Home / Beranda / Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)
lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)

Oleh Khalifah

Sore sehabis hujan mengguyur kota khatulistiwa, becek di sana-sini tidak bisa dihindari. Lalu lalang kendaraan yang setiap hari semakin menyesaki jalan yang bahkan sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertambah lebar saling menghindari genangan-genangan air yang tampak kehijauan di lubang jalan yang berpuluh-puluh kali ditambal dinas pekerja umum.

Di sebuah gang yang beceknya bahkan saat hujan tidak menyentuh tanah Borneo ini bergantung ratusan makanan siap saji bersampul plastik dengan bungkusan warna-warninya. Tak ketinggalan pula barang kelontong yang siap menyambut pembeli yang mulai datang bahkan ketika ayam belum berkokok membangunkan tidur. Pasar Puring Siantan, Pontianak Utara. Pasar tradisional yang dibagian gangnya inilah akan kutemui pemilik toko penjahit baju. Toko penjahit yang sekaligus menjual berbagai aksesoris lain seperti tas yang tergantung di bagian depan dan beberapa alat tulis dan kancing-kancing baju yang tampak meriah dengan aneka warnanya di dalam lemari kaca.

Ko Acan, begitu panggilan akrabnya ini menyambut kedatanganku sore itu di tokonya. Tokonya berada di gang sebelum Kantor Pos Siantan di dekat penyebrangan. Tokonya berada di sebelah kiri dan berjeret beberapa toko dari muka gang. Tokonya tutup ketika jarum jam sempurna menghitung jari satu tangan. Sebentar lagi tokonya akan tutup, tetapi ia tetap menyambutku dengan nada ramah khas seorang pedagang Cina saat menyambut pembeli.

“Mau beli apa?” dengan logat Cinanya ia bertanya.

Sore yang hampir menjelang magrib itu menyaksikan kebingunganku menjawab pertanyaannya. Bingung karena memang tak ada sedikit pun niatku untuk membeli barang yang menyesaki toko Ko Acan ini. “Eeeee….saye ni bukan mau beli Ko, tapi mau nanya-nanya. Koko dulu tinggal di Parit Bangsengkan?” tanyaku menjawab pertanyaannya, “Koko tau nda ngape namenye Parit Bangseng Ko?” lanjutku.

Ko Acan yang sekarang tinggal di tokonya di Pasar Puring ini tahun 60-an merupakan etnis Cina yang mendiami Parit Bangseng. Pada tahun 85-an dia pindah untuk menempati tempatnya sekarang.

Parit Bangseng tempat yang tak jauh dari Pasar Puring Siantan. Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur. Tempat yang dulunya dinamai sesuai dengan nama perintisnya.

Bangseng tu nama orang yang punya tempat itu. Semua tanah yang disana punya dia semua. Shim Ban Shin namanya. Dari depan tuh sampai lapangan bola itu tanah dia”, jawab Ko Acan yang berumur lebih dari setengah abad itu.

Shim Ban Shin, orang yang dulunya pemilik semua tanah di Parit Bangseng adalah keturunan Cina. Penyebutan Parit Bangseng tak lepas dari namanya dan parit besar yang ada di sana. Bang berarti besar dan Seng yang merupakan sebutan atau panggilan untuk Shin. Jadilah Parit Bangseng.

Parit Bangseng dulunya dihuni oleh etnis Cina. Namun, karena terjadi kerusuhan di daerah pedalaman Kalbar menyebabkan etnis lain memasuki tempat ini. Etnis Melayu dan Maduralah yang kemudian ikut menghuni tempat ini. Keberagaman pada akhirnya membuat etnis Cina tak lagi menjadi pemilik tunggal Parit Bangseng ini. Bahkan, sebagian besar etnis Cina yang mendiami tempat ini kemudian pindah ke tempat lain.

Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur ini memiliki wilayah cukup luas. Luasnya kira-kira tiga hektar. Di bagian depan, kawasan ini dihuni oleh orang Cina, bergerak lebih dalam lagi akan dijumpai etnis Melayu dan Madura. Keberagaman inilah yang mencetuskan pergantian nama dari Parit Bangseng menjadi Parit Makmur.

Parit Makmur, ye karne di sini nih udah dihuni oleh banyak etnis. Depan-depan sanakkan banyak Cine, trus nak sini-sinik nih banyak Melayu sama Madure. Itulah die alasan e ngape Parit Makmur karena kite tuh makmur-makmur jak tak ade ape-ape macem kerusuhan gitukan.” Jawab Nurhayati warga Jalan Parit Makmur, Gang Karimun yang telah mendiami tempat ini sejak kecil. “Kalau dulukan nama e Paret Bangseng karne yang ngerintis e nama e Aseng jadi udahlah dikasi name Bangseng, tapikan kalau sekarang udah ramai dah,” tambahnya.

“Parit Bangseng”, nama ini sudah berganti menjadi Parit Makmur. Bukan sekadar nama untuk menandai suatu tempat. Akan tetapi, penanda yang diharapkan menjadi simbol tentang harapan yang telah terijabah. Parit Makmur mengganti Paret Bangseng.

Check Also

204 Pengurus MABM Kalbar Dilantik

Sebanyak 204 yang terdiri dari Dewan penasehat, Pemangku Adat dan Dewan Pengurus serta Biro di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *