Home / Ekonomi / Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 1)

Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 1)

Oleh: Ismail Ruslan

Patron klien tumbuh subur pada masyarakat yang memiliki persoalan sosial, dan ekonomi yang komplek seperti minimnya sumber daya alam yang tersedia. Lapisan sosial  masyarakat yang mengalami umumnya di kalangan petani, nelayan, pedagang dan buruh.
Di pedesaan atau pinggiran kota, bentuk hubungan antara patron (tuan) klien (pekerja), dengan cara memberikan bantuan terhadap semua kebutuhan misalnya kemudahan untuk memperoleh lapangan usaha, pinjaman untuk kebutuhan mendadak (sakit, biaya sekolah anak, konsumtif).

Klien menerima kebaikan tersebut sebagai ”hutang budi”, menghargai,  dan berkomitmen untuk membantu patron dengan  jasa tenaga yang mereka miliki. Pola-pola relasi sosial yang demikian dapat dilihat pada hubungan antara pemilik lahan pertanian luas (petani kaya) dengan para buruh taninya dan orangorang di sekitarnya yang kemampuan ekonominya terbatas (Eisenstadt dan Roniger, 1984:122-127; lihat juga,  Jay, 1969).

Konsep Patron Klien
Tidak mudah untuk “menilik” hubungan patron klien baik di perkotaan, maupun pedesaan. Biasanya masyarakat tidak merasa hubungan yang mereka bangun atau antara pekerja dan pemilik sebagai hubungan patron klien.
Masyarakat selalu beranggapan bahwa hubungan yang terjadi selama ini seperti hubungan sismbiosis mutualisma. Pekerja merasa diuntungkan karena selalu dibantu oleh pemilik lahan, walaupun kadang mereka “dihisap”, namun pekerja tidak bisa lepas dari hubungan tersebut karena “terjerat” hutang piutang atau hutang budi.
Scott (1972) menjelaskan hubungan patron klien pada tiga katagori  (1) terdapat suatu ketimpangan (inequality)  dalam pertukaran; (2) bersifat tatap muka; dan (3) bersifat luwes dan meluas.

Dalam hubungan patron klien pasti ada ketimpangan, misalnya hubungan antara petani dengan pemilik lahan, atau nelayan dengan juragan. Dalam kehidupan nelayan yang terbelenggu dalam kemiskinan dan minimnya sumber daya alam di laut, biasanya nelayan meminjam modal kepada juragan untuk melaut dan mencari ikan. Dengan jaminan, nelayan tersebut tidak akan menjual hasil tangkapannya kepada orang lain.
Yang memprihatinkan, jika emperoleh hasil tangkapannya, nelayan tersebut tidak memiliki kuasa untuk menentukan harga jual. Juragan sudah memasang tarif harga dengan standar sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada petani  di pedesaan. Bagi petani yang tidak memiliki lahan, selalu menggantungkan hidupnya kepada tuan tanah. Ketergantungan itu mulai dari urusan makan (dapur), biaya untuk pendidikan anak, untuk perawatan jika keluarga petani ada yang sakit. Tuan tanah juga memiliki otoritas untuk meneruskan atau menghentikannya sebagai pekerja. Petani tidak memiliki kekuasaan untuk meneruskan atau menolak bekerja, karena beban hutang yang melilit.

Pada dasarnya, hubungan  patron-klien berkenaan dengan: (a) hubungan di antara para pelaku atau perangkat para pelaku yang menguasai sumber daya yang tidak sama; (b) hubungan yang bersifat khusus (particularistic), hubungan pribadi dan sedikit banyak mengandung kemesraan (affectivity); (c) hubungan yang berdasarkan asas saling menguntungkan dan saling memberi dan menerima (Legg, dalam Kusnadi 2009)

Jika petani akan melepaskan diri dari tuan tanah maka pilihannya adalah memutuskan hubungan kerja dan mencari pekerjaan lain. Namun hal ini tidak mudah, karena petani atau nelayan harus memutus mata rantai ketergantungannya dengan pemilik lahan atau juragan berupa hutang piutang, dan hutang budi. Putusnya hubungan antara patron dank lien bisa juga terjadi jika diantara keduanya terjadi konflik yang diakibatkan salah satu ingkar atas kewajibannya.

Pola hubungan patron klien ada yang kuat bertahan lama  dan lemah. Salah satu sebab melemahnya  hubungan patron klien adalah konflik, misalnya  di Jepang konflik antara tuan tanah dan para penyewa di dekat kota atau pusat industri  tidak disebabkan oleh pindahnya tuan tanah ke kota dan berkurangnya perlindungan terhadap  petani tetapi oleh fakta bahwa kesempatan-kesempatan bekerja di pabrik telah menarik para buruh tani keluar dari sektor pertanian (Waswo dalam Rustinsyah 2011).

Dalam memelihara hubungan patron klien diperlukan syarat tertentu antara lain (1) adanya sesuatu yang diberikan satu pihak,  baik berupa  uang atau jasa, yang merupakan sesuatu yang  berharga bagi pihak lain; (2) terjadi transaksi pemberian antara pihak  satu dengan lainnya maka yang menerima mempunyai kewajiban untuk membalas; dan (3) dalam hubungan tersebut terdapat norma-norma yang mengatur, misalnya apabila seseorang telah menerima sesuatu dan tidak tahu membalas, maka  dianggap ingkar janji (Ahimsa 1996).

Unsur penting dalam hubungan  patron-klien adalah resiprositas yang diatur norma-norma tertentu.  Normanorma yang mengatur hubungan timbal balik adalah (1) orang seharusnya membantu mereka yang telah menolong; dan (2) jangan mengingkari mereka yang telah menolong (Gouldner dalam Rustinsyah 2011).
Adi Prasetijo (2008) menjelaskan bahwa arus patron ke klien yang dideteksi oleh James Scott berkaitan dengan kehidupan petani adalah:
•  Penghidupan subsistensi dasar yaitu pemberian pekerjaan tetap atau tanah untuk bercocoktanam
•  Jaminan krisis subsistensi, patron menjamin dasar subsistensi bagi kliennya dengan menyerap kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh  permasalahan pertanian (paceklik dll) yang akan mengganggu kehidupan kliennya
•  Perlindungan. Perlindungan dari tekanan luar
•  Makelar dan pengaruh. Patron selain menggunakan kekuatanya untuk melindungi kliennya, ia juga dapat menggunakan kekuatannya untuk   menarik keuntungan/hadiah dari kliennya sebagai imbalan atas perlindungannya.
•  Jasa patron secara kolektif. Secara internal patron sebagai kelompok dapat melakukan fungsi ekonomisnya secara kolektif. Yaitu mengelola berbagai bantuan secara kolektif bagi kliennya.

Sedangkan arus dari klien ke patron, adalah jasa atau tenaga yang berupa keahlian teknisnya bagiu kepentingan patron. Adapun jasa-jasa tersebut berupa jasa pekerjaan dasar/pertanian, jasa tambahan bagi rumah tangga, jasa domestik pribadi, pemberian makanan secara periodik dll. Wallahu A’lam..

Check Also

APPF Kelola Pasar Flamboyan

Oleh Teti Laila Adha Pontianak — Berawal dari lima himpunan pedagang pasar yang membentuk Koperasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *