Home / Ekonomi / Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 2)

Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 2)

Oleh: Ismail Ruslan

Prinsip-prinsip relasi patron-klien berlaku juga pada masyarakat nelayan. Unsur-unsur sosial yang berpotensi sebagai patron adalah pedagang (ikan) berskala besar dan kaya, nelayan pemilik (perahu), juru mudi (juragan laut atau pemimpin awak perahu), dan orang kaya lainnya.

Mereka yang berpotensi menjadi klien adalah nelayan buruh (pandhiga, Madura) dan warga pesisir yang kurang mampu sumber dayanya. Secara intensif, relasi patron-klien ini terjadi di dalam aktivitas pranata ekonomi dan kehidupan sosial di kampung. Para patron ini memiliki status dan peranan sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat nelayan (Kusnadi, 2000). Kompleksitas relasi sosial patron-klien (vertikal) dan relasi sosial horisontal di antara mereka merupakan urat-urat struktur sosial  masyarakat nelayan.

Relasi patron klien dapat juga dilihat pada hubungan sosial ekonomi antara nelayan di Sungai Kapuas. Sebagaimana yang dilakukan aktivitas sehari-hari adalah nelayan sekaligus penjual ikan di pasar tradisional.

Mereka memiliki hubungan dengan empat orang rekan kerja atau anak buah dalam mencari ikan di Sungai Kapuas. Relasi semakin kuat karena anak buahnya sangat tergantung dengan pimpinan dalam permodalan, seperti sebelum mencari ikan  boleh meminjam uang untuk keperluan sehari-hari makan, membiayai sekolah anak atau keperluan di sungai.

Hubungan ini berlanjut karena hasil yang diperoleh dari tangkapan itu tidak dijual kepada pembeli lain tetapi dijual kepada pimpinan dengan harga yang disepakati. Pimpinan juga sering membantu anak buahnya jika ditimpa musibah, seperti anak atau keluarga mereka sakit atau meninggal dunia. Jenis hubungan seperti ini membuat hubungan keduanya seperti patron-klien, dan sulit untuk dimasuki oleh pembeli lainnya.

Menjelang hari lebaran pedagang  petani dan nelayan  memperoleh “hadiah lebaran” dari “juragan”, atau sebaliknya ketika memerlukan uang segera  maka tumpukan harapannya untuk pelepas uang adalah pedagang besar tersebut. Hubungan seperti ini membentuk hubungan patron-klien, hubungan induk semang dengan anak semang. Hubungan ini juga berlanjut pada tindakan sosial seperti saling memberi untuk penyelenggaraan pesta perkawinan di antara keluarga, memperingati hari kematian dan syukuran keberangkatan haji.

Upaya-upaya patron dalam menjaga hubungan baik dengan kliennya antara lain. Pertama, menunjukkan kedermawanan terhadap kliennya. Kedermawanan seorang majikan sebagai patron dapat membuat klien kerasan bekerja, dan merasa ada hutang budi.
Misalnya, majikan tidak pelit dengan memberikan hadiah pada saat lebaran dan memberikan pinjaman saat kliennya membutuhkan karena tertimpa musibah. Kedermawanan para petani kaya dan maju di desa ditunjukkan ketika mereka memberikan sumbangan dalam kegiatan upacara bersih desa, perayaan hari kemerdekaan, pembangunan desa, dan pemberian sumbangan kepada tetangga yang kurang mampu.

Petani kaya dan maju diharapkan dapat memberikan sumbangan yang besar atau sebagai donatur pada perayaan-perayaan  hari besar dan kegiatan pembangunan desa. Jika ternyata petani maju tidak memberikan sumbangan yang pantas maka menjadi pergunjingan antar warga. Pergunjingan antar warga desa dan panitia tentang dana yang terkumpul  untuk suatu kegiatan bisa terjadi di mana saja, saat bertemu dalam acara perayaan, bertemu di toko ketika membeli sarana produksi pertanian, dan sebagainya. Pergunjingan-pergunjingan seperti itu merupakan salah satu kontrol akan ketidaksenangan terhadap warga desa kaya  namun pelit dalam memberikan sumbangan.
Kedua, patron dapat memberikan jaminan hidup keluarganya dengan cara mempekerjakan klien sepanjang tahun. Umumnya patron mempunyai kegiatan ekonomi ganda di sektor pertanian dan di luar pertanian agar dapat mempekerjakan kliennya sepanjang tahun.

Pekerjaan di luar pertanian yang banyak diminati patron adalah berdagang. Misalnya, seorang petani maju memiliki kurang lebih tujuh klien. Ia memiliki tanah pertanian dua hektar dan mempunyai kegiatan berdagang pupuk kimia, pupuk kandang, distributor minyak tanah dan usaha penggergajian kayu; mempunyai  klien sebanyak tujuh orang yang tidak pernah libur bekerja kecuali hari raya. Demikian pula  beberapa petani maju lainnya yang mempunyai klien dipastikan mempunyai kegiatan ekonomi ganda di sektor pertanian dan di luar pertanian (Rustinsyah, 2011).

Check Also

Pedagang: Ayam Potong Flamboyan Tidak Berformalin

Oleh Siti Munawwarah MABMonline.org, Pontianak — Maraknya pemberitaan mengenai kecurangan pedagang ayam potong cukup meresahkan masyarakat. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *