Home / Ekonomi / Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid

Oleh: Ismail Ruslan

Umat Islam sebagai penduduk mayoritas memiliki potensi ekonomi luar biasa. Namun potensi tersebut belum dikelola secara baik. Salah satu potensi umat yang belum diberdayakan adalah masjid—diharapkan sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi umat Islam.

Sejak tahun 2007 Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK Kalbar) mencatat telah berdiri 29 Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah (LKMS) / Baitul Maal Wa At Tamwil (BMT) di Kalimantan Barat, 7 diantaranya bersifat koordinatif dan berlokasi di masjid. Di antara 29 lembaga itu, 18 di antaranya berkedudukan di Kota Pontianak, termasuk 6 BMT juga berkoordinasi dan berada di masjid.

Pengelola masjid yang melakukan pemberdayaan ekonomi belumlah sebanding dengan jumlah masjid dan surau yang ada di Kota Pontianak. Jumlah  BMT yang berada di masjid yang ada yakni hanya 6. Untuk wilayah Kecamatan Pontianak Selatan dari 63 masjid hanya 3 masjid saja yang sudah memiliki BMT, sedangkan Kecamatan Pontianak Barat baru 2 buah dari 21 masjid yang ada, Kecamatan Pontianak Kota hanya 1 masjid yang sudah berdiri BMT. Ketiga kecamatan itu lebih mujur dibanding dua kecamatan lainnya, Pontianak Timur dengan 20 masjid dan  Utara 36 masjid belum memiliki BMT.

Pertumbuhan masjid dan surau di Kota Pontianak begitu pesat, ibarat jamur di musim hujan. Data Departemen Agama Kota Pontianak tahun 2008 menyebutkan masjid berjumlah 207 buah dan surau 336 buah. Namun jumlah tersebut tidak disertai dengan aktivitas yang maksimal dan bermanfaat lainnya bagi perkembangan ekonomi masyarakat muslim. Begitu pula dari sisi jumlah, masyarakat muslim di Kota Pontianak mayoritas, tentunya jumlah ini berpotensi untuk dilakukannya pemberdayaan, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam (termasuk dana umat Islam)

Masih ada pandangan masyarakat muslim, masjid hanya difahami dan diperkenalkan sebagai tempat kegiatan ibadah makhdoh saja (sujud), dan tidak untuk aktivitas ekonomi, sosial dan politik. Padahal dalam aspek sejarah, sejak zaman nabi hingga sahabat menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja tetapi juga digunakan sebagai tempat kajian ilmu pengetahuan, pembinaan umat Islam, pusat da’wah dan  perkembangan kebudayaan Islam. Masjid menjadi basis kebangkitan umat Islam termasuk pemberdayaan ekonomi umat.

Konsep Pemberdayaan

Pemberdayaan dipandang merupakan konsep ideal karena selalu mengedepankan iklim komunikatif, kondusif, dan iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang dan maju secara bersama-sama. Oleh karena itu pemberdayaan bukanlah merupakan upaya pemaksaan kehendak atau proses yang dipaksakan atau kegiatan yang diprakarsai dari pihak luar. Dengan pemberdayaan dapat berpengaruh terhadap terjadinya inisiatif dan respon, sehingga seluruh masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan cepat dan fleksibel (Pranarka dan Vidhyandika dalam Harry, 2006).

Pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Proses ini pada akhirnya akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat.  Sementara itu pemberdayaan meletakkan partisipasi aktif masyarakat ke dalam efektivitas, efisiensi, dan sikap kemandirian. Secara khusus, pemberdayaan dilaksanakan melalui kegiatan kerja sama dengan para sukarelawan, bukan bersumber dari pemerintah, tetapi dari LSM, termasuk organisasi dan pergerakan masyarakat (Harry, 2006).

Memberdayakan Masjid

Proses pemberdayaan idealnya juga dapat dilakukan di masjid-masjid, mengingat begitu besarnya aset yang dimiliki masjid salah satunya adalah dana ummat yang terkumpul baik dari zakat, infaq dan shadaqah setiap tahunnya serta dana lainnya.

Dalam perjalanan waktu, tumbuh dan berkembangnya lembaga perekonomian umat seperti LKMS / BMT merupakan indikasi telah terjadi perubahan paradigma masyarakat muslim Kota Pontianak dan sudah ada upaya reaktualisasi terhadap fungsi masjid. Artinya, masjid tidak lagi tabu untuk digunakan berbagai aktivitas lainnya termasuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Atas dasar itu, maka keberadaan masjid yang sudah memiliki BMT merupakan potensi yang mestinya terus dikembangkan ke arah pemberdayaan, dan penguatan ekonomi masyarakat muslim di Kota Pontianak.

Sedangkan bagi masjid-masjid yang belum melakukan pemberdayaan ekonomi,  maka pembinaan hendaknya dilakukan berbagai pihak, misalnya oleh Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK) Kalimantan Barat, pengelola masjid yang memiliki BMT dan yang tidak kalah pentingnya adalah kalangan stakeholder di Kota Pontianak serta kalangan perbankan.

Adapun pembinaan yang harus dilakukan pada aspek manajerial, meliputi kemampuan pengelolaan keuangan, perusahaan dan sumber daya manusia. Lebih lanjut, pembinaan dari sisi keuangan juga merupakan point yang tidak kalah pentingnya, sebab banyak masjid yang memiliki BMT tidak memiliki sisi keuangan yang optimal. Selama ini ”pemilik modal” lembaga masih didominasi oleh orang-perorang yang kemampuannya terbatas, akan lebih baik, jika lembaga keuangan seperti perbankan melakukan hal yang sama.

Jika semua aspek di atas terpenuhi, maka pemberdayaan di masjid akan lebih optimal dan tentunya akan mendorong percepatan pemberdayaan terhadap masyarakat di Kota Pontianak. Puncak dari itu semua adalah masyarakat akan lebih mandiri, memiliki keterampilan serta akan mampu berwirausaha dengan baik.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis masjid adalah sebuah konsep reaktualisasi peran masjid dari tafsir tekstual masyarakat selama ini. Mengikis habis kemiskinan di masyarakat bukan pekerjaan mudah, tetapi sekecil apapun tawaran untuk turut serta mambantu masyarakat bebas dari keterkungkungan kemiskinan merupakan pekerjaan mulia. Jika demikian adanya, maka pemberdayaan masjid akan sangat berarti jika saja mampu memberikan warna lain dari konsep pengentasan kemiskinan yang sudah ada selama ini.

Check Also

Festival Ekonomi Borneo Libatkan Siswa SMA/SMK

Oleh Sabhan Rasyid MABMonline.org, Pontianak— Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HMJ PIPS) FKIP …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *