kerasnya suara mesin speed yang meraung.

Saat tali tambang speed dilontarkan ke dermaga dengan sigap orang-orang yang menunggu di atas dermaga menyambut dan mengikatkan tali agar kami dapat merapat sesegera mungkin. Satu persatu kami ke luar dari dalam speed. Tangis bibiku tak kunjung reda. Saat aku beranjak dari kursiku menuju bagian depan speed, langkahku mulai gontai akibat ombak-ombak kecil yang menabraki pinggiran speed Digjoyo putih itu. Ketika kaki kananku melangkah ternyata pijakkanku tidak tepat. Sandal gunung coklatku menginjak kaca speed yang terbuat dari plastik sehingga kaca tersebut pecah. Perasaanku begitu tidak nyaman berulang kali aku lontarkan kata maaf untuk menebus kesalahanku. Syukurnya nahkoda speed begitu baik dan membiarkanku segera pergi mengikuti jejak langkah para penumpang yang lain.

Ternyata aku telah dijemput oleh pamanku Darsam yang merupakan adik kandung ayahku, aku pun segera mengambil tangan kanannya dan menciumnya. Setelah jenazah di masukkan ke dalam ambulan milik puskesmas kecamatan  segera aku duduk di belakang motor Yamaha mio hijau milik pamanku. Di sepanjang jalan dari dermaga hingga ke rumah jenazah begitu banyak orang yang mengikuti ambulan. Orang-orang selururuh kampung seakan keluar ikut mengantar mengiringi kepergiannya. Aku begitu takjub, karena memang semasa hidupnya beliau tidak pernah mengusik kehidupan orang lain.

Setibanya di rumah duka, ternyata keadaan lebih ramai lagi. Segala sesuatu keperluan jenazah telah selesai dipersiapkan termasuk peti jenazah dan persipan untuk menadikannya. Aku segera turun dari motor pamanku ternyata pamanku yang lain juga telah berada di sana duluan. Setelah bersalaman aku segera masuk ke rumah duka melalui pintu garasi rumahnya yang terbuka lebar.

Di dalam rumah seketika terdengar jerit tangis anak perempuannya Devi yang seakan tidak terima ruh ayahnya telah direnggut oleh malaikat Isroil. sedang anak lelakinya Dodi terus saja mengurung diri di kamarnya setelah mengetahui ayahnya telah tiada. Tidak ada sedikitpun bibir tersenyum, semua wajah dirundung duka mendalam. Tiba-tiba ada seseorang yang tersenyum ke arahku. Senyuman itu adalah senyuman nenekku yang bahagia dan terkejut melihat kedatanganku. Aku segera memeluk dan mencium tangannya yang telah keriput dimakan usia.

Di samping garasi, jenazah tengah dimandikan oleh pihak keluarga. Para ibu-ibu mengelilingi dan membaca sholawat sepanjang prosesi pemandian jenazah dilakukan. Usai dimandikan jenazah dibawa masuk ke dalam ruang tamu rumah duka dan segera dikafankan. Jenazah telah rapi terbungkus kain putih, pakaian terakhir yang wajib dikenakan saat seorang muslim meninggal yang tersisa hanya bagian wajah. Orang-orang pun memanggil istri, anak, dan mertua jenazah agar melihat jenazah untuk terakhir kalinya. Setelah itu akhirnya tali putih pun diikatkan dan wajah pucat pasi itu pun tertutup untuk selama-lamanya, dan selepas itu jenazah pun disalatkan.

Sebelum dibawa ke pusara terakhirnya seorang ustaz yang telah ditunjuk pihak keluarga menyampaikan pesan dan khotbah untuk keluaraga dan semua orang yang ada di sana. Jenazah yang telah dimasukkan ke dalam peti pun akhirnya di gotong setelah khotbah yang disampaikan ustaz selesai. Beramai-ramai, berbondong-bondong orang mengikuti jenazah hingga akhirnya tiba ke liang lahat. Tapi pada saat itu aku tidak ingin ikut bersama rombongan yang lain, karena aku takut tak mampu membendung air mata ini. Akhirnya aku berada di rumah duka dan bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang berada di rumah duka.

Hanya sekitar beberapa waktu saja aku di sana. Karena aku harus pulang ke rumah nenekku atau biasa ku panggil dengan sebutan mbah. Aku menginap di rumah mbah selama 2 hari saja. Selama di sana sempat beberapa kali aku mendatangi rumah bibiku Adminah. Memberikan semangat padanya meskipun mungkin kecil semoga mampu menghibur hatinya. Ia sudah tampak tegar menerima kenyataan pahit ini. “Mungkin ini sudah jadi yang terbaik untuknya, karena sudah menahan sakit selama ini, semoga dia bisa tenang di sana,” ujar bibiku yang bertubuh agak gemuk itu. Kedatanganku ke rumahnya kali itu juga ingin berpamitan dengannya karena keesokan harinya aku sudah akan kembali ke Pontianak bersama Ayahku.

Keesokan harinya aku dan ayahku telah siap untuk kembali ke Pontianak menaiki speed boat yang berbeda dengan yang kami naikki saat kami pergi. Perjalanan kali ini begitu singkat namun terasa sangat panjang. Tidak sedikitpun kami merasakan lelah. Entah mengapa fisik kami begitu kuat meskipun kami jarang tidur saat berada di sana. Seakan-akan Allah memberikan kami kekuatan lebih saat berada di sana.

Kami tiba di dermaga paket Seponti Jaya diantar oleh paman-pamanku. Pukul 08.00 speed boat kami pun tiba. Segera kami melangkah masuk ke dalam pesawat air itu. Selama tiga jam kami melaju mengarungi sungai yang sama saat kami pergi mengantarkan jenazah. Kini saat semua telah usai aku merasakan lelah yang begitu hebat. Akhirnya disepanjang perjalanan banyak waktu kuhabiskan untuk melelapkan ragaku dan menaruh kepalaku pada sandaran kursi yang kududuki.

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *