Home / Jurnalisme Warga / Perjalanan Bryophyta Expedition Menuju Puncak Keliung 2

Perjalanan Bryophyta Expedition Menuju Puncak Keliung 2

MABMonline.org, Bengkayang—Sekitar sebulan lamanya setelah melakukan ekspedisi, presidium beserta Diklat BP  MAPALA UNTAN memutuskan tim untuk kembali melakukan ekspedisi pendakian Gunung Keliung ke Dawar. Keputusan ini didasarkan pertimbangan hasil ekspedisi sebelumnya. Tim memutuskan untuk melakukan ekspedisi pada tanggal 16-23 Februari 2013. Satu di antara anggota tim tidak dapat ikut serta dalam ekspedisi kali ini, yakni Bayu Saputro (19) dikarenakan kendala perizinan orangtua.

Sabtu pagi (16/2/13), sekitar pukul 6.00 WIB, tim Bryophyta Expedition telah bersiap-siap melakukan keberangkatan dari Pontianak ke Dawar, Bengkayang. Anggota tim yang berangkat berjumlah tujuh orang, yaitu Rio Afiat (20), Toni Hermawan (20), Pandi Sanjaya (20), Eko Suryadi (21), Resky Ananda Putra (19), Suprehatin (21) dan Teti Laila Adha (20) dengan satu mentor pendamping perjalanan, yakni Syarif Yulius Hadinata (22) yang akrab disapa Bang Yus.

Peserta Pendakian sedang menunggu bis.

Tepat pukul 6.20 WIB, bis yang ditunggu-tunggu tiba di halaman sekretariat MAPALA UNTAN. Bis jurusan Pontianak-Seluas berwarna biru singgah tepat di depan sekretariat MAPALA UNTAN. Tim Segera mengangkut carrier-carrier ke atas bis. Dengan semangat dan harapan akan keberhasilan, tim berdoa sebelum berangkat. Tanpa adanya upacara pelepasan, ketujuh anggota tim Bryophyta expedition disertai satu mentor perjalanan, segera menaiki bis diiringi lambaian tangan dan ucapan selamat jalan dari ketua dan para senior MAPALA UNTAN yang ada di sekretariat pagi itu.

Bis melaju pelan meni nggalkan halaman sekretariat menuju ke arah Imbon. Bis singgah beberapa kali di jalan untuk menjemput penumpang lainnya, cukup memakan waktu juga. Perjalanan ke Bengkayang memakan waktu ± 6 jam. Bis meluncur dengan lajunya melintasi jalanan kota Pontianak. Tiba-tiba saja terjadi insiden kecelakaan ketika menuruni jembatan Kapuas Pontianak. Kendaraan yang beralu lalang manjadi terhambat sementara waktu. Bis yang ditumpangi tim berhenti sejenak, sebagian anggota tim keluar bis melihat insiden kecelakaan yang terjadi.

Kemacetan lalu-lintas berhenti setelah banyaknya kendaraan yang membunyikan klaksonnya masing-masing. Penumpang bis yang ditumpangi segera masuk kembali ke dalam bis, namun seorang anggota tim, yakni Eko tidak ada di dalam bis. Ternyata tanpa disadari tim,  ia mengantarkan korban kecelakaan yang mengalami pendarahan di kepalanya ke rumah sakit terdekat. Lalu bis berhenti di tepi halte, tim menuggu Eko kembali dari rumah sakit.

Sekitar dua puluh menit, akhirnya ia muncul dan segera masuk ke dalam bis. Bis kembali melanjutkan perjalanan, melaju dengan kencang disertai alunan musik disko yang nyaring dan bising luar biasa.

Selama di perjalanan, tim asyik ngobrol sambil menikmati kuaci yang dibawa. Bis terus melaju dengan kencang melintasi aspal hitam jalanan kota. Beberapa jam kemudian, nampak anggota tim mulai ada yang tertidur, namun masih ada pula yang asyik melihat-lihat pemandangan sepanjang jalan. Beberapa kali bis singgah menjemput penumpang hingga tanpa terasa bis mulai sesak. Suasana di dalam bis berubah menjadi sangat gerah, benar-benar tidak nyaman bagi penumpang bis.

Siangnya, sekitar pukul satu siang, bis singgah di terminal Karangan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan menyesakkan dada. Istirahat selama ± 1 jam. Kemudian tim transit ke bis jurusan Dawar yang telah dipesan sebelumnya. Setelah cukup lama beristirahat, mesin bis jurusan Dawar mulai berbunyi menandakan bis akan berangkat. Tim segera memindahkan carrier-carrier ke atas bis jurusan Dawar, Kacang Indah. Bis penuh sesak dengan penumpang Dawar, sebagian anggota tim terpaksa harus naik duduk di atas bis.

Terpaan angin di atas bis cukup membuat nyaman mereka yang duduk di atas bis, namun harus rela berjemur di bawah sengatan matahari yang lumayan panas. Setelah seperempat perjalanan bis mulai lengang dengan penumpang, sebagian tim yang duduk di atas turun pindah masuk ke dalam bis dan menempati kursi-kursi bis yang kosong. Bis terus melaju dengan kencang sambil sesekali menurunkan dan menaikkan penumpang. Beberapa jam kemudian bis, memasuki persimpangan menuju Dawar-Seluas. Bis berbelok ke arah simpang menuju Dawar.

Jalanan sempit bebatuan terjal mulai dilintasi roda-roda bis. Jalanan penuh bebatuan kerikil terjal membuat badan penumpang bergoyang seiring tanjakan jalan yang dilewati. Benar-benar tidak nyaman. Ketika melewati desa Segiring, bulir-bulir hujan rintik mulai berjatuhan. Beberapa anggota tim masih bertahan duduk di atas bis. Beberapa menit kemudian curah hujan menjadi semakin deras, hingga memasuki desa Dawar. Mereka yang duduk di atas bis ciut juga terkena hujan, lalu turun masuk ke dalam bis.

Par peserta sedang melakukann Evaluasi.

Pukul 17.10 WIB, bis melintasi jalan raya Dawar. Dari kejauhan terlihat atap rumah Ampliatus Atta atau yang biasanya akrab dengan panggilan Pak Atta, anggota kehormatan MAPALA UNTAN. Tak lama kemudian bis pun singgah di depan halaman rumah Pak Atta. Tim segera bergegas turun sambil mengangkut carrier-carrier di bawah tetesan hujan yang belum kunjung reda. Tim melangkahkan kaki kembali di pondok pendaki disambut senyum ramah Pak Atta yang selalu setia menjadi tuan rumah bagi para pendaki seperti tim kami (tim Bryopyta Expedition).

Suasana keakraban kembali menghangatkan di setiap sudut ruang rumah Pak Atta. Hiruk-pikuk, celoteh dan guyonan kami mewarnai pondok sederhana milik Pak Atta. Setelah hidangan makan malam tersedia, kami pun makan malam bersama dengan lahapnya. Tepat pukul 20.00 WIB, kami mengadakan briefing dan evaluasi agenda kami pada hari ini.

Sekretaris membuka rapat, dilanjutkan ketua tim memimpin jalannya rapat. Tim mengevaluasi perjalanan menuju Dawar, lalu kami mengadakan briefing pendakian yang akan dimulai esok pagi. Tak lupa kami juga mengikutsertakan Pak Atta dan Bang Yus selaku mentor perjalanan dalam briefing dan evaluasi kinerja tim kami. Kami memilih Pak Atta sebagai serva pendakian kami besok. Setelah membicarakan hal-hal penting terkait pendakian besok, rapat segera kami tutup.

Rapat selesai, tim kemudian memeriksa dan membagi perlengkapan tim yang akan dibawa saat pendakian berlangsung. Setelah dirasa cukup lengkap dan beres, kami pun beristirahat untuk menyiapkan kondisi fisik agar tetap sehat pada pendakian besok pagi. Sekitar pukul 21.00 WIB, kami mulai beristirahat.

Nge-camp di Gua kurawak

Para Peserta bersiap untuk melakukan pendakian

Pagi Minggu ini (17/2/13), tim terlihat sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa pada pendakian yang tinggal beberapa menit lagi. Tak lupa tim sarapan pagi untuk mengisi energi tubuh sebelum pendakian tiba. Setelah semua perlengkapan beres, tim bersiap-siap melakukan pendakian menuju kawasan Cagar Alam Gunung Niut.

Pukul 6.00 WIB, kami sudah siap berangkat melakukan pendakian. Akan tetapi, langit terlihat mendung … awan putih menghiasi cakrawala di pagi ini. Gumpalan awan kelabu mulai menyelimuti puncak gunung yang terlihat dari beranda depan rumah Pak Atta yang mengindikasikan hujan mulai turun di lereng gunung. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur desa Dawar tercinta. Kami memutuskan untuk menunda perjalanan dikarenakan hujan.

Tim BE Mulai meyusuri Pendakian.

Sekitar satu jam lamanya kami harus menunggu hujan mereda. Tepat pukul 7.00 WIB, Pak Atta mengajak kami untuk turun melakukan pendakiaan. Hujan pun sudah mulai reda. Bismillah… kami pun memutuskan untuk memulai perjalanan ini. Kami segera memasangkan carrier kami masing-masing ke pundak kami. Kami menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah gunung dengan penuh semangat dan keceriaan. Pak Atta memimpin perjalanan di bagian depan selaku serva pendakian.

Beberapa warga desa menyapa kami dengan senyuman hangat, membangkitkan semangat kami untuk mencapai puncak Gunung Keliung yang sedang kami tuju. Kami sesekali ngobrol di perjalanan untuk mengusir kepenatan dan kebosanan yang kami rasakan. Kami melewati jalanan setapak yang becek karena hujan, sesekali beberapa di antara kami terpeleset dan terperosok sepatunya ke dalam kubangan air yang menggenang di jalan. Kami melewati kebun dan sawah milik penduduk.

Masyarakat Dawar lebih banyak berkebun sayur-mayur berupa buncis, jagung, terong, cabai dan lain-lainnya, ada pula kebun lada. Hamparan sawah yang padinya mulai menguning membentang di sepanjang jalan. Suasana Dawar begitu tenang dan nyaman sehingga kami tetap betah melakukan perjalanan ini. Beberapa kali kami menyeberangi jembatan yang dialiri sungai kecil dibawahnya. Airnya nampak jernih.

Tim BE singgah beristirahat di jembatan Sungai Dien.

Puncak-puncak gunung menjulang tinggi terlihat dari kejauhan seakan-akan mengelilingi tempat kami berpijak. Sesekali Toni melakukan mark pada GPS yang dibawanya untuk membuat rute pendakian kami di GPS. Tiba di sebuah jembatan kayu sungai Dien, kami singgah sebentar untuk melepaskan rasa lelah. Setelah cukup beristirahat, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki area rimba, dimana pacat mulai berseliweran di tanah dan dedaunan sepanjang jalan yang kami lewati.

Aroma khas hutan dan suara hewan hutan mulai menggrogoti indera penciuman dan pendengaran kami. Kami tetap tenang dan sabar melewati perjalanan ini. Pepohonan besar menjulang tinggi di sepanjang jalan setapak, ada juga tumbuhan duri atau rotan tumbuh di kawasan hutan yang kami lewati.

Kami terus berjalan melewati hutan belantara, hingga akhirnya kami harus melakukan penyeberangan sungai dengan berjalan meniti batang pohon besar yang tumbang. Batang itu dijadikan jembatan bagi setiap pejalan yang lewat.

Tim BE meniti batang pohon yang dijadikan jembatan penyeberangan.

Kami meniti jembatan dengan sangat hati-hati hingga sampai ke seberang sungai dengan selamat. Kaki-kaki kami terus berjalan melewat semak belukar, naik-turun meniti batang pohon, menyeberangi sungai dengan memijakkan kaki di bebatuan yang berlumut. Tak lama kemudian kami kembali melakukan penyeberangan sungai dengan memijakkan kaki secara hati-hati pada batu-batu besar yang berlumut.

Kami memijakkan kaki erat-erat agar tidak tergelincir di bebatuan sungai, lalu kami sampai di seberang sungai dengan selamat. Jam tangan menunjukkan pukul 10.30 WIB, kami memutuskan untuk malakukan Ishoma siang di tepi sungai. Setelah selesai beristirahat makan siang, kami melakukan perjalanan lagi. Kami berjalan menuju Camp 1 Niut, Gua Kurawak. Kembali kaki kami menerobos melewati setiap semak dan dedaunan sepanjang jalur pendakian.

Hujan deras mengguyur kami di perjalanan, namun tidak mematahkan semangat kami melakukan pendakian. Medan yang kami lalui lumayan terjal dengan banyaknya kemiringan (tebing) cukup menguras tenaga kami. Kami semua basah kuyup. Nampak beberapa anggota kami kelelahan. Sesekali kami berhenti, lalu lanjut mendaki. Kami saling berbagi terpal untuk berlindung dari hujan, walau tak semuanya kebagian terpal.

Sekitar tiga jam kemudian kami pun tiba di Camp 1 Niut, Gua Kurawak. Camp yang berupa ceruk batu besar seperti gua namun bukan juga gua. Ceruk batu ini menghadap ke arah sungai yang mengalir deras di bawahnya. Ceruk batu yang besar ini terlihat cukup unik, dengan kedalaman ceruk yang cukup luas bagi kami untuk istirahat di dalamnya. Langit-langit gua ceruk batu ini menjorok semakin merendah hingga menyentuh dasar gua. Terlihat di dalamnya bekas potongan-potongan kayu bakar milik orang yang pernah nge-camp disini sebelumnya.

Ada cerita horor tentang gua Kurawak yang kami tempati ini, dulunya orang desa pernah membawa potongan kepala manusia setelah perang suku untuk dicuci di sungai yang berhadapan dengan gua ini. Mereka tinggal disni sebulan lamanya tutur Pak Atta bercerita pada kami. Gua ini juga ada penghuninya berupa makhluk halus yang pernah mendatangi beliau dalam mimpinya ketika beliau nge-camp dulu kata Pak Atta menyampaikan ceritanya yang diceritakannya setelah kami pulang keluar dari area kawasan Niut. Beliau tidak menceritakannya ketika kami sedang nge-camp malam ini.

Makan malam di Gua Kurawak.

Di gua atau yang sebenarnya hanyalah ceruk batu ini, kami melakukan berbagai kesibukan; masak, ganti pakaian, sholat, istirahat serta evaluasi dan briefing. Terkadang kepala kami tanpa sadar membentur atau kesandung langit-langit gua yang miring lagi rendah posisinya. Kami menikmati udara malam hutan yang berhembus sejuk menyelimuti setiap jengkal kulit tubuh kami.

Malam harinya kami beristirahat dengan tenang di bawah naungan langit-langit Gua Kurawak. Walaupun terkadang kami harus menggigil kedinginan karena suhu udara dingin yang luar biasa menusuk sampai ke tulang. Tak lupa juga kami menjalankan tugas jaga malam bergiliran hingga pagi menjelang.

Merentas Badai Menuju Puncak Idaman

Di pagi yang cukup cerah (18/2/13), kami kembali bersiap-siap melanjutkan pendakian. Tepat pukul 7.45 WIB setelah semuanya benar-benar siap, kami memulai kembali pendakiaan menuju persimpangan Camp 2 lama Niut yang cukup angker menurut cerita Pak Atta. Setelah beberapa jam berlalu kami singgah beberapa saat di jalur yang kami lewati. Kami beristirahat sambil melakukan orientasi medan.

Kami kembali melanjutkan pendakian menyusuri jalur pendakian Niut setelah cukup lama beristirahat. Beberapa jam berlalu, tanpa terasa kami telah sampai di persimpangan menuju Camp 2 lama Niut. Kami berhenti melakukan orientasi medan (ormed). Berdasarkan hasil ormed yang telah kami lakukan, kami memutuskan untuk menuju Camp 2 lama Niut. Pak Atta pun bersedia membimbing kami ke Camp 2 lama Niut. Perjalanan menempuh jarak sekitar dua ratus meter. Tak lama kemudian kami sampai juga ke Camp 2 lama Niut.

Tim sedang meracik menu makan siang di Camp 2 lama Niut.

Tepat pukul 11.00 WIB, kami tiba di Camp 2 lama Niut. Kami memutuskan beristirahat makan siang di camp ini. Di camp ini kami juga melakukan ormed untuk memastikan titik koordinat yang kami capai. Kami kembali melanjutkan pendakian setelah istirahat makan siang. Kami menyusuri jalur yang kami buat sendiri berpanduan dengan GPS dan hasil ormed serta sesekali bantuan Pak Atta. Kami cukup kewalahan dalam pendakian ini dikarenakan medan jalur pendakian yang terjal, kami harus menuruni tebing  yang lumayan curam dan beresiko tinggi.

Tibalah kami di area ketinggian sekitar 1.280 mdpl, kami kembali melakukan ormed. Kami membidik kompas ke arah puncak gunung nun jauh di seberang puncak tempat kami berpijak saat ini. Pak Atta bilang bahwa itu puncak gunung Bentawak. Beliau juga mengatakan bahwa di balik gunung itu terdapat perkampungan, yakni desa Tawang. Kami memutuskan untuk mencapai puncak Gunung Bentawak setelah melakukan ormed. Kami menuruni tebing yang curam dan licin, lalu kami sampai di lembah gunung yang sepertinya kaki gunung Bentawak. Kami terus berjalan mencari tempat untuk nge-camp yang berdekatan dengan sumber air.

Tiba-tiba hujan deras mengguyur tubuh kami hingga kami basah kuyup lagi. Setelah cukup lama berjalan melewati berbagai rintangan semak belukar, akhirnya kami berhasil mencari tempat yang cukup nyaman untuk nge-camp. Kami nge-camp di area kaki gunung Bentawak. Walau hujan kami tetap bersemangat membuat bivak, mencari kayu bakar meskipun semua kayu rada basah, ada yang membuatkan minuman hangat dan lain-lain.

Pukul 15.30 WIB, bivak telah berdiri. Area yang kami tempati benar-benar lembab dan basah. Pak Atta cukup kewalahan membuat api pembakaran dikarenakan kayu-kayu bakar yang basah. Tanpa terasa cuaca mulai gelap menandakan malam tiba, kami mulai memasak hidangan makan malam. Setelah makan malam selesai, kami melakukan briefing dan evaluasi pendakian. Briefing selesai sekitar pukul 20.00 WIB, lalu kami beristirahat melepaskan kelelahan di setiap bagian tubuh kami. Seperti biasa, petugas jaga malam menjalankan tugasnya dengan cukup baik hingga esok pagi tiba. Kami pun mulai terlelap dalam buaian, sementara tetesan hujan masih tetap mengguyur di luar tenda.

Upacare di Bawah Badai Bentawak!

Hari Selasa, tepatnya pada tanggal 19 Februari 2013. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi kami. Hari dimana kami menemukan gunung sasaran kami. Kisah ini bermula di sini, di camp ini. Camp malam kedua, di tepi sungaikaki Gunung Bentawak.

Pagi ini, kami bangun tidur dan bersiap-siap lebih awal dari biasanya. Pukul 5.00 WIB pagi, kami sudah bangun. Suasana pagi tampak cerah, hujan telah berhenti sejak shubuh tadi. Setelah kami selesai sarapan, kami berbenah diri; membereskan perlengkapan, berganti pakaian lapangan, membongkar bivak, dan lain-lainnya.

Tim BE meregangkan otot tubuh, olahraga euy!

Kami juga meluangkan waktu untuk meregangkan otot-otot tubuh; kami berolahraga. Tepat pukul 7.43 WIB, kami memulai pendakian pagi ini. Kami menuju ke arah puncak Gunung Bentawak. Menurut Pak Atta, waktu tempuhnya sekitar dua jam.

Kami berjalan menuruni tebing di tepi sungai yang lumayan licin karena guyuran hujan tadi malam. Kami berhati-hati memijakkan kaki di bebatuan sungai untuk menyeberangi sungai. Sungainya kecil dengan aliran air yang jernih dan deras. Kami terus berjalan menuju ke arah puncak gunung, sesekali kami berbelok dan melewati batang pohon yang tumbang. Sesekali kami singgah sebentar di pertengahan jalur pendakian untuk ormed, memastikan letak titik koordinat puncak.

Kami melanjutkan perjalanan lagi, naik dan menuruni punggung gunung. Kami juga menyeberangi sungai kecil di lembah gunung. lalu kami terus mendaki ke atas gunung hingga kami bertemu dengan tebing tanah yang curam. Tali prusik berdiameter ± 1 cm dikeluarkan untuk pegangan ketika memanjat tebing. Alhamdulillah, semuanya selamat memanjat tebing curam itu.

Tepat pukul 9.43 WIB, kami telah tiba di puncak gunung dengan ketinggian sekitar 1300 mdpl. Kami memutuskan untuk masak makan siang sambil beristirahat sementara dikarenakan jauhnya sumber air. Kami juga berinisiatif membawa air menggunakan plastik packing dan dimasukkan ke dalam carrier. Kami kembali melakukan ormed untuk memastikan titik koordinat puncak Keliung.

Pukul 11.00 WIB, kami bersiap-siap kembali melanjutkan pendakian.  Kami kembali berjalan lurus ke arah atas puncak gunung, mendaki dan terus mendaki dengan penuh semangat. Hingga akhirnya Pak Atta mengajak kami berhenti di sebuah puncak yang menurut beliau itulah puncak tertingginya Gunung Bentawak. Kami pun beristirahat.

Tim BE makan siang dengan lahap di puncak Bentawak.

Satu jam berlalu, hidangan makan siang hampir siap saji, namun batang hidung Rio, Toni dan Resky belum muncul juga. Tak lama kemudian mereka muncul dengan senyum kegembiraan. Mereka mengabarkan bahwa terdapat puncak di area depan jalur pendakian. Kami pun makan siang bersama setelah hidangan siap saji. Kami makan dengan lahapnya, hidangan makan siang kali ini benar-benar enak di lidah dengan menu sarden, jamur mata rusa dan kentang.

Setelah selesai makan, kami segera bersiap-siap melanjutkan pendakian. Kami meninggalkan carrier-carrier di puncak ini. Kami kembali mendaki puncak tanpa membawa beban carrier kecuali perlengkapan ormed dan upacara yang kami bawa. Kami terus menyusuri jalur pendakian yang penuh semak belukar dan duri. Kami hampir saja ragu untuk melanjutkan pendakian ini, namun dengan semangat yang tersisa kami terus mendaki berpedoman dengan GPS.

Duri-duri rotan mengenai tubuh kami, tidak menciutkan kami untuk tetap mendaki. Kami terus berjalan sekitar satu jam, lalu kami menemukan sebuah puncak. Kami segera melakukan ormed untuk memastikan titik koordinat dan ketinggian puncak yang kami capai tersebut.

Upacara pengukuhan AB di puncak Keliung. KKeliung.

Alhamdulillah, ternyata tepat! Akhirnya kami berhasil menemukan puncak gunungsasaran kami, Keliung! Yakni di koordinat 8188.1360. Kami berhasil menemukan puncak dengan ketinggian 1510 mdpl yang kadang kala berubah menjadi 1511 dan 1512 mdpl di layar GPS. Kami gembira sekaligus bersyukur atas kerja keras yang telah kami capai. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami melakukan upacara pengukuhan menjadi anggota biasayang di pimpin oleh mentor kami satu-satunya, Bang Yus. Pak Atta mendokumentasi jalannya upacara. Kami juga tak luput mendokumentasi jalannya upacara yang sangat bersejarah dan berarti bagi kami ini.

Gumpalan awan berarak telah menyelimuti puncak Niut di arah Selatan puncak Keliung alias Bentawak. Awan bergumpalan mulai menyelimuti puncak Keliung yang mengindikasikan hujan akan segera turun. Kami tetap menjalankan upacara ketika bulir-bulir hujan layaknya badai yang deras turun mebasahi kami sehingga cukup mengganggu jalannya upacara. Suara Bang Yus membacakan nama-nama kami terdengar sayu-sayup samar di tengah hujan deras yang mulai turun. Kami semua basah kuyup. Inilah dia badai Bentawak!

Peralatan ormed di puncak Keliung.

Setelah upacara usai, kami segera menuruni puncak Keliung tanpa mendokumentasi momen di puncak lebih lama lagi. Kami berjalan cepat di bawah derasnya hujan yang mebasahi baju kami. Setengah jam kemudian kami tiba di puncak tempat kami makan siang. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuruni puncak gunung.

Pukul 16.40 WIB, kami menuruni puncak dengan cepat dan penuh lelah karena hujan turun dengan deras. Sekitar setengah jam, kami tiba di area kami beristirahat pagi tadi. kami segera mendirikan bivak. Kami basah kuyup lagi untuk kesekian kalinya. Kami mulai memasak untuk makan malam, mencari kayu bakar dan membuat tempat pembakaran serta lain-lainnya.

Malam tiba, kami makan malam dengan santai. Udara dingin menyelimuti setiap kulit tubuh kami. Setelah makan malam selesai kami melakukan briefing dan evaluasi seperti biasanya tepat pada pukul 20.05 WIB. Setelah diskusi panjang lebar dan cukup memakan waktu, akhirnya kami pun memutuskan untuk mendaki pulang ke Dawar. Kami merencanakan untuk mendaki turun hingga sampai ke Camp 1 Niut esok paginya. Sekitar pukul 21.00 WIB, briefing selesai. Kami segera beristirahat sambil tetap menjalankan tugas jaga malam bagi yang bertugas. Udara malam yang super dingin melelapkan mata kami terpejam dalam buaian. Kami pun tertidur.

Resky: “Aman, Aman … Aman !”

Resky tersenyum pucat, sesaat setelah jatuh tergelincir.

Pagi hari ini (20/2/13), tim bergerak agak lambat karena hujan yang terus mengguyur dari malam tadi. Tim seperti biasanya bersiap-siap kembali melanjutkan pendakian, kali ini menuruni lereng gunung. Dengan penuh semangat walaupun kondisi fisik tim terasa mulai melemah, tim menyusuri jalur pendakian turun. Kami kembali menuruni tebing terjal yang kami lewati tempo hari. Kami berpegangan dengan tali pengaman yang kami bawa, beberapa dari kami juga ada yang turun tanpa tali pengaman. Lima, enam orang dari kami telah menuruni tebing dengan selamat hingga tiba giliran Resky yang terakhir menuruni tebing. Tiba-tiba, ia terpeleset dari pijakannya, tali pengaman terlepas dari pegangannya. Ia meluncur sejauh ± 5 meter ke bawah tebing.

Teman-teman panik melihat kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba. “Aman-aman, aman-aman!” kata Resky sambil tersenyum pucat berusaha mencairkan kepanikan yang ada. Kami pun tertawa gembira dengan keselamatannya, alhamdulillah tidak terjadi cidera apa-apa. Kami pun kembali melanjutkan pendakian turun mengikuti jalur pendakian.

Kami terus berjalan naik-turun punggung gunung mengikuti jalur pendakian. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ketika kami menyeberangi anak sungai kecil. Walaupun guyuran hujan terus membasahi, kami tetap semangat berjalan menyusuri jalur pendakian. Sekitar pukul 12.05 WIB, kami memutuskan singgah di punggung lereng gunung untuk istirahat makan siang.    Kami beristirahat disini cukup lama karena menunggu hujan yang tak kunjung reda hingga pukul 13.55 WIB. Setelah selesai makan siang, kami segera membereskan perlengkapan ishoma siang. Lalu kami kembali melanjutkan perjalanan.

Kami terus berjalan melewati semak belukar, pepohonan dan dedaunan yang basah. Terkadang kami harus berjalan dalam kubangan air di sepanjang jalur pendakian turun, sepatu kami basah. Kami benar-benar basah kuyup dan menggigil kedinginan. Hingga tanpa terasa, kami telah tiba di Camp 1 Niut, Gua Kurawak. Alhamdulillah ….

Kami kembali nge-camp di gua ini. Malam harinya kami beristirahat melemaskan otot-otot tubuh yang sakit. Kondisi fisik kami tidak fit, otot-otot tubuh terasa sakit. Kami   terserang flu dan demam serta kelelahan. Kami pun mulai lelap tertidur di bawah naungan langit-langit Gua Kurawak hingga esok pagi tiba.

Pagi ini (21/2/13), kami bersiap-siap pulang menuju Dawar. Kami kembali berjalan menuruni lereng gunung. Terkadang kami melewati batang kayu dan menyeberangi sungai. Jalanan basah dan cukup licin. Dengan penuh semangat kami berjalan pulang menuju Dawar. Rasanya tidak sabar ingin segera beristirahat di rumah dan menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Sesekali kami bernyanyi, bercanda dan istirahat untuk menghilangkan keletihan.

Tim BE ngaso di tepi Sungai Tanggi.

Kami terus berjalan, lalu singgah istirahat sebentar di tepi sungai besar—Sungai Tanggi yang kami lewati. Setelah dirasa cukup nyaman untuk berjalan lagi, kami melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai itu. Kami berjalan sambil sesekali melompati bebatuan sungai yang besar dan licin. Dengan sangat hati-hati kami melewatinya. Lalu kami kembali berjalan.

Setelah terus berjalan menyusuri jalur pendakian, melewati lembah dan tebing, menyeberangi sungai, akhirnya kami tiba juga di persimpangan hutan menuju sawah warga Dawar. Kami melewati padi-padi yang telah menguning hingga tiba di jembatan aliran Sungai Dien tepat pukul 12.00 WIB siang.

Lega sudah rasanya keluar dari hutan. Bebas dari serangan pacat-pacat penghisap darah. Kami beristirahat makan siang disini. Kondisi fisik beberapa anggota tim nampak lemah karena demam. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan setelah perlengkapan beres dan carrier siap di pundak. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju perkampungan Dawar.

Tiba-tiba, Pak Atta mengajak kami berbelok ke ladang milik sepasang suami-istri yang masih keponakan beliau. Kami pun masuk ke ladang. Pak Atta menyuruh kami memetik cabai mereka setelah meminta izin terlebih dahulu pada pemilik ladang. Kami panen di ladang milik ibu-bapak tersebut. Mereka baik dan ramah. Mereka menawarkan terong, kucai dan daun bawang milik mereka. Kami asyik memanen sayuran, setelah dirasa cukup kami berpamitan dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada pemilik ladang. Kami kembali melanjutkan perjalanan melewati sawah dan ladang milik warga Dawar.New Picture (18)

Beberapa menit kemudian, Pak Atta mengajak kami singgah kembali di kebun cempedak milik seorang warga Dawar yang juga masih kerabat beliau. Kami panen cempedak di kebun itu. Kami semua menikmati cempedak hasil kebun di pinggir jalan. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Panasnya terik sinar matahari tak menjadi halangan bagi kami. Kami menyusuri jalan sambil ngobrol bersama. Sesekali kami bercanda dan tertawa ria bersama. Kami terus berjalan menyusuri jalanan becek dan licin yang terkadang menggelincirkan kaki.

Tiba-tiba langit berubah mendung, pertanda hujan akan turun. Tak lama kemudian hujan kembali turun mengguyur bumi Dawar dan para anggota tim yang sedang berjalan pulang memasuki Dawar. Kami mempercepat langkah kami agar segera sampai di rumah yang masih cukup jauh jaraknya. Hujan turun semakin deras, kami benar-benar basah kuyup.

Beberapa menit berlalu, akhirnya kami memasuki perkampungan Dawar. Kami semakin mempercepat langkah kaki hingga tiba di pintu belakang rumah Pak Atta tepat pada pukul 15.00 WIB. Kami segera berbenah diri; bersiap-siap mandi untuk membersihkan badan yang kotor dan bau. Kami semua bergiliran mandi di kamar mandi Pak Atta, kami rela saling tunggu-menunggu.

Malam harinya kami nonton TV bersama. Ketika hampir larut malam, beberapa anggota tim sudah mulai tertidur kelelahan. Kami beristirahat total malam ini tanpa ada evaluasi dan briefing. Kami pun mulai terlelap tidur hingga pagi esok menjelang ….

Refreshing on The Field

Pagi ini (22/2/13), kami akan pergi ke kebun Pak Atta. Setelah semuanya siap, kami berangkat ke kebun menyusul Pak Atta yang telah duluan pergi ke kebun. Kami melewati jalan raya Dawar, sesekali kami menyapa beberapa warga desa yang kami jumpai di jalan. Pagi ini matahari bersinar cerah secerah harapan kami akan keberhasilan setelah menggapai puncak Keliung.

Kebun milik Pak Atta sangat luas. Berbagai macam tanaman tumbuh di kebun Pak Atta. Ada lada, kemiri, langsat, pisang, temulawak dan masih banyak lagi. Kolam luas membentang di tengah-tengah kebun ini. Kolam ini tempat berkembang biaknya ikan dan kepah juga udang. Terdapat pula pondok untuk beristirahat yang letaknya tak jauh dari kolam.

Um, yummi! Makan bareng satu nampan beralaskan daun pisang.
Um, yummi! Makan bareng satu nampan beralaskan daun pisang.

Sesampainya di kebun, kami melihat Pak Atta duduk menunggu ditemani kucing penjaga pondok kebunnya sambil menanak nasi. Lalu kami duduk santai di pondok menikmati buah pisang hasil panen kebun beliau. Setelah itu, kami membuat pancing untuk memancing ikan di kolam milik Pak Atta. Kami begitu antusias memancing ikan, mudah sekali untuk mendapatkan ikan di kolam. Ada juga beberapa diantara kami yang menangkap kepah di kolam. Setelah cukup banyak, ikan dibersihkan untuk dimasak; disayur dan dibakar. Kami juga memasak sayur daun ubi serta pepes kepah.

Terik matahari semakin panas menandakan hari telah siang. Tak lama kemudian makanan telah siap saji, kami makan siang bersama dengan beralaskan daun pisang dalam satu nampan. Setelah selesai makan kami ngaso di pondok serta melakukan berbagai aktivitas; ada yang berjalan-jalan di area kebun Pak Atta untuk memanen langsat, ada juga yang mancing lagi, baca buku dan lainnya. Suasana di kebun sangat menyenangkan; pemandangan yang indah lagi teduh.

Awan putih bergumpalan di angkasa disertai hembusan angin yang berhembus lembut mengindikasikan akan turunnya hujan. Kami teringat dengan jemuran pakaian, carrier, dan perlengkapan lainnya yang ada di jemuran. Lalu Rio dan Toni berinisiatif pulang lebih dulu ke rumah untuk mengangkat jemuran agar tidak tertimpa hujan. Mereka pun pulang duluan, sementara kami yang lain juga bersiap-siap akan pulang.

Suasana E & B malam terakhir di Pondok Pendaki.
Suasana E & B malam terakhir di Pondok Pendaki.

Ketika petang tiba, humas dan ketua tim berkunjung ke rumah Pak Kades untuk memberitahukan kepulangan kami besok pagi. Selain itu, mereka juga menghubungi sopir bis untuk kepulangan besok. Malamnya, kami makan malam bersama seperti biasa. Setelah makan malam usai, kami melakukan evaluasi dan briefing (E&B) tepat pada pukul 20.00 WIB malam. Kami mengevaluasi agenda kami pada hari Kamis dan Jumat serta briefing kepulangan pada Sabtu besok pagi.

Pukul 21.00 WIB, kami selesai melakukan E&B. Setelah itu, kami sempat melakukan diskusi ringan untuk menentukan nama angkatan kami sambil membereskan perlengkapan pendakian. Lalu kami lalu nonton TV bersama dengan santai sambil menikmati gorengan buah sukun hingga hampir larut malam. Satu per satu anggota tim mulai tidur. Kami semua pun akhirnya terlelap tidur ketika rasa kantuk telah menyerang.

Kami Harus Balek ke Ponti, Selamat Tinggal Dawar!

Tim dan Pak Atta sesaat sebelum keberangkatan. pulang.
Tim dan Pak Atta sesaat sebelum keberangkatan. pulang.

Alarm handphone berdering beberapa kali, namun kami masih enggan  bangun pagi (23/2/13). Tak lama kemudian, Teti bangun pagi menunaikan sholat shubuh. Setengah jam kemudian Pandi bangun, ia segera mandi pagi. Atin juga bangun menunaikan sholat shubuh, disusul Rio, Toni, Resky dan Eko. Hingga menjelang pukul 5.30 WIB kami telah bangun semua.

Kami sibuk berbenah diri; ada yang mandi, memeriksa perlengkapan, memasak sarapan pagi dan lain-lain.Kami lalu sarapan pagi bersama. Setelah usai, kami mebereskan rumah Pak Atta; ada yang menyapu dan mengelap lantai ruangan rumah dan membuang sampah yang telah menggunung di sudut dapur Pak Atta. Setelah itu kami mengeluarkan carrier-carrier kami  yang telah diperiksa kelengkapannya ke halaman depan rumah Pak Atta. Kami bersiap-siap pulang!

Tepat pukul 7.25 WIB, bis Sinar Niut yang ditunggu-tunggu tiba di depan rumah Pak Atta. Kami segera menaikkan carrier-carrier kami ke atas bis. Lalu kami berpamitan dengan Pak Atta tercinta. Kami mengucapkan ucapan terima kasih kepada beliau yang telah banyak membantu kami selama ekspedisi ini. Tak lupa kami berfoto bersama beliau untuk mengabadikan momen ini.

Tim dan Pak Atta sesaat sebelum keberangkatan. pulang.
Tim dan Pak Atta sesaat sebelum keberangkatan. pulang.

Kemudian kami naik ke dalam bis. Bis berangkat meninggalkan pondok pendaki dengan lambaian tangan Pak Atta. Bis mulai menuruni jalanan Dawar yang terjal. Kami melewati rumah-rumah perkampungan Dawar. Rasa haru menyelimuti relung hati kami, kami harus pulang ke Pontianak meninggalkan Dawar dengan sejuta kenangan indah disana. Jika ada kesempatan insya Allah kami pasti akan kembali lagi tentunya!

Bis terus melaju kencang melewati persawahan dan perkebunan di sepanjang jalanan desa. Tubuh kami terguncang berkali-kali karena hempasan jalanan yang penuh dengan bebatuan terjal, tidak rata dan becek. Beberapa jam berlalu hingga akhirnya kami singgah di pemberhentian Sanggau Ledo. Tampak disana sopir bus Pontianak-Seluas yang kami tumpangi sebelumya telah menuggu kami. Kami pun turun dari bis lalu pindah ke bis biru itu.

Bis lalu berjalan dengan kelajuan sedang. Kami menikmati perjalanan dengan obrolan, tiduran, dan lain-lain. Bis terus melaju dengan kecepatan tetap, melewati jalanan aspal hitam. Sekitar pukul 12.00 WIB, bis singgah di pesimpangan suatu daerah yang bernama Banyuke.Penumpang berhenti turun dari bis untuk pergi ke WC umum yang tersedia. Beberapa dari kami turun dari bis untuk menghirup udara segar, mengusir hawa panas di dalam bis. Bis singgah di tempat ini cukup lama hingga memakan waktu ± 45 menit lamanya.

Tim makan siang di rumah makan tempat pemberhentian bis.
Tim makan siang di rumah makan tempat pemberhentian bis.

Sopir bis menghidupkan kembali mesin bis menandakan bis akan berjalan lagi. Kami segera duduk ke dalam bis. Bis pun meluncur melewati jalanan kota Bengkayang yang tidak terlalu padat kendaraan berlalu-lalang. Sekitar pukul 15.00 WIB, bis singgah di warung makan area Anjungan untuk beristirahat makan siang. Kami juga turun untuk makan siang di warung tersebut. Kami makan siang bersama dengan tenang.

Setelah selesai makan kami kembali masuk ke dalam bis yang kami tumpangi dan bis kembali berjalan. Kami kembali duduk santai di kursi bis sambil menikmati pemandangan di luar bis hingga tanpa terasa kami telah memasuki area Pontianak. Akhirnya setelah melewati bundaran Untan, bis masuk ke halaman sekretariat MAPALA UNTAN sekitar pukul 16.45 WIB.

Para senior seperti biasa duduk berjejer di kursi beranda depan menyambut kedatangan kami. Kami pun segera turun dari bis. Carrier-carrier segera diturunkan dari atas bis. Kami menyalami para senior lalu ikut duduk bergabung di beranda depan sekretariat. Setelah cukup melepas lelah perjalanan, kami kembali beristirahat di kediaman masing-masing. Perjalanan ini sangat berarti bagi kami. Banyak hal yang kami dapatkan; pengalaman maupun pengetahuan yang kelak menjadi bekal hidup bagi kami. Terima kasih Dawar.

Lega sudah rasanya keluar dari hutan. Bebas dari serangan pacat-pacat penghisap darah. Kami beristirahat makan siang disini. Kondisi fisik beberapa anggota tim nampak lemah karena demam. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan setelah perlengkapan beres dan carrier siap di pundak. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju perkampungan Dawar.

Tiba-tiba, Pak Atta mengajak kami berbelok ke ladang milik sepasang suami-istri yang masih keponakan beliau. Kami pun masuk ke ladang. Pak Atta menyuruh kami memetik cabai mereka setelah meminta izin terlebih dahulu pada pemilik ladang. Kami panen di ladang milik ibu-bapak tersebut. Mereka baik dan ramah. Mereka menawarkan terong, kucai dan daun bawang milik mereka. Kami asyik memanen sayuran, setelah dirasa cukup kami berpamitan dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada pemilik ladang. Kami kembali melanjutkan perjalanan melewati sawah dan ladang milik warga Dawar.

Tim foto bareng dengan pemilik ladang.

Beberapa menit kemudian, Pak Atta mengajak kami singgah kembali di kebun cempedak milik seorang warga Dawar yang juga masih kerabat beliau. Kami panen cempedak di kebun itu. Kami semua menikmati cempedak hasil kebun di pinggir jalan. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Panasnya terik sinar matahari tak menjadi halangan bagi kami. Kami menyusuri jalan sambil ngobrol bersama. Sesekali kami bercanda dan tertawa ria bersama. Kami terus berjalan menyusuri jalanan becek dan licin yang terkadang menggelincirkan kaki.

Tiba-tiba langit berubah mendung, pertanda hujan akan turun. Tak lama kemudian hujan kembali turun mengguyur bumi Dawar dan para anggota tim yang sedang berjalan pulang memasuki Dawar. Kami mempercepat langkah kami agar segera sampai di rumah yang masih cukup jauh jaraknya. Hujan turun semakin deras, kami benar-benar basah kuyup.

Beberapa menit berlalu, akhirnya kami memasuki perkampungan Dawar. Kami semakin mempercepat langkah kaki hingga tiba di pintu belakang rumah Pak Atta tepat pada pukul 15.00 WIB. Kami segera berbenah diri; bersiap-siap mandi untuk membersihkan badan yang kotor dan bau. Kami semua bergiliran mandi di kamar mandi Pak Atta, kami rela saling tunggu-menunggu.

Malam harinya kami nonton TV bersama. Ketika hampir larut malam, beberapa anggota tim sudah mulai tertidur kelelahan. Kami beristirahat total malam ini tanpa ada evaluasi dan briefing. Kami pun mulai terlelap tidur hingga pagi esok menjelang ….

Refreshing on The Field

Pagi ini (22/2/13), kami akan pergi ke kebun Pak Atta. Setelah semuanya siap, kami berangkat ke kebun menyusul Pak Atta yang telah duluan pergi ke kebun. Kami melewati jalan raya Dawar, sesekali kami menyapa beberapa warga desa yang kami jumpai di jalan. Pagi ini matahari bersinar cerah secerah harapan kami akan keberhasilan setelah menggapai puncak Keliung.

Kebun milik Pak Atta sangat luas. Berbagai macam tanaman tumbuh di kebun Pak Atta. Ada lada, kemiri, langsat, pisang, temulawak dan masih banyak lagi. Kolam luas membentang di tengah-tengah kebun ini. Kolam ini tempat berkembang biaknya ikan dan kepah juga udang. Terdapat pula pondok untuk beristirahat yang letaknya tak jauh dari kolam.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *