Home / Ekonomi / Pentol Goreng, Peluang Usaha yang Menjanjikan

Pentol Goreng, Peluang Usaha yang Menjanjikan

oleh: Asna Sri Hartati

pentol gorengKetika matahari mulai menyembulkan sinar paginya, Indra Firmansyah (44), seorang penjual pentol goreng bersiap untuk berangkat dari rumahnya di Jalan Khatulistiwa,  Gang Teluk Keramat. Sebelumnya, ia menyiapkan segala keperluan untuk  menuju tempat berjualannya selama dua bulan terakhir: depan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Bahan baku juga peralatan berjualan sudah disiapkan istrinya di rumah saat Pak Indra melakukan pekerjaannya yang lain, sebagai buruh angkut di pasar sejak dini hari hingga pukul 7 pagi.

Meniti jalan Pontianak yang padat merayap tak membuat Indra lelah mengendarai motor yang juga ‘ditumpangi’ gerobak pentol goreng.  “Saya tinggal di Jalan Khatulistiwa, Gang Teluk Keramat. Saya baru 2 bulan jualan ini. Selain jualan, saya juga kerja jadi buruh angkut di pasar dari jam 3 sampai jam 7,” ucapnya, Sabtu (8/3).

Lapangan pekerjaan yang kini menuntut pelamar untuk memiliki pendidikan minimal diploma tak membuat Indra putus asa. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga, membuatnya selalu mencari peluang usaha dan menggali apa yang orang butuhkan dan menjadikannya peluang bisnis. Meskipun hanya lulusan SLTA, Indra berusaha membuka lapangan pekerjaannya sendiri dengan jeli membaca peluang serta kebutuhan masyarakat, satu di antaranya yang sedang naik daun yaitu peminat pentol goreng.

Memanfaatkan modal awal sebesar lima ratus ribu, Indra dapat meraup perghasilan perbulan mencapai empat juta rupiah. “Sekarang banyak yang kerja kayak gini, jualan pentol goreng, soalnya kalau bakso pasarannya lagi turun,” terang Indra.

Ketika ditemui, Indra sedang melayani pembeli dengan telaten dan terlihat sangat ramah. Pentol goreng yang dijual seharga seribu rupiah ini tentu sesuai dengan kantong mahasiswa. Ditambah lokasi berjualan yang menyasar segmen yang tepat, persis di depan Fakultas Kehutanan, dari Senin sampai Sabtu, pukul 10 hingga 6 sore. Dagangannya pun laris manis.

Jika dagangannya habis terjual, lembaran rupiah seratus lima puluh ribuan dapat diraupnya. Dagangan yang sering habis terjual membuatnya betah untuk berjualan di sana. “Saya jualan dari jam sepuluh sampai jam enam sore. Kadang habis, kadang tidak. Pertusuk 1000 rupiah,” ujarnya lagi.

Hasil penjualan yang didapatkannya, sebagian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagian untuk modal berjualan di hari berikutnya.

Memiliki usaha yang tidak memiliki lokasi tetap, membuatnya terkadang mendapat hambatan ketika hujan datang. “Kendalanya ya kalau hujan. Meski sudah ada payung, tak cukup untuk jadi tempat berteduh,” pungkasnya.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *