Home / Jurnalisme Warga / Pedagang di Gor Dapatkan Omzet 5 Juta untuk 4 Kali Jualan Sate

Pedagang di Gor Dapatkan Omzet 5 Juta untuk 4 Kali Jualan Sate

Gambar:  Foto Fredy saat diwawancara. SR
Gambar: Foto Fredy saat diwawancara. SR

Oleh Melisa Jupitasari

MABMonline.org, Pontianak-Gor Pangsuma yang biasanya menjadi tempat olahraga, kini menjadi penuh dengan padatan manusia setiap hari minggunya. Jelas saja di Gor Pangsuma setiap pagi minggunya selain banyak orang yang berolahraga, gor ini seakan menjadi pasar pagi karena banyaknya aneka ragam  orang yang berjualan di sana dari makanan, minuman sampe pada baju-baju. Sate menara saja contohnya. “Di gor, omzet sekitar kurang lebih 5 jutaan karena dalam sebulan hanya 4 kali saja jualan sate setiap hari minggunya,” jelas Freddy penjual sate menara (28/4).

Mengusung nama sate menara Fredy kembali membuka warung kecilnya itu setelah 6 tahun berhenti jualan. “saya baru mulai jualan lagi sekitar setengah tahun lalu setelah 6 tahun vakum,” ujar laki-laki berumur 26 tahun itu. Nama sate menara sendiri berawal dari ibunya yang dahulu berjualan di pasar Menara sekitar belasan tahun yang lalu, “dikasi nama sate menara biar orang ingat dan tahu” ujarnya.

Rasanya yang khas membuat sate menara ini berbeda pada dengan sate-sate pada  umumnya. Bumbu khas Sunda menjadi bumbu rahasia sate menara ini. “Pembeda dengan sate lain selain dari piring tempat satenya kita gunakan piring bambu, dan bumbu rasanya yang khas, kan kita juga asli Sunda,” jelas Freddy yang saat itu sedang berjualan dengan kakaknya.

Meskipun demikian Fredy belum membuka cabang untuk sate menara ini. “Banyak yang bertanya mengenai cabang sate menara ini, sekarang lagi tahap pencarian tempat,” ujarnya. Banyak juga tanggapan positif dari pembeli setelah memakan sate menara ini. “Kalaupun sudah pernah mampir dan makan sate menara ini, hampir semua orang bilang enak semua sih,” jelasnya lagi.

Fredy juga menjelaskan pada pembakaran satenya juga tidak menggunakan arang, tapi menggunakan alat pemanggang. “Biar lebih bersih, kehigienisannya terjaga, kan kalau pake arang takutnya terkontaminasi kuman-kuman,” jelasnya. Fredy juga sering menerima pesanan dari luar, “paling jauhnya di daerah Melawi dan Sanggau, tapi tidak sampai pada luar Kalimantan,” tutup Fredy.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *