Home / Kolom / Pelestari Budaya di Perbatasan

Pelestari Budaya di Perbatasan

Ddedyedy Ari Asfar

Ananda Dawud yang baik, ayah ingin bercerita kepada ananda tentang kisah para penjaga budaya di batas negara. Para pengawal tradisi lokal yang tidak pernah meminta untuk dibayar. Penjaga budaya yang dengan ikhlas menginformasikan pengetahuan lokal kampung kepada generasi muda melalui udara. Ananda mungkin bertanya bagaimana bisa melalui udara? Ya, melalui siaran radio yang mengudara di Jagoi, yaitu sebuah daerah di perbatasan negara kita dengan Sarawak, Malaysia. Ayah berharap ananda dapat mengambil iktibar dari para penjaga budaya ini bahwa bekerja harus ikhlas dan sunguh-sungguh. Mereka inilah pahlawan tanpa tanda dan balas jasa dalam arti yang sesungguhnya. Bukan guru seperti ayah yang selalu disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, guru seperti ayah banyak mendapatkan imbalan jasa, tetapi mereka hanya dapat apresiasi dan respon dari para pendengarnya. Itu saja sudah cukup bagi mereka.

Ananda Dawud, langit di Jagoi memerah di ufuk barat ketika itu. Suasana mulai berganti perlahan menjadi petang. Di dalam sebuah gedung sayup-sayup terdengar seseorang berujar, “Selamat malam ditujukan kepada pendengar setia Barista FM di frekuensi 107 FM Megahertz dengan alamat Jalan Dwikora Dusun Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Baiklah Anda bersama saya Ce’ Mpunk dengan acara Kupoa Otto’. Ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari bahasa Bidayuh Jagoi yang diujarkan oleh salah satu penyiarnya yang bernama Ce’ Mpunk. Ayahanda terpukau dengan suara lembut dan lantang yang mengalir cepat dari mulut Ce’ Mpunk saat membuka acara Kupoa Otto’ dalam bahasa Bidayuh Jagoi. Ekspresi gembira dan bahagia begitu terpancar dari wajah oval dan rambut tipis ala tintin dari sosok penyiar lajang ini. Wajah yang sangat ekspresif dengan bahasa yang komunikatif mengalir dari pemuda asal Kampung Take’ ini demi pendengar setia Barista FM.

Ananda Dawud yang baik, Barista menjadi ikon penting radio yang ada di perbatasan Jagoi Babang, Kalimantan Barat—Sarawak, Malaysia. Jangkauan sinyal radio komunitas ini cukup jauh. Radio Barista terdengar di Seluas, Jagoi, dan Sarawak, Malaysia. Barista merupakan sebutan yang diambil dari akronim nama-nama kampung perbatasan, yaitu Babang, Risau, dan Take. Kampung-kampung ini merepresentasikan bahasa daerah yang menjadi ucap utama para penyiar stasiun Radio Barista. Radio ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dominan dipakai di wilayah perbatasan, yaitu bahasa Bakatik dan Bidayuh Jagoi.

Ananda Dawud, Radio Barista didirikan secara swadaya oleh masyarakat perbatasan yang ada di Kecamatan Jagoi Babang dengan pendampingan dan inisiatif dari mahasiswa KKN—PPM Universitas Tanjungpura pada tahun 2009. Peralatan dan tower yang ada di Barista merupakan sumbangan dari Kementerian Kominfo dengan memanfaatkan gedung serbaguna yang telah dibangun Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk masyarakat Kecamatan Jagoi Babang. Kemandirian Radio Barista ini pula yang menyebabkan para penyiarnya tidak dibayar setiap kali mengudara. Para penyiar secara sukarela menjadi teman di udara bagi masyarakat di perbatasan.

Ananda Dawud yang baik, koordinator pelaksana program acara Radio Barista adalah Bambang atau panggilan saat mengudaranya Bang Madun. Pekerjaan aslinya seorang satpam di perusahaan sawit. Penyiar senior di Barista ini mengemukakan bahwa tujuan didirikannya Radio Barista adalah agar radio komunitas yang ada di Jagoi Babang dapat dikenal oleh negara tetangga Malaysia. “Melalui radio komunitas ini diharapkan bahasa Indonesia dan daerah kita dapat dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat daerah perbatasan dan juga negara tetangga Malaysia,” ujar Bang Madun kepada ayah. Radio perbatasan menurut Bang Madun sangat diminati tidak saja pendengar Seluas dan Jagoi Babang tetapi juga sampai ke Serikin, Lundu, dan Bau, Sarawak, Malaysia. Pendengar Malaysia merasa radio ini juga radio mereka karena bahasa Jagoi yang digunakan dalam acara Kupoa Otto’ (kampung kita) setiap hari Rabu dan Jumat pukul 18.00—21.00 WIB memiliki bahasa yang sama dengan bahasa mereka di Malaysia. “Banyak SMS dari Malaysia salam-salam dan sapa-sapa keluarganya di Jagoi,” ujar Ce’ Mpunk penyiar Kupoa Otto’. Lebih lanjut Bang Madun bercerita bahwa “Radio ini menggunakan bahasa Bakatik dan Bidayuh Jagoi karena pendengar setianya orang-orang Bakatik dan Jagoi. Pendengar Malaysia pun suka karena bahasa Jagoi sama bahasa dengan mereka.” Radio Barista yang mengudara setiap malam di wilayah perbatasan ini menjadi kebanggaan masyarakat perbatasan dan menjadi ajang silaturahmi masyarakat negeri jiran dengan kerabat sesuku di Jagoi. “Tiap malam selalu saja ada pendengar Malaysia yang SMS untuk kabar-kabari dan salam kepada saudara mara di Indonesia,” cerita Bang Madun.

Ananda Dawud yang baik, konsep Radio Barista dalam bersiaran adalah membacakan SMS yang masuk dan memutarkan lagu yang diminta.  Pendengar Radio Barista pun segala umur, ada yang tua dan muda. Acara-acaranya berusaha untuk menghibur, mendidik, dan melestarikan budaya lokal. Menurut Nelly salah satu perempuan penyiar Barista, “Saya mempunyai banyak pendengar dari kalangan remaja dan orang-orang tua yang SMS. Mereka meminta lagu dan salam-salam.” “Dalam siaran, saya biasa menyelipkan pendidikan nilai dan pergaulan sehat di kalangan remaja,” jelas Nelly yang juga guru honorer Bahasa Inggris di salah satu SMP Jagoi Babang. Siaran tentang budaya lokal dan informasi seputar kampung juga menjadi fokus para penyiar Barista. Misal Bang Jahe’, seorang penoreh getah yang menjadi penyiar berbahasa Bakatik di Barista. Ia biasa menyiarkan legenda dan mitos lokal. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ce’ Mpunk yang kerap menyisipkan adat kampung dalam ujarannya saat mengudara selain membaca SMS dari pendengar. Mereka bangga menjadi penyiar Barista. Walaupun, mereka tidak mendapat honor atau bayaran sebagai penyiar. Mereka merupakan pamong-pamong budaya yang secara ikhlas dan sukarela mengabdi pada bangsa dan tanah air demi mempertahankan budaya lokal. Ayah sangat bangga dan terharu dengan kegigihan mereka. Ananda Dawud yang baik, saat ayah meninggalkan Barista langit sudah mulai diterangi kelap-kelip bintang dan bulan purnama. Ayahanda menjadi saksi para bintang dan purnama di Barista yang taklelah melestarikan tradisi lokal di batas negara.

Check Also

Bahasa Politik

Hari itu seorang kolega datang ke ruang saya dan menyampaikan gagasan besar. Ingin membuat buku. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *