Home / Opini / Pelestarian Kebudayaan Lokal: Reenkulturasi, Rekonstruksi, dan Redokumentasi Budaya Masyarakat

Pelestarian Kebudayaan Lokal: Reenkulturasi, Rekonstruksi, dan Redokumentasi Budaya Masyarakat

Oleh Dedy Ari Asfar

dedyPengantar
Berbudaya dan berkebudayaan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Di dunia modern sekarang ini, seseorang dikatakan berbudaya karena mampu memperlihatkan tata krama yang sopan dan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Di sisi lain, konsep berkebudayaan pada masyarakat diidentikkan dengan berbagai pola tingkah laku yang dikaitkan dengan kelompok etnik tertentu, seperti adat (custom) atau cara hidup masyarakat (Harris dalam Spradley 1997:5; lihat juga Keesing 1958) yang didalamnya terdapat artefak, alat, dan situs budaya tertentu yang digunakan. Oleh karena itu, masyarakat yang berbudaya selalu diidentikkan juga dengan masyarakat yang berkebudayaan, yaitu memiliki warisan kebudayaan etnik yang adi luhung.

Kebudayaan etnik menjadi lebih sangat penting lagi dewasa ini karena warna modernitas dan globalisasi mulai menggusur estetika etnik lokal—dengan menggantikannya pada kesenangan yang bersifat materialistis dan kapitalis. Tergusurnya kebudayaan lokal ini menyebabkan masyarakat etnik kehilangan identitas dan terganggu eksistensinya.

Pengaruh mondial yang melanda masyarakat membuat perubahan signifikan dalam pola hidup, ritual, dan tingkah laku masyarakat etnik. Hal ini terjadi juga pada masyarakat Dayak dan Melayu sebagai dua etnik lokal terbesar di Kalimantan Barat. Pengaruh mondial yang mengglobal ini membuat kebudayaan Dayak dan Melayu sudah mulai kurang dipraktikkan lagi sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat. Kita sangat tahu masyarakat Dayak dan Melayu itu kompleks, beragam, dan terdiri atas pelbagai dialek (lihat Hudson 1970; Collins 2001; Sujarni dkk 2008). Dalam epistemologi lokal bahasa orang Dayak dan Melayu itu dianggap banyak dan berbeda-beda. Oleh karena itu, keragaman bahasa dan tradisi lokal Dayak dan Melayu dengan cirinya masing-masing harus diberi perhatian. Bukankah kekayaan khazanah kearifan lokal Dayak dan Melayu masih banyak yang belum tergali dan terdokumentasikan? Tambahan pula, beberapa bahasa dan tradisi subsuku Dayak tersebut ada yang terancam punah atau pupus dari muka bumi Kalimantan (lihat Collins 2006).  Masyarakat Dayak dan Melayu juga menghadapi ancaman pupusnya rumah adat sebagai salah satu identitas kebudayaan Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat. Rumah Adat Betang Dayak sudah tidak dipakai lagi sebagai rumah pribadi oleh kebanyakan subsuku Dayak Kalimantan Barat—hanya satu atau dua yang tersisa.  Begitu pula dengan konsep rumah panggung Melayu, konstruksi rumah modern yang praktis lebih diminati dalam kehidupan sehari-hari orang Melayu.

Pola hidup modern yang menerpa masyarakat Dayak-Melayu menyebabkan kebudayaan dan orang Dayak-Melayu menjadi tarik-menarik dalam kancah kepentingan yang bersifat politis dan ekonomis oleh berbagai kelompok kepentingan. Tidak jarang masyarakat Dayak-Melayu dan kebudayaannya sengaja digiring untuk pergulatan politik dan tawar-menawar jabatan. Bahkan, pada bidang ekonomi, masyarakat diajarkan oleh para kapitalis untuk menggusur dan merusak tanah adat atas nama perkebunan dan penebangan hutan demi kepentingan pemilik modal.
Masyarakat Dayak-Melayu di kampung-kampung kurang menyadari kalau yang mereka lakukan dapat menghancurkan warisan budaya lokal leluhur. Mereka hanya termanfaatkan oleh para pemilik modal untuk mengeksploitasi kekayaan hutan dan adat tembawang. Padahal, mereka hanya memperoleh cukup makan dan minum untuk keperluan sehari-hari dari sang pemilik modal dalam mengeksploitasi sumber daya alam masyarakat adat tersebut.

Prinsipnya kebudayaan Dayak-Melayu harus diapresiasi secara positif dan dijunjung oleh masyarakatnya sebagai salah satu pegangan mereka dalam berinteraksi dengan budaya luar. Orang Dayak-Melayu harus mengikuti perkembangan teknologi dan budaya mondial dari luar tetapi dengan tidak mengabaikan dan memupuskan kebudayaan lokal. Hal ini merupakan jalan tengah yang harus dicipta dalam kehidupan masyarakat Dayak-Melayu dan institusi pendukungnya. Oleh karena itu, proses pewarisan budaya lokal harus berjalan dan dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan.

Usaha pewarisan budaya yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan merupakan upaya pelestarian yang dapat memegahkan kembali identitas budaya lokal Kalimantan Barat dalam perspektif modern. Untuk mewujudkan usaha pelestarian kebudayaan lokal ini setidaknya ada empat aspek penting yang harus dilakukan. Keempat aspek penting tersebut adalah (1) memperkuat kantung budaya lokal, (2) reenkulturasi budaya lokal, (3) rekonstruksi apresiasi masyarakat, dan (4) redokumentasi etnobotani masyarakat.

Memperkuat Kantung Budaya Lokal
Sejak reformasi dicetuskan pada tahun 1997, demokrasi di Indonesia mengalami perubahan yang sangat berarti. Sentralisasi kekuasaan berubah menjadi desentralisasi. Masyarakat diberi kebebasan dalam berpendapat dan menentukan arah tuju pembangunan di daerah masing-masing. Bahkan, kantung-kantung budaya lokal semakin banyak berkembang untuk melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat, baik komunitas Dayak maupun Melayu.

Kantung-kantung budaya lokal tersebut dipahami sebagai lembaga, institusi, dan perangkat adat yang dimiliki masyarakat Dayak dan Melayu.  Di Kalimantan Barat, beberapa kantung budaya lokal Dayak dan Melayu bergerak dengan cepat dalam usaha memberdayakan masyarakat di kampung-kampung. Usaha ini, harus diakui sudah berhasil mengembangkan ekonomi kerakyatan di kampung-kampung seperti yang dipelopori oleh Pancur Kasih melalui CU. Kantung-kantung budaya lokal masyarakat Dayak dan Melayu ini memiliki posisi penting dalam melestarikan kebudayaan dan mengarahkan kebudayaan pada sistem dan manajemen yang mapan dan terencana. Tidak sekadar dokumentasi, kantung-kantung budaya lokal harus menjadi pelopor dalam merekonstruksi apresiasi positif masyarakat terhadap budaya lokal.
Kantung-kantung budaya lokal ini memainkan peran strategis sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pemberdayaan dan keberlangsungan ekologi, masyarakat, dan budaya lokal Dayak-Melayu. Peran dan posisi ini harus terus dikukuhkan dalam berbagai aktivitas nyata dalam membuat budaya lokal dan ekologi masyarakatnya terjaga dan terdokumentasi dengan baik, misalnya dengan melakukan participation action research (PAR) dengan melibatkan masyarakat secara aktif untuk ikut berperanserta memecahkan masalah kebudayaan yang ada dalam komunitas mereka.

Selain itu, melalui kantung-kantung budaya lokal, harus terjalin juga kerja sama saling menguntungkan dengan semua pihak (symbiotic linkages). Kerja sama ini bukan hanya dengan pihak dan perangkat adat budaya Dayak dan Melayu melainkan juga menjalin kerja sama dengan perangkat adat budaya masyarakat lain, seperti Bugis, Jawa, Sunda, dan Madura, baik ditingkat elit modern (terpelajar) maupun tradisional (antarkampung).

Penguatan peran dan kerja sama antarlembaga adat, baik intraetnik maupun antaretnik akan memberi dampak positif dalam pengembangan budaya dan tradisi lokal yang lebih baik. Bahkan, lembaga adat modern, seperti Institut Dayakologi dan Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu perlu membuat semacam observasi kebudayaan Dayak diantara kebudayaan lain sekitar masyarakat, seperti etnik Melayu. Dengan demikian, dapat diketahui hubungan ekologi bahasa dan budaya lokal Dayak dengan Melayu yang hidup berdampingan secara damai dan harmonis—yang sudah berlangsung selama berabad-abad lampau hingga saat ini.

Reenkulturasi Budaya Lokal
Kebudayaan Dayak sangat dekat dengan tradisi niraksara atau keberlisanan (bandingkan Ong 1982; Havelock 1986). Keberlisanan masyarakat dan kebudayaan Dayak merupakan fakta-fakta yang harus direkonstruksi menjadi aura dan aktivitas positif dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, proses transfer dan pewarisan tradisi menjadi isu penting dalam melestarikan kebudayaan lokal. Upaya enkulturasi (pewarisan) budaya lokal dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat perlu dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Reenkulturasi budaya lokal ini harus melibatkan berbagai pihak dan para pemilik kepentingan (stakeholder). Hal ini dapat dilakukan oleh individu, komunitas, lembaga pemerintah, dan nonpemerintah (NGO) yang ada di Kalimantan Barat.

Sebagai salah satu pemilik sah kebudayaan Pulau Kalimantan, masyarakat Dayak dan Melayu harus dapat memikirkan secara matang pola pewarisan kembali atau reenkulturasi budaya lokal yang dimiliki dan hidup pada komunitas Dayak-Melayu Kalimantan Barat. Proses reenkulturasi budaya lokal ini harus dilakukan, baik secara tradisional maupun modern.
Secara tradisional, masyarakat Dayak dan Melayu harus menyenangi dan menghargai budaya lokal yang mereka miliki. Mereka harus mengamalkan budaya luhur nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengamalkan dan mempraktikkan budaya lokal dalam kehidupan harian—sesungguhnya proses reenkulturasi telah berjalan dengan sendirinya. Namun, usaha reenkulturasi dapat juga dilakukan secara perseorangan dan kelompok, seperti transfer tradisi dari orangtua kepada anak-anaknya, melalui tokoh adat kepada masyarakatnya, dan oleh para penutur tradisi lisan kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar komunitas tersebut. Selain itu, secara sederhana reenkulturasi budaya lokal juga dapat diperankan oleh individu-individu tertentu melalui pencatatan ke dalam potongan-potongan kertas tulis dengan pengetahuan lisan yang mereka miliki. Pencatatan yang telah dilakukan tersebut dapat dikumpulkan, kemudian diwariskan kepada generasi muda (anak dan cucu mereka).

Strategi pencatatan ini sudah dipraktikkan pada masyarakat Melayu di pedalaman Ketapang, tepatnya di kawasan kampung Melayu sekitar Sungai Laur bagian hilir. Terdapat aktivitas menyalin atau membuat syair pada potongan-potongan kertas tulis yang dilakukan oleh individu yang bisa menulis. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat disalin secara sederhana oleh penduduk kampung yang memiliki minat untuk menjaga keberlangsungan budaya masyarakat setempat berdasarkan pengetahuan yang dia miliki (lihat Dedy Ari Asfar 2005).

Secara modern, reenkulturasi budaya lokal dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi global. Pewarisan kembali tersebut dapat dilakukan dengan membuat rekaman terhadap semua budaya lokal yang dimiliki masyarakat Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, baik rekaman yang menggunakan tape recorder maupun rekaman visual dengan menggunakan handycam. Rekaman tradisi lokal yang telah dilakukan tersebut dapat disebarluaskan dengan memindahkannya ke dalam bentuk CD, DVD, MP3, MP4, dan sebagainya dalam jumlah yang banyak. Hal ini dapat dilakukan, baik secara komersial maupun nonkomersial demi kepentingan pewarisan dan penyebarluasan khazanah budaya lokal agar diketahui masyarakat umum dari kalangan Dayak dan Melayu.

Reenkulturasi budaya lokal juga dapat memanfaatkan teknologi informasi yang berbasis internet. Budaya lokal Dayak dapat di-online-kan dengan memanfaatkan teknologi maya yang tanpa batas (cyberspace). Dengan memasuki dunia maya yang takterbatas ini, tradisi lokal dapat dikenal dan diakses oleh berbagai kalangan, baik kalangan dalam negeri maupun mancanegara. Budaya lokal yang di-online-kan ini pun memuat materi yang tidak terbatas. Artinya, data budaya lokal yang di-online-kan tidak semata-mata data jadi dalam bentuk artikel, melainkan juga data-data mentah, seperti bahasa daerah, cerita rakyat, nyanyian rakyat, puisi tradisional, mantra, ritual/upacara adat, teka-teki tradisional, bentuk-bentuk permainan rakyat, makanan tradisional, dan lain-lain sehingga tercipta pangkalan data (database) budaya lokal Dayak dan Melayu Kalimantan Barat yang lengkap dan utuh. Data yang ditampilkan minimal terdiri atas dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan Indonesia. Apabila bisa ditambah dengan bahasa Inggris tentu akan berdampak baik. Dengan demikian, reenkulturasi budaya lokal dapat dinikmati dan dirujuk oleh masyarakat terpelajar Dayak dan Melayu di mana pun mereka berada.

Pemanfaatan dunia internet dalam mereenkulturasi kebudayaan Dayak dan Melayu tidak memakan biaya yang mahal. Banyak fasilitas gratis yang ditawarkan oleh server online dunia, seperti blogger, geocities, multyply, wordpress, dan sebagainya untuk menciptakan atau meng-online¬-kan tradisi Dayak menjadi salah satu kebudayaan dunia yang harus dijaga dan diketahui oleh seluruh masyarakat di Planet Bumi ini. Bahkan, server komersial pun tidak mematok biaya yang mahal untuk online. Dengan memiliki website berbayar dapat dibuat laman yang lebih bagus dan sesuai selera, misal dayak-melayu.com. Solusi pasti lainnya adalah meng-online-kan semua data ke dalam laman (homepage) pemerintah provinsi sehingga menjadikan laman tersebut sebagai pusat sumber informasi kedayakan dan kemelayuan yang dapat dijadikan rujukan paling utama di dunia.

Dunia tanpa batas sebagai akibat dari pengaruh mondial harus dimanfaatkan untuk dijadikan salah satu cara dalam mereenkulturasi kebudayaan Dayak dan Melayu. Oleh karena itu, intelektual Dayak dan Melayu harus menjadikan teknologi informasi sebagai sarana advokasi dan enkulturasi kebudayaan kepada generasi Dayak-Melayu yang sudah mulai asing dan kurang mengenal lagi budaya etnik mereka.

Rekonstruksi Apresiasi Masyarakat
Pewarisan kebudayaan Dayak-Melayu terkadang mengalami stagnan dan cenderung tidak melibatkan dan mengadvokasi masyarakat kampung itu sendiri. Biasanya, atas nama dokumentasi, peneliti kebudayaan Dayak dan Melayu cenderung berjalan sendiri dan tidak membuat pemilik kebudayaan itu merasa bertanggung jawab untuk menjaga sendiri budaya lokal yang mereka miliki. Walhasil, dengan pola dokumentasi individual peneliti—kebudayaan  lokal justru mati dan pupus dalam komunitas masyarakat adat karena penutur dan cerdik pandai tradisi lokal itu pun tutup usia (meninggal). Yang hidup dan tersisa hanya dokumen sang peneliti. Dokumen ini pun belum tentu dapat dijamin akan aman, langgeng, dan bertahan lama, bisa saja bencana alam melanda dan merusakkan data sang peneliti; bencana kebakaran yang membumihanguskan data; serta file-file dan dokumen yang rusak, usang, dan/atau tidak dapat didengar kembali rekaman hasil penelitiannya karena termakan usia dan lain hal. Akan tetapi, usaha begini bukan berarti tidak bermanfaat, ini hanya satu usaha pendokumentasian dan pelestarian budaya lokal yang bersifat akademik.

Strategi penting dalam mewariskan budaya lokal ini, selain dokumentasi melalui penelitian adalah dengan melakukan advokasi terhadap masyarakat pemilik tradisi tersebut. Masyarakat kampung harus dilibatkan, dibuka mata hati dan pikirannya agar menjaga dan mengamalkan budaya lokal dalam perikehidupan sehari-hari mereka. Artinya, partisipasi masyarakat lokal dalam preservasi dan reenkulturasi budaya mereka sendiri merupakan usaha signifikan yang harus dilakukan. Menumbuhkan dan menciptakan apresiasi positif masyarakat kampung terhadap budaya lokal mereka memang bukan persoalan mudah. Namun, usaha sistematis dan berkelanjutan harus dilakukan agar budaya lokal tidak pupus seiring dengan wafatnya para penutur tradisi lisan dan kencangnya terpaan globalisasi dalam kehidupan masyarakat kampung.
Satu hal yang pasti bahwa masyarakat kampung pernah suatu ketika dahulu menyenangi, mengalami, menyelami, dan mengamalkan budaya lokal dalam kehidupan mereka secara total. Oleh karena itu, perlu usaha untuk merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal yang pernah sangat digandrungi itu dengan cara kekinian.

Cara-cara sistematis, terencana, dan berkelanjutan yang harus dilakukakan adalah dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal, seperti (1) mengadakan perlombaan dan pertunjukan tradisi lokal masyarakat adat antarkampung secara periodik; (2) memberi penghargaan atau award kepada perseorangan, komunitas, dan kampung yang masih menjaga tradisi lokal serta mewariskan atau mengenkulturasi segala budaya lokal yang dimiliki kepada generasi muda mereka; (3) melatih pemuda-pemudi kampung sebagai penyalin budaya lokal dan agen konservasi kebudayaan Dayak-Melayu; (4) menjadikan kampung-kampung Dayak dan Melayu sebagai laboratorium kebudayaan lapangan untuk para peneliti dan peminat budaya lokal ; (5) menjadikan salah satu budaya lokal yang bersifat komunal sebagai libur lokal untuk segenap masyarakat Dayak dan Melayu di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, yang dapat diatur melalui peraturan pemerintah daerah Kalimantan Barat;  (6) membangun kembali rumah panjang atau adat betang Dayak pada setiap kampung Dayak di Kalimantan Barat sebagai pusat aktivitas seni, budaya, musyawarah, menenun, ritual adat, penginapan komersial, dan transfer atau pertunjukkan tradisi lisan ; (7) mengukir budaya lokal menjadi keberaksaraan dalam nada-nada narasi modern dalam jumlah yang relatif banyak; (8) menjadikan budaya lokal sebagai mata pelajaran muatan lokal yang utama ”dibangku” formal, terutama pada sekolah-sekolah berkomunitas Dayak dan Melayu; dan (9) menjalin kerja sama dengan pengusaha perhotelan untuk memberi tempat 1 malam bagi pertunjukkan budaya di lobi atau kafe hotel.

Merekonstruksi sembilan strategi dalam kehidupan masyarakat Dayak dan Melayu merupakan jaminan agar masyarakat mengapresiasi budaya lokal dengan baik sehingga tercipta kecintaan dan kegemaran terhadap kebudayaan lokal yang hidup dan berkembang di kampung mereka bak leluhur mereka dahulu. Bahkan, menjadikan mereka sendiri sebagai agen penjaga dan pelaksana budaya lokal tersebut. Oleh karena itu, apabila budaya lokal ini sudah digemari kembali dan memasyarakat di tataran akar rumput, selaras dengan teknologi modern yang ada, dengan sendirinya kesinambungan budaya lokal akan berlanjut dan terbentuk dalam masyarakat kampung. Dengan demikian, budaya dan ritual lokal akan mendapatkan penghargaan dan apresiasi positif dari masyarakat internal kampung dan luar kampung. Bahkan, masyarakat akan terus ”mementaskan” budaya lokal tersebut dalam denyut nadi kehidupan mereka.

Pada konteks ini jika kesembilan aspek apresiasi di atas terrekonstruksi dengan baik dalam kehidupan masyarakat kampung, akan terjadi ”hukum ekonomi”. Artinya, semakin sering dan banyak permintaan untuk terus mempraktikkan dan mengamalkan kebudayaan lokal maka akan semakin banyak pula kebudayaan lokal yang diamalkan dan dipraktikkan. Bahasa sederhananya, jika kebudayaan lokal itu masih disenangi dan dipraktikkan maka kebudayaan tersebut akan terus hidup dan berkembang dengan sendirinya. Malahan, kebudayaan lokal akan menjadi penyempurna nada-nada modernitas kebudayaan global. Oleh karena itu, pengembangan dan pembangunan kebudayaan Dayak harus berdasarkan partisipasi aktif masyarakat lokal (community-based).

Redokumentasi Etnobotani Masyarakat
Salah satu hal yang sangat penting (urgent) dalam pelestarian kebudayaan lokal di Kalimantan Barat adalah melakukan redokumentasi etnobotani terhadap semua masyarakat lokal, baik Melayu&sub-Melayu maupun Dayak&sub-Dayak. Hal ini mendesak dilakukan karena perkebunan sawit telah merajalela sehingga membuat ekologi alami masyarakat Dayak  dan Melayu menjadi hilang dan tergusur. Sistem pertanian lokal dan konservasi alam secara adat menjadi hilang. Budaya lokal dan kearifan adat perladangan dan kosakata daerah dalam bidang perladangan dan botani lenyap takterwariskan.

Hutan yang tergantikan perkebunan sawit berakibat pada pupusnya kosakata daerah tentang ikan, burung, binatang, buah-buahan, sayuran-sayuran, tanaman, dan berbagai jenis pepohonan yang berkembang di dalam hutan. Generasi muda sekarang sudah banyak tidak mengenal lagi segala jenis flora dan fauna yang hidup di hutan Kalimantan Barat. Hal ini merupakan konsekuensi logis sebagai akibat kebiasaan (custom) perladangan masyarakat Dayak yang tergantikan oleh pola pertanian sawit yang dianggap modern dan maju. Padahal, pola pengembangan perkebunan sawit telah mengeksploitasi hutan secara besar-besaran sehingga merusak hutan dan ekosistemnya.
Akibat dari sistem perkebunan sawit ini, masyarakat Dayak-Melayu kehilangan berbagai ekosistem hewan dan tumbuhan. Kearifan dan pengetahuan lokal yang mewarnai kehidupan mereka dalam ekosistem ini menjadi pupus dan takterselamatkan. Oleh karena itu, dengan membuat catatan-catatan etnobotani, kekayaan khazanah masyarakat dalam bidang perladangan, hutan, sungai, ikan, burung, melata, binatang-binatang lain, dan tumbuh-tumbuhan—dapat dicatat dan dipotret sebelum perkebunan-perkebunan baru membumihanguskan kosakata budaya tersebut.

Redokumentasi etnobotani pada masyarakat Dayak-Melayu di Kalimantan Barat akan berdampak pada pelestarian bahasa, budaya, dan ekologi alam sekitar masyarakat tradisional. Bahkan, melalui redokumentasi etnobotani ini akan menyumbang manfaat besar dalam pembuatan kamus besar bahasa Dayak-Melayu dalam bidang tumbuh-tumbuhan, binatang, dan ekosistem hutan lainnya. Dengan demikian, pelestarian khazanah dan mozaik Dayak-Melayu di Kalimantan Barat menjadi lengkap, utuh, dan komprehensif.

Pada masa mendatang kamus subsuku Dayak-Melayu yang telah dibuat dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi bahasa purba (proto language) masing-masing kelompok bahasa yang ada di Kalimantan Barat. Usaha ini dilakukan untuk melihat hubungan kekerabatan, pola migrasi, dan sejarah Dayak-Melayu yang direkonstruksi melalui ilmu bahasa.

Penutup
Sudah saatnya kebudayaan Dayak-Melayu dipikirkan dan direncanakan dengan pola-pola pikir modern dengan tanpa menghilangkan budaya lokal masyarakatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat dan menyolidkan kantung-kantung budaya lokal Dayak-Melayu yang ada di Kalimantan Barat. Institusi Kedayakan dan Kemelayuan harus menggerakkan institusi sampai ke akar rumput untuk pelestarian kebudayaan masyarakat Kalimantan Barat. Institusi Kedayakan dan Kemelayuan ini dapat memperkuat kerja sama yang dapat menciptakan harmonisasi antarelit dan akar rumput dalam membangun kebudayaan Kalimantan Barat. Institut Dayakologi, LBBT, MAD, Pancur Kasih, MABM, LAMS, dan sebagainya dapat menjalin komunikasi dan kerja sama formal dalam meletakkan asas-asas pembangunan masyarakat berbasis budaya. Usaha ini pun harus dimaksimalkan lagi dan diintensifkan pada usaha menjadikan masyarakat kampung sebagai ”elit dan peneliti” sekaligus ”peserta” yang diberdayakan.  Usaha pemberdayaan masyarakat lokal ini harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan.

Masyarakat Dayak-Melayu dan kebudayaannya harus diselamatkan dan diberi ”pentas” yang megah dalam kampung mereka sendiri, tidak hanya di perkotaan. Artinya, masyarakat kampung harus diberi tempat dan peran untuk menjaga dan mewariskan budaya lokal yang mereka miliki. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemberdayaan dan pelatihan penduduk kampung sebagai tenaga konservasi tradisi dan kebudayaan Dayak-Melayu harus segera dilakukan. Dalam konteks ini, masyarakat lokal harus dilibatkan, terlibat, dan berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebudayaan Dayak-Melayu Kalimantan Barat.

Masyarakat Dayak dan Melayu di kampung harus dapat mengapresiasi kebudayaan mereka secara positif dengan semangat dan kebanggaan karena identitas dan entitas mereka direpresentasikan dalam budaya lokal yang masih mereka amalkan tersebut. Oleh karena itu, kebudayaan Dayak harus diarahkan, tidak saja pada tahap dokumentasi kearifan dan pengetahuan lokal melainkan juga pada tahap pemberdayaan masyarakat lokal dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat kampung terhadap budaya mereka secara terencana dan berkelanjutan. Dengan demikian, kebudayaan Dayak-Melayu dapat dienkulturasikan secara alami dan tidak pupus dari tanah Kalimantan karena harus kehilangan para penutur budaya lokalnya yang sudah berusia tua sehingga banyak diantaranya meninggal dunia karena ”termakan” usia dan penyakit. Usaha ini akan menyelamatkan warisan luhur dunia di tanah Kalimantan Barat.

BIBLIOGRAFI
Collins, James T. 1999. Wibawa Bahasa: Kepiawaian dan Kepelbagaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Collins, James T. 2006. “Bahasa Daerah yang Terancam Punah: Tinjauan di Maluku dan Kalimantan”. Makalah dalam Seminar Pelestarian Bahasa Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa.
Dedy Ari Asfar. 2005. ”Unsur-Unsur Islam dalam Sastra Tradisional di Cupang Gading dan Sungai Laur Bagian Hilir”. Dalam Jurnal Khatulistiwa STAIN Pontianak, halaman 39–64.
Dedy Ari Asfar. 2007. “Gawai Dayak sebagai Refleksi Tamadun Lokal dan Nasional”. Dalam Yusriadi (ed). Opini dari Tribune, halaman 146—153. Pontianak: STAIN Press.
Havelock, Eric A. 1986. The Muse Learns to Write: Reflections on Orality and Literacy from Antiquity to The Present. New Haven: Yale University Press.
Hudson, A.B. 1970. A Note on Selako: Malayic Dayak and Land Dayak Languages in Western Borneo. Sarawak Museum Journal 18:301—318.
Keesing, Felix M. 1958. Cultural Anthropology: The Science of Custom. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Levistrauss, Claude. 2005. Mitos dan Makna: Membongkar Kode-Kode Budaya. Diterjemahkan oleh L.P. Hok. Serpong: Marjin Kiri.
Nico Andasputra, John Bamba, dan Edi Petebang (ed). 2001. Pelajaran dari Masyarakat Dayak: Gerakan Sosial & Resiliensi Ekologis di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.
Ong, Walter J. 1982. Orality and Literacy: The Technologizing of The World. New York: Methuen & Co.Ltd.
Paulus Florus, dkk. 2005. Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Pontianak: Institut Dayakologi.
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Sujarni Alloy, Albertus, dan Chatarina Pancer Istiyani. 2008. Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.
Teeuw, A. 1994. Indonesia: Antara Keberlisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka.

Check Also

Kuching: Kota yang Mengapresiasi Sungai

….Teach the gifted children, teach them to have mercy, Teach them about sunsets, teach them …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *