Home / Jurnalisme Warga / Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni

MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, Kalimantan Barat, yang terkenal dalam buah karyanya berupa novel yang ia beri judul “Memamah Jantungmu”. Anak kedua dari lima bersaudara ini lahir di Bakau, pada tanggal 25 Juni 1986. Dikalangan satu suku, ia biasa dipanggil dengan sebutan Kak Ngah, sedangkan dikalangam teman-temannya ia dipanggil dengan nama Hani.
“Nama lengkapku Rohani Syawaliah Listia Evita. Tapi, rasanya terlalu panjang, jadi ya…disingkat saja menjadi Rohani Syawaliah,” ujarnya seraya tertawa.
Wanita semampai,berkulit sawo matang ini bekerja sebagai penyiar radio di Volare FM ia tinggal bersama adik kecilnya, Fahd. Waktu yang ia miliki selalu ia sisihkan untuk adik kesayangannya itu. Hampir 24 jam dalam sehari mereka selalu bersama. Tidur dan bangun pasti bertemu.
Sejak kecil, wanita berjilbab ini tinggal bersama neneknya. Ia pernah mengenyam bangku SD di SDN 21 Bakau, Jawai. Setelah lulus, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Dungun Laut, Jawai. Setelah lulus SMP, setelah tamat, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Pemangkat, ia mengambil jurusan Bahasa, dan sekarang ia tercatat sebagai mahasiswa FKIP Untan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD, karena ingin menghasilkan karya seperti orang lainnya yang sering dibaca dari tabloid Bobo. Di bangku SMP ia mulai menulis kisah-kisah cinta seperti dalam komik Jepang. Di SMA ia juga mulai menulis puisi karena bacaannya tak hanya Bobo dan komik tapi majalah sastra seperti Horison dan novel-novel karya sastrawan terkenal.

Pada masa-masa kecilnya, sekitar umur 6 tahun. Ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit ia telah sampai ke sekolah. Setelah menginjak kelas 5 SD, ia dibelikan sebuah sepeda. Ia diminta agar segera belajar untuk mengendarai sepeda tersebut. Ia dipaksa untuk belajar mengendarai sepeda tersebut agar bisa berangkat ke sekolah dengan sepeda itu sehingga ia tidak berjalan kaki atau menumpang dengan teman lagi. Jarak antara sekolah dan rumahnya sekitar 15 kilometer. Dengan terpaksa ia belajar. Terjatuh dari sepeda sering ia rasakan dalam tahap belajar tersebut. Alhasil, badan luka-luka, biru lebam. Sampai akhirnya, guru agamanya yang memaksa ia untuk belajar mengendarai sepeda, dengan paksaan itu menjadikannya bisa.

Sebagai seorang manusia, ia juga pernah merasakan suka-duka kehidupan. Di kampungnya ia pernah bekerja sebagai penjaga warung milik keturunan warga tionghoa. Ia memiliki jiwa dagang yang besar. Sejak SD ia sudah berjualan. Waktu ia masih berumur 18 tahun. Pada permulaan bekerja, bos tidak mempercayainya untuk hal yang berhubungan dengan laci tempat menyimpan uang di warung itu. Ia juga memiliki fatner kerja dan dipereri kepercayaan penuh oleh bosnya. Ternyata orang yang dipercayakan sepenuhnya itu berkhianat. Ia mencuri uang milik si bos. Dari situ ia dapat menyimpulkan bahwa dalam berdagang modal terbesar adalah kejujuran.

“Sekali kita berbuat curang, akan membuat kita selamanya tak dipercayai oleh orang lain,” ujarnya.
Jiwa dagangnya timbul sejak ia masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ia sudah bisa mencari uang dengan menjajakan kue. Hingga saat inipun ia masih memiliki naluri berdagang yang hebat, salah satunya bisnis yang ia tekuni sekarang ialah bisnis oriflame.

Ia mengatakan bahwa inspirasi terbesar di dalam kehidupannya untuk menulis adalah dirinya sendiri. Ia juga menempatkan dirinya sebagai orang yang paling berpengaruh di dalam kehidupannya. Pada saat usianya menginjak 15 tahun, ia sudah hidup mandiri, terpisah dari keluarganya sehingga ia harus menggantungkan hidup pada dirinya sendiri.
Ia mengambil keputusan dan langkah apa pun untuk diri sendiri. Harus tanya pada diri sendiri. Jadi motivasi terbesar di dalam kehidupannya adalah membahagiakan dirinya sendiri. Ketika suasana hati sedang buruk, ia harus bisa mengubah moodnya saat itu.

Hani juga mempunyai cita-cita untuk kehidupannya yang belum ia capai sampai pada saat ini. Ia ingin segera menikah dan punya anak. Cita-cita dalam karir juga masih belum tercapai antara lain ia ingin novel perdananya belum menjadi best seller serta go international dan difilmkan.
Ia berpendapat bahwa setiap orang punya mimpi. Sebesar atau sekecil apa pun sebuah mimpi itu akan menjadi sebuah harapan yang baru untuk seseorang melanjutkan kehidupannya. Tanpa impian, apa indahnya coba hidup ini? Ia sendiri punya impian yang selalu dipupuk dan disirami setiap malam di dalam tidurnya. Ia memiliki impian menerbitkan sebuah buku. Buku hasil karyanya. Pastinya fiksi karena kesukaannya pada cerita. Sebagai seorang perempuan berdarah campuran termasuk di dalamnya Melayu ia termasuk orang yang suka bercerita.

Ada hal yang ia anggap paling menyedihkan di dalam hidupnya, yaitu ketika kakek kesayangannya meninggal dunia saat usianya menginjak 16 tahun. Di saat ia belum bisa membuktikan bahwa dirinya berhasil menggapai cita-cita, kakek tercinta telah meninggalkannya lebih dulu.
Hal yang dinilai paling membuatnya senang adalah pada saat bertemu orang yang kenal dengannya karena buku-bukunya. Buku pertama yang tidak pernah ia sangka bisa meraih penghargaan di Borneo Book Award pada Desember 2011 lalu.
“Siapa sangka seorang penulis biasa seperti saya bisa dihargai karyanya. Diakui oleh banyak orang. Itu kebahagiaan yang paling saya ingat hari ini,” katanya beberapa waktu lalu.

Wanita yang telah menghasilkan dua buah novel, puluhan cerpen, serta cerbung ratusan episode ini menjatuhkan pilihannya terhadap karya sastranya sendiri yang paling mengesankan baginya yaitu pada novel “Memamah Jantungmu”. Sebenarnya banyak lagi karya-karya lainnya, antara lain antologinya yang berjudul Dear Papa, surat untuk Jodohku, Tahu Bagaimana Rasanya, Terpana, Salah, Baby Says, Menari, Dance With My Father, Cemburu, Love The Way You Lie, dan Bimbang, Don’t Stop Me Now.

Dalam novel  “Memamah Jantungmu”, ia mengisahkan tentang petualangan perempuan yang ingin menyelamatkan penemuan ayahnya, yaitu vaksin HIV. Di novel ini ia ingin menyampaikan kepada orang-orang agar tidak mendiskriminasikan ODHA. Inspirasi ini ia dapat dari orang-orang yang terkena HIV yang dikucilkan oleh orang sekelilingnya.
Cerpennya yang berjudul Ayam Kampus berhasil memenangkan hadiah ke-dua. “Memang tidak berbentuk uang tapi saya tetap senang. Buku yang memuat karya saya tersebut dicetak dan disebarkan ke seluruh perpustakaan kampus di Indonesia,” katanya.

Kegiatannya menulis ini awalnya bertentangan dengan orang-orang sekitarnya, terutama ibunya. Tetapi, akhirnya ibunya lah yang mendukung ia dalam mengembangkan imajinasinya.
Novel “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhidin merupakan buku favoritnya yang banyak memberikan inspirasi untuknya menulis. Novel ini sangat ia senangi, meskipun terdapat novel lain yang juga menjadi inspirasi baginya. Di dalam novel ini ia menemukan keberanian seorang penulis untuk menuliskan sesuatu secara berbeda. Di sini ia dapat melihat bahwa karya sastra tak selamanya harus menceritakan yang indah-indah. Novel ini memberikannya pembelajaran dari luka tokoh.

Ia berharap untuk ke depannya ia dapat menghasilkan karya yang lebih banyak dan menjadi best seller dan yang paling utama ialah dapat bermanfaat bagi banyak orang. Banyak usaha yan ia tempuh untuk membuat karyanya dapat dikenal banyak orang. Ia sering mengikuti lomba menulis cerpen di beberapa tempat dan mengirim tulisannya ke surat kabar tapi belum pernah menang dan dimuat. Ia selalu menjadikan ketidakmenangannya itu sebagai sebuah motivasi agar dirinya bisa menulis lebih baik lagi.
Ia merupakan manusia yang selalu optimis dalam menangani hidupnya, terutama yang menyangkut tulisan-tulisannya. Ia begitu memgang prinsip hidup. Ia percaya bahwa selama bumi masih berputar kesempatan untuk menerbitkan tulisannya pasti masih ada.

“Saya sering membayangkan sedang duduk di depan meja dan melayani orang yang menyodorkan novel karya saya dan meminta tanda tangan. Seperti yang sering sastrawan lain lakukan.” kata Hani.
Filosofi hidupnya  yaitu “sejauh apapun kita melangkah, setinggi apapun kita berada, keluarga adalah pondasi yang membuat kita berada di sana.”

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *